MAUREN

MAUREN
Calon Mertua


__ADS_3

Tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari kedua belah pihak, mereka kini sudah meninggalkan rumah sederhana warisan dari orang tua Mauren tersebut.


***


Kendaraan mewah Devand yang mengantar kepergian Mauren dengan Nicky sebagai pengendara, terparkir di sebuah halaman luas di mana kediaman orang tua Devand berada.


Mauren melangkahkan kakinya mengikuti tuntunan dari Nicky, tibalah ia berada di sebuah ruang tamu yang mewah. Kedatangan Mauren di sambut hangat oleh Ibunda Devand, sedang ayahanda Devand hanya tersenyum kecil.


Nicky yang hanya memiliki tugas untuk menjemput Mauren dan mengantarnya ke kediaman keluarga Stanley Lindant Shaquile tersebut segera undur pamit setelah tugasnya selesai di laksanakan.


Belum sempat Mauren menempatkan bokongnya pada sofa yang tersedia, Jeffrey dan Garvin sudah menghampirinya.


“Flower”


“Angel”

__ADS_1


Ucap Garvin dan Jeffrey bersamaan memanggil Mauren dengan panggilan kesayangan mereka ketika melihat Mauren berdiri dengan ibunya di dekat sofa yang tersedia.


“Menantuku, apakah namamu Flower Angelina?” Ucap lembut ibu rumah tangga yang masih terlihat muda meski usianya sudah hampir menginjak 50thn di akhiri senyuman manisnya.


“Nama saya Mauren, Tante,” Mauren tak kalah dengan sang calon mertua, ia melontarkan senyuman manisnya di akhir kalimatnya. Berdiri dengan sedikit kikuk tetapi tak meninggalkan senyum ramah dan tetap berusaha tenang di tengah tatapan intimidasi dari sang tuan rumah, Tuan Stanley Lindant Shaquile.


“Duduklah !” sapa Mr. Stanley Lindant Shaquile dengan nada dinginnya dan tatapan tajamnya. Tatapan penuh selidik dan menilai ke arah gadis manis di hadapannya.


Tanpa ada suara yang terlontar, Mauren, Nyonya Shaquile serta kedua anaknya bergegas mencari tempatnya masing-masing untuk duduk di sebuah sofa yang tersedia. Mauren kini duduk bersampingan dengan calon ibu mertua yang bersebrangan dengan Garvin dan Jeffrey.


“Mauren, apa kamu sudah tau jika pernikahanmu akan di adakan esok hari?” Nyonya Shaquile kembali melontarkan ucapannya dan mengelus punggung gadis itu perlahan. Tatapan lembut khas seorang ibu tertuju kepada sosok gadis cantik disampingnya.


Jeffrey dan Garvin hanya terdiam membisu mendapati pernyataan dari Mauren bahwa gadis yang mereka incar sudah mendapati pujaan hatinya yang tak lain adalah sodara sedarah mereka sendiri.


“Baiklah, panggil saya mama kalau begitu,” tawa kecil yang tidak pernah terlihat akhir-akhir ini akhirnya tersirat dari bibir manis Nyonya Shaquile. Tatapan teduh dan raut bahagia terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


“Baik mama,” tanpa bantahan karna Mauren ingin membuat sandiwaranya tampak nyata, ia mencoba menyesuaikan situasi.


“Kalau begitu sebaiknya kita pergi mencari gaun pengantin, untuk urusan yang lain kami sudah mengaturnya” pinta Nyonya Shaquile kepada calon menantunya.


Maurenpun bergegas membuntuti langkah calon mertuanya, ketika berjalan menyusuri lantai marmer ruang tamu utama yang terdapat di dekat pintu masuk rumah tersebut, Mauren berpapasan dengan Devand yang baru saja tiba di kediaman orang tuanya.


“Kita pergi dulu” ucap Nyonya Shaquile kepada anaknya tanpa ada pertanyaan dari anaknya.


“Pergilah !” ketus Devand.


Devand dan Mauren saling menatap tajam yang di rasa Nyonya Shaquile mereka tengah saling mencurahkan isi hatinya.


“Tunggulah Jebakan Batman ku,” guman benak Mauren beserta Devand secara bersamaan seraya saling menatap.


Selesai dengan gumamannya, Mauren segera melepas tatapannya lalu kembali melangkahkan kakinya membuntuti calon mertuanya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2