MAUREN

MAUREN
Enggan


__ADS_3

Sore hari menuju malam yang sungguh melelahkan bagi Mauren yang sudah menemani sang mertua bersenang-senang. Iapun kembali menuju rumah suaminya, meski sangat enggan ia menginjakan kakinya kembali di rumah tersebut. Atas bujukan ibu mertua yang mengharuskannya tetap tinggal di dalam sangkar emas tersebut akhirnya Mauren hanya bisa mengikuti kemauan mertua yang sudah sudi menumpahkan ketulusannya kepadanya.


Kedatangan Mauren di sambut oleh Lina, karna melihat kedua tangan Mauren yang penuh dengan beberapa tas paper bag. Lina langsung membantu Mauren untuk menyimpannya.


“Lin, simpen di tempat kamu aja baju nya” ucap lembut Mauren mengingat tidak ingin menginjak ruang lain selain ruang keluarga yang selalu menjadi ruang tidurnya karna belum mendapat izin dari sang mpunya.


“Nyonya, di sebelah kamar saya ada kamar kosong buat pembantu, di sana juga ada lemari. Gimana kalo barang nyonya di simpen di sana aja?” Jelas Lina.


“Baiklah tolong bantu atur ya Lin, aku pergi kerja dulu kalo gitu” Mauren tersenyum lebar mendapati penjelasan dari Lina.


Lina tidak berkata lagi hanya rengkuhan tubuh yang di lontarkan untuk Mauren. Karna tidak ada pembahasan lagi, Mauren segera bersiap diri untuk menuju tempat kerjanya di malam hari.


***

__ADS_1


Sesampainya Mauren di tempat kerja malamnya, seperti biasa ia menunggu sejenak waktu tersisa di ruang loker yang tersedia, namun tidak seperti biasanya hari ini Jeffrey tidak menemuinya di ruang tersebut.


“Mauren, kamu hari ini gantikan Aurel layani tamu di ruang VIP 207.” ungkap seorang wanita kepala karyawan setelah berhasil mendapati posisi Mauren.


“Baik” tegas Mauren tanpa bantahan.


“Di sana ada Jenny yang akan menemanimu.” penjelasan sang kepala karyawan.


“Baik” hanya kata itu yang terlontar dari bibir manis Mauren.


Masuklah Mauren ke ruang yang di tujunya, pandangan pertamanya sungguh mengejutkan ketika melihat suaminya beserta rekannya yang mengisi ruang istimewa di gedung tersebut telah duduk berpasangan.


Hanya raut wajah kaku dan kesal yang terpampang pada tingkah Mauren ketika melihat suamiya tengah bermesraan dengan sahabat yang sudah di anggapya musuh.

__ADS_1


Mauren meyimpan beberapa botol minuman beralkohol tinggi yang sudah di bawaya di atas meja yang tersedia.


“Tuan-tuan ini pesanan anda, jika tidak ada yang bisa saya bantu lagi, saya akan pergi” ucap lembut Mauren setelah selesai menyimpan minuman yang di genggamnya sebelumnya.


“Nona cantik, biasanya pelayan di sini ga ninggalin tempat, di sana ada kursi, kamu boleh duduk di sana sama temen kamu” ucap salah satu penghuni ruang tersebut yang jelas bukan Devand menunjuk sebuah kursi kosong dekat Jenny yang sudah duduk terlebih dahulu di pojok ruangan.


Mauren tidak dapat berkata apapun selain mengikuti perkataan seseorang sebelumnya karna tidak ingin membuahkan masalah yang akan menjadikannya kehilangan pekerjaan yang sangat di butuhkannya ini.


Tidak berselang lama, seseorang telah memanggilnya kembali.


“Nona bisa tolong ambilkan kami rokok xxx? Dan nona yang lain tolong tuangkan minuman ini” Ucap Briant salah satu penghuni ruang tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2