Mawar Hitam

Mawar Hitam
Ahli Kubur


__ADS_3

Destinasi yang kami tuju sudah Nampak didepan mata.


Tanpa menunggu aba-aba kami bertiga langsung duduk dikios tersebut dengan semanis mungkin supaya kami bisa memesan dan menikmati yang kami inginkan. Karena memang sudah waktunya makan siang.


“Dari mana pak Nurman” tegur pak slamet yang memang sudah sangat mengenal abi


“Biasa pak, ambil raport anak-anak”


“Wah sudah siap liburan lagi ini cewek-cewek cantinya. Jangan lupa nanti bawakan oleh-oleh buat pak Slamet”


“Beres pak” samber Nara yang sudah sangat PD dengan hasil raportnya yang sudah pasti


mendapat lampu hijau untuk ikut liburan bude ke laut dan tempat wisata lainnya di kota.


“Tunggu dulu, kenapa Nara sampai saat ini belum tau hasil Raport dari kak Nuri bi? “ tanyanya penuh dengan selidik meskipun hasilnya yang menurutnya sudah pasti aman.


“Itu raportnya, coba dilihat” perintah abi santai


“Ini raportku, jadi harus lebih dulu membukanya, karen aadi aku belum sempat melihatnya karena dialihkan oleh Fajar dan Sisil” dengan cekatan dan secepat kilat kau menyambar buku rapart dari tangan Nara


“Kak barengan lihatnya”


Yang ditinggalkan abi menuju kursi yangmendekati pak slamet untuk sekedar mengobrol tentang orang tua tentunya. Semua itu kami abaikan dan terkalahkan dengan misi kami yangmasih menggantung.


“Ayo kita buka sama-sama, jika peringkatku diatasmu maka kamu harus membersihkan kamar selama seminggu dan akau yangmenjadi ratu dikamar itu tanpa protes” tantangku kepada Nara


“Kenapa kakak selalu memberikan tantangan yang menyesatkan dan menindasku” gerutu Nara


“mau tidak, kalau tidak tidak boleh iktu lihat” tawarku kembali


“ok, siapa takut”


Jangan ditanya bagaimana dan betapa bergemuruhnya hatiku karena aku takut jika prestasiku turun dan bahkan banayak pesaingku belajar dikelasku saat ini.


“Hitungan ke tiga kita buka sama-sama” aba-abaku


“sat u du a ti gaaaa” ucap kami serempak


“yahhhhh” ucap kami bersamaan


Tentu kata yahh itu memiliki dua arti bagi kami berdua, bagi Nara itu adalah kekalahannya dan bagiku adalah kemenangan dan berduka atas kekalahan Nara. Jahat memang aku, ha ha ha ha ha. Begitulah aku, selalu tertawa diatas kesusahan Nara dalam artian hanya sebatas bercanda.

__ADS_1


Diikuti dengan gerakan alisku naik turun sebagai penyempurna atas kekalahan Nara.


“Sudah ketebak hasilnya, dan kau kak Nuri sangat jahat kepadaku dan selalu bisa menjebakku” Ungkapan perasaan nara yang dibuat selebay mungkin.


“Maaf, maaf aku tidak bermaksud. Tapi Tuhan sudah berkendak lain” ejekku.


“Nasib nasib” keluh nara kembali


Sesuai dengan harapan dan jerih payahku selama ini, kau mendapat juara 1 tentunya.


“Alhamdulillah usaha tidak menghianati hasil” dalam hatiku bermonolog sendiri


Sedangkan diTKP pak Slamet dan abi tengah berbicara serius yang sebenarnya mereka berdua adalah membahas kami berdua dengan kesibukankami sendiri.


“Wah senang ya pak Nurman mempunyai anak yang cantik-cantik dan pintar seperti Nuri dan Nara”


“Itu anugrah yang tak terhingga buat saya pak”


“Itu gimana kabar si Argo, sempat beberapa hari yang lalu kemari dengan beberapa motor Bersama temannya, untuk makan mie ayam. Saat saya tanya apakah sudah mendapat izin dari orang tua mereka semua tampak bingung dan tidak kompak menjawabnya pak Nurman.


“Wah saya baru tahu ini pak slamet, tapi tidak tahu jika sudah izin dengan uminya, nanti akan saya tanyakan ke Argo. Sudah mulai mengenal bermain jauh rupanya anak itu”


“Bukan niat saya mengadu pak tapi saya ukur jarak antara rumah dan tempat ini kan jauh, dan juga anak seumuran mereka belum ada SIM dan belum bisa mengontrol emosi mereka. Yang saya takutkan mereka kebut-kebutan pak” Imbuh pak Slamet


“Namanya juga anak laki-laki pak, tidak jauh berbeda dari jaman kita dulu” ucap pak slamet sambil membawa pesanan mie ayam dan the manis kami.


“Mari pak dimakan dulu, pesanaanya sudah siap”


“Ayo pak” ajak abi berpindah tempat duduknya menuju meja kami tadi.


