MAUREN

MAUREN
Perbincangan


__ADS_3

“Begitu rupanya” Devand tersenyum lebar, bak terhipnotis oleh Sisca dia akan selalu mempercayai ucapan kekasih hatinya.


Perbincanganpun berlangsung hanya di hadiri Sisca dan Devand karna Devand sudah mengusir halus kedua karyawannya yang sedang berada dengannya sebelumnya.


***


Sore hari yang cerah Devand masih merasakan ketidak nyamanan dari selangkangannya akibat ulah istrinya. Seraya duduk di atas kursi kebangsaannya setelah Sisca meninggalkannya, ia mencoba menghubungi kakak nya. Sebuah gengsi tengah di musnahkannya mengingat deritanya hanya kakaknya yang dapat membantunya.


Sebuah panggilan Phone Cell di lakukan Devand kepada kakaknya.


“Tumben kamu telpon, apa jangan-jangan Mauren kenapa-kenapa lagi?” sapa ketus Jeffrey setelah panggilan terhubung.


“Aku yang kenapa-kenapa, kamu punya temen dokter kandungan kan?” Senggal Devand sekaligus mengutarakan tujuannya.


“Kenapa emangnya?” Janggal Jeffrey mengira Mauren tengah terjamah oleh adiknya.


“Jangan banyak ngomong kamu bantu aja aku ke sana” ucap Devand.


“Harus jelas dulu keluhannya bodoh” ledek Jeffrey di balik tawa kecilnya.


Perbincangan tersendat sejenak karna Devand yang sukar untuk menjelaskannya.

__ADS_1


“Masa depanku hancur” jelas Devand ragu-ragu.


“Jangan berbelit bangke” senggal Jeffrey


“Kelaminku di serang cewe pujaanmu” ketus Devand dengan lantangnya.


Tawa Jeffrey yang menggelegar terdengar Devand dari sebrang sana membuatnya sedikit terpojokan.


“Baiklah entar aku bawa kamu ke rumah sakit.” ungkap Jeffrey sebagai penutup perbincangan.


***


Devand sudah selesai dengan urusannya beserta kakaknya untuk mengunjungi sebuah rumah sakit ternama. Setelah pemeriksaan selesai Devand dan Jeffreypun keluar ruang sang dokter kandungan untuk melakukan tugasnya.


Tanpa bertanya meskipun menjanggal untuk apa kedua kakaknya mengunjungi tempat tersebut, Garvin hanya menyapa seperti biasanya dan berlalu meninggalkan mereka.


***


Tak terasa malampun tiba, saatnya Mauren mengganti pekerjaannya setelah selesai mengurusi actor kesayangannya kini ia sudah berada di loker club milik mantan kekasihnya yang sekarang sudah sangat di bencinya.


Seperti biasanya Mauren akan menunggu waktunya tiba dengan berbincang bersama Jeffrey. Kala itu Jeffrey yang duduk tepat di hadapan Mauren melihat leher Mauren yang bertandakan cinta berwarna merah terlukis di sana. Tatapan Jeffrey sangat tajam memandangi leher Mauren hingga membuat Mauren tersadar.

__ADS_1


“Kamu pasti liat luka ini” ucap Mauren mengelus leher bagian kirinya yang terdapat tanda merah bekas lukisan bibir Devand di sana.


“Siapa yang udah ngelakuin itu?” Jeffrey tertawa kecil sebagai ledekan untuk adik iparnya.


“Apa kamu tau cara ngilanginnya?” Bukan menjawab pertanyaan Jeffrey, Mauren malah melontarkan pertanyaan kembali dengan polosnya.


“Ga akan bisa ilang. Lagian bilang ga cinta tapi masih ninggalin tanda di sana?” Kembali lagi Jeffrey berkata di akhiri tawa kecilnya.


“Maksudnya? Ga cinta sama tanda?” Polos Mauren kembali.


“Kamu ga tau kalo itu kissmark?” Ucap Jeffrey kali ini lebih prontal dari sblm nya.


“Hah ia kah?” Mauren memekikan nada bicaranya.


“Kamu ga tau itu? Atau jangan jangan__ You still virgin?” Jeffrey mengikuti nada bicara Mauren yang memekikan nada bicaranya.


“Hmm, aneh ya?” Raut wajah Mauren memerah.


“Jadi benar? Terus selama ini ngapain aja sama pacar kamu?” Kini tawa Jeffrey lebih lebar.


“Ga ada waktu buat aku mikirin begituan, mending nyari duit yang banyak biar ade aku lulus” senggal Mauren berbicara dengan ketus menutupi rasa malu nya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2