
Begitulah barisan pertanyaan yang terlontar para awak media yang sudah berhasil mendobrak pintu ruang kamar tersebut.
“Keluar!!!” tegas Devand namun dengan nada dan sikap dinginnya tanpa melepas pelukan erat pada Mauren.
Beberapa menit berlalu keadaan masih sama seperti semula, Devand tidak bisa bertindak karna ingin melindungi tubuh wanita yang berada di bawahnya agar tidak terekspose.
“Tuan Lidant” pekik dua pengawal yang baru saja datang ke dalam ruang kamar tersebut.
Kedua pengawalpun segera menyeret para awak media menjauh dari ruang tersebut.
Akhirnya pintu kamar tersebut kembali tertutup rapat dan hanya menampakan Mauren dan Devand di dalamnya. Mauren yang saat itu masih mengalami keterkejutan hanya terdiam dengan wajah yang memucat.
Devand segera melepas tubuhnya yang menindih tubuh Mauren, ia segera beranjak menuju kamar mandi.
Mauren hanya terdiam dengan tubuh yang di tekuk, wajahnya di sembunyikannya di balik lututnya, air matanya mengalir dengan derasnya memikul luka di dalam hatinya.
Kini seorang lelaki dan wanita datang bersamaan ke dalam ruang tersebut.
“Nona apa yang terjadi?” Tanya Nicky seorang lelaki yang sudah masuk sebelumnya ke dalam ruang tersebut.
__ADS_1
Jessy seorang wanita yang sudah masuk bersama Nicky melihat Mauren yang tengah menangis terisak tanpa pakaian luar, segera meraih tubuh Mauren lalu membalutnya dengan selimut yang terdapat di atas ranjang tersebut.
Belum terjawab pertanyaan Nicky, Devand sudah keluar dari kamar mandinya dengan tubuh yang sudah terbalut pakaian rapihnya.
“Di mana Sisca?” Tanya Devand ketika melihat tidak ada wanita yang di nantinya di sekitarnya.
“Maaf sir Kami kehilangan jejaknya” Nicky menunduk khawatir atasannya akan memarahinya.
Devand meremas rambutnya karna frustasi.
“Jeslyn kamu urus cewe ini, Nicky kamu pergi antar saya” perintah Devand yang tidak mungkin menerima penolakan.
Seperginya Devand meninggalkan Mauren dan sekertarisnya. Seseorang nampak datang untuk mengunjungi Mauren.
Jesly yang saat itu masih mengkhawatirkan keadaan Mauren, ia membantu Mauren menyambut kedatangan seorang lelaki cantik yang menyerahkan pakaian untuk Mauren.
Lelaki cantik inilah yang sudah berbincang dengan Sisca sebelumnya, Sisca rupanya menepati janjinya untuk menyerahkan sebuah pakaian untuk Mauren karna sudah mendapati kemenangannya dalam menjalankan sebuah rencana untuk menjebak Devand.
***
__ADS_1
Devand sudah duduk manis di ruang tamu yang terdapat di rumah mewahnya di temani Nicky asistant pribadinya.
“Sir anda harus segera ke rumah sakit untuk mendapat obat penawarnya” Nicky mencoba membujuk atasannya.
“Obat perangsang ini ga terlalu menyengat, aku masih bisa menahannya selama ga ada cewe di dekatku” jelas Devand, meski mengatakan demikian, tubuhnya masih melemah menginginkan sentuhan.
“Maaf sir saya hanya khawatir” Nicky kembali menunduk.
“Cari tau siapa wanita di kamar itu, kenapa harus menjebakku?” Ketus Devand yang di akhiri menghisap sepuntung rokok yang menyala di sela jepitan jari tengah dan telunjuk tangan kanannya.
“Sir, saya rasa bukan dia yang menjebak anda” Nicky mencoba memberikan pengertian.
“Cari buktinya dulu baru kamu bisa menyangkal” tegas Devand yang bersifat rasional tidak akan mempercayai sesuatu kemungkinan jika tidak memiliki bukti yang kuat.
Nicky hanya bisa memenuhi perintah atasannya yang sudah di ikutinya selama 5thn ini.
***
Bersambung
__ADS_1