MAUREN

MAUREN
Cold Bloded


__ADS_3

“Kamu ga tau itu? Atau jangan jangan__ You still virgin?” Jeffrey mengikuti nada bicara Mauren yang memekikan nada bicaranya.


“Hmm, aneh ya?” Raut wajah Mauren memerah.


“Jadi benar? Terus selama ini ngapain aja sama pacar kamu?” Kini tawa Jeffrey lebih lebar.


“Ga ada waktu buat aku mikirin begituan, mending nyari duit yang banyak biar ade aku lulus” senggal Mauren berbicara dengan ketus menutupi rasa malu nya.


“Jadi? Apa semalem kalian udah__” Jeffrey sengaja menunda kalimatnya hanya dengan mengacungkan dua jari di setiap tangannya.


“Belum nyampe udah aku tendang duluan kelemahannya” ketus Mauren yang berkata dengan pikiran polosnya.


“Galak banget adik iparku ini, dia kan suami kamu sekarang, kenapa masih malu?” Canda Jeffrey mengacak rambut bagian atas Mauren.


“Bukan karna malu, aku tau dia ga mencintaiku. Semalem yang aku rasa dia lagi emosi entah karna apa dan melampiaskannya sama aku” jujur Mauren mengungkap kejanggalannya seraya menepis tangan Jeffrey dari tungkaknya.


“Semalem dia ada di sini” ucap Jeffrey.


Pernyataan Jeffrey membuat Mauren menolehkan pandangannya menuju wajah Jeffrey.


Brakkkk.. pintu ruang loker terbuka membuat perbincangan Jeffrey dan adik iparnya terhenti, padahal Mauren ingin sekali menanyakan sesuatu untuk apa dan kenapa suaminya semalam berada di club tempat nya bekerja.

__ADS_1


Kecuali Mauren, seluruh penghuni yang berada di sekitar berserakan untuk keluar dari ruang tersebut setelah mendapati Steven Richard yang sudah membuka pintu ruang tersebut begitu pula dengan Jeffrey ikut membubarkan diri dari perbincangannya dengan Mauren.


“Vivi, aku kangen sama kamu” tanpa tau rasa malu Steven Richard memeluk Mauren yang sudah berdiri di hadapannya.


“Tuan Richard tolong jaga sikapmu, saya ini sekarang adalah istri orang” seraya berkata Mauren mencoba berontak dari genggaman Steven Richard, tidak sulit bagi Mauren setelah ucapannya terlontar, Steven Richard segera melepas pelukannya.


“Apakah kamu mencintainya?” Lirih Steven


“Siapa yang tidak akan mencintai lelaki tampan dan lembut seperti suamiku?” Mauren melontarkan senyuman sindirannya di akhir kalimatnya.


Perih.. pedihhh, saat ini itulah yang di rasakan hati Steven Richard. Sejak perpisahannya dengan Mauren, ia baru menyadari ketulusan cinta Mauren terhadapnya. Lain dengan Siscayang mencintainya hanya karna kekusaannya semata.


Lantas mengapa ia masih mempertahankan Sisca? Karna Siscayang bermulut manis dan juga dapat memuaskan nafsu birahinya hingga ia tidak mudah melepasnya agar ia tidak menyentuh Mauren, bukan karna seperti Devand yang tidak menginginkan menyentuh Mauren karna rasa benci melainkan karna ia menyayangi Mauren dan mengetahui bahwa Mauren masih suci hingga ia tidak ingin menodai wanita manapun dengan tubuhnya.


“Apa aku harus memperlihatkannya di hadapan anda tuan? Tolonglah berhenti memanggilku dengan sebutan itu” ucap Mauren dengan nada ketusnya.


“Kamu lupa Key kalo aku bisa menebak hatimu, kalo emang benar kamu mencintainya, aku tantang kamu untuk menciumnya di depanku” ancam Steven.


Tawa sinis terlontar dari bibir tipis Mauren.


“Baiklah, jika aku berhasil aku harap anda harus segera melupakanku”

__ADS_1


“Setuju” ketus Steven.


Mauren segera meninggalkan Steven tanpa pamit karna sudah merasa jengah dengan keadaanya.


“You’re have Cold Bloded for me now darling?” seraya berkata Steven melihat arah langkah Mauren yang berjalan maju menjauhinya.


***


Jam 11 malam Mauren sudah terbaring di atas sofa dengan selimut pinjaman dari Lina membalut setengah tubuhnya dan bantal sofa yang menjadi penyandar kepalanya saat tertidur.


Mauren melihat langkah Devand yang rupanya baru kembali ke kediamannya, hal ini terlihat dari pakaian Devand yang masih mengenakan setelan tuxedo lengkap dengan dasi dan sepatu pantopelnya terlihat jelas oleh Mauren.


Tanpa menoleh, Devand berjalan menyusuri anak tangga. Jelas Mauren tau bahwa Devand akan menuju ke ruang tidurnya yang terletak di lantai dua karna untuk menuju ke sana harus melewati ruang keluarga yqng kini selalu menemani Mauren tertidur.


Tidak berselang lama Devand yang sudah berpakaian santai kembali menampakkan dirinya di hadapan Mauren berjalan menuruni anak tangga dengan sebuah phone cell di tempelkan di telinga kanannya dengan bantuan tangan kanannya yang menggenggamnya.


“Ya bebe, aku akan mengikutimu ke manapun kamu pergi sayang. Jangan lupa kamu cuma milikku” perkataan Devand yang terlontar dengan lawan bicaranya di sebrang sana yang pasti terdengar Mauren karna saat mengatakannya posisi Devand tepat di hadapan Mauren.


Mauren hanya melanjutkan posisi tidurnya dan memejamkan matanya tanpa menggerakan tubuhnya di saat mendengar perkataan suaminya yang pasti ia tau bahwa suaminya telah melakukan panggilan dengan kekasih hatinya Sisca.


“You’re as Cold Blooded only to me, gimana aku bisa kalahin tantangan Steven Richard kalo begini caranya?” gumam benak Mauren seraya mendengarkan percakapan Devand dengan lawan bicaranya yang berjalan melewatinya tanpa menghiraukannya.

__ADS_1


Setelah Devand berlalu menjauh dari hadapannya, Mauren merubah posisi kepalanya menjadi membelakangi anak tangga yang di perkirakannya Devand akan kembali menyusuri anak tangga tersebut untuk menuju ruang tidurnya agar ia tidak melihatnya kembali.


__ADS_2