Disini bukan beriniat bertele -tele ya pembaca tercintaku sekalian tetapi penulis ingin membagi pesan moral bahwa kita harus banyak teman supaya informasi dapat tersampaikan dengan baik alias punya mata-mata dimanapun berada.


“Silahkan dimakan mie ayamnya mb, semoga rasanya bikin umi kalian dirumah marah karena akan membuat kalian kenyang dan melupakan makan siang dirumah” jawab pak Slamet yang sudah hafal adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Kalau itu, kami serahkan kepada abi pak Slamet kaena abi yang sudah tahu bela diri tangkisan untuk menghadapi nyanyian merdu yang akan umi berikan ke kami” tak kalah aku memprovokasi keadaan yang sudah terbayang omelan umi dikepala kami.


“Sudah-sudah ayo kita makan dulu, abi sudah lapar ini”


Kami bertiga menikmati makan siang itu dengan sangat nikmat, selain memamng kondisi perut kami sudah lapat tetapi racikan mie ayam pak Slamet memang tiada duanya.


“Seharusnya kalian berdua yang bertanggung jawab, karena kalian yang mengajak abi kesini. Kenapa saat sulit seperti itu selalu abi yang kalian jadikan umpan segar kepada umi” keluah abi sambil menikmati makan siangnya.

__ADS_1


“Kami ini hanya megajak abi, seharusnya abi punya kekuasaan penuh untuk menolaknya. Tapi abi tidak ada penolakan sedikitpun. Itu artinya abi juga ikut andil penuh akibat yang akan terjadi nanti saat dirumah” Tukas Nara yang tidak mau kalah.


Sedangkan Nuri dengan wajah tanpa dosa menikmati makan siangnya dengan sangat nikmat tanpa berkeluh kesah sedikitpun. Karena Nuri memang menang licik, saat dirumah ketika umi mengomel tak karuan karena makan siangnya utuh akan membela dan menyelamatkan dirinya sendiri.


Dengan jawaban yang singkat padat dan tepat sasaran menjatuhkan Nara dan abi “aku hanya diajak dan mengikuti mereka umi sambil bergerak cepat masuk kamar menghindar.


Itulah Nuri memang kecantikannya tidak sebanding dengan Nara tapi sangat pintar dan licik.


Setelah membayarnya, kami bergegas pulang menuju kerumah. Dengan hitungan 30 menit kami sudah di istana menurut kami.


“Assalamuailaikum” ucap kami bersamaan


“walaikum salam ya ahli kubur” ucap Argo


Yang langsung mendapat jitakan dari abi dengan batu akiknya


“Lain kali jawablah salam dari orang dengan benar Argo, sebelum batu akik Abi melayang kembali diatas kepalamu” tegur abi dengan kata beratnya yang berarti Abis sedang menahan suatu amarahnya terhadap lawan bicaranya.


Aku dan Nara merasakan hawa yang kurang nyaman disekitar, langsung mengambil langkah satu milyard untuk mengamankan diri ke kamar.


Seperti pada umumnya, Argo adalah anak laki-laki kelas 1 SMP yang masih merasakan indah dan serunya bermain dengan sebayanya. Tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi dikemudian waktu.


Argo memang tampan tetapi juga memiliki sifat rasa ingin tahu yang tinggi dan terkadang bisa nekat jika menginginkan sesuatu yang belum ia ketahui. Paling tepatnya paling suka berpetualang dengan hal yang baru.


Pernah sekali waktu, pada adzan magrib belum ada dirumah, sungguh resah umi pada saat itu memikirkan. Setelah bertanya ke tetangga anak tetangga kamipun sama juga belum kembali.


Setelah kami tunggu beberapa menit baru saja dia masuk dengan cara mengendap-endap karena takut dimarahi. Sudah pasti akan dimarahi oleh umi karena Argo melanggar tata tertib yang ada dirumah.


Setelah ditanya dan mendapat jawabandengan melewati tikungan yang berbelok-belok dan tanjakan yang naik turun ternyata Argo ikut naik mobil pick up bersama teman-temannya yang jug amsih tetangga sekitar kami mengikuti mengirim batu bata ke desa tetangga yang jaraknya sekitar 20 km lebih.


Argo oh Argo entah kapan kau akan menjadi anak yang penurut dan menentramkan. Tiada bosannya Argo berpetualang dan ngebolang meskipun setiap hari menegur, menasehati bahkan sampai menjewernya karena saking kesalnya.


Kami sebagai kakak perempuannya tidak luput juga ikut andil dalam menasehati dan mengingatkan bahwa yang dilakuakanya adalah hal yang kurang baik tetapi selalu saja berakhir dengan kata maaf dan diawali dengan mengulabi kembali.


*******


Jangan lupa para pembaca setiaku


Like


Comment

__ADS_1


dan tekan tombol love ya…


__ADS_2