Mawar Hitam

Mawar Hitam
Satu Dua Tiga Empat


__ADS_3

Reader yang budiman, lama ya nunggu up nya. soalnya penulis lagi ada panggilan negara yang ahrus menunda upnya.


selamat membaca dan comment yang serubya 🥰🥰🥰


“Lama sekali senpai Ahmad, sebenarnya jadi tidak latihan hari ini” gerutuku karena sudah hampir pukul 15.00 WIB belum juga terlihat batang hidungnya.


Karena aku sudah merasa jenuh, akhirnya aku menyambar tas ranselku yang berisi dengan peralatan tae kwon do dna helmku untuk memilih pulang saja.


Diparkiran aku bertemu dengan kak Nengah yang juga aku rasa berniat untuk pulang.


“Sore kak Nengah, mau pulang juga?”


“Iya” jawabnya singkat padat dan jelas


Karena aku merasa tidak ada yang perlu aku tanyakan bahkan berbasa-basi maka kuputuskan untuk segera pulang dan meninggalkannya di parkiran sendiri. “duluan ya kak” pamitku sambil menarik gass bleki motor kesayanganku.


Secara iseng aku melirik kaca spion bleki, kulihat sesuatu yang membuatku penasaran atas satu orang yang baru saja berinteraksi denganku diparkiran sekolah tadi. Ku lihat kak Nengah meninju udara dan menendang kakinya ke ban motornya. Karena sifatnya yang dingin dan membuatku mengabaikannya saja karena bukan urusanku fikirku dengan simple seperti jawabannya tadi.


Saat ditengah perjalanan menuju rumah, tiba-tiba ada sebuah motor yang membuntutiku. Tapi motor itu tidak terasa asing dan aku merasa tidak lama ini melihatnya.


100 tebakan pembaca. Itu motor yang dikendarai kak Nengah tadi. Karena rumah kami memang searah jadi aku tidak menghiraukan. Tapi kembali aku merasa heran dan menggumam “bukannya motornya masih bagus dan kecepatannya diatas motorku, tapi kenapa lambatnya melebihi bleki?”


“Kenapa toleh-toleh, mau ngeluyur ya? Bukannya buruan pulang! Cerocosnya tidak beralasan sambil mensejajarkan laju motornya disamping bleki.


“Idih siapa yang mau ngeluyur, ya suka-suka Nuri dong. Mau ngebut apa tidaknya. Kenapa kak Nengah jadi sesuka hati menuduh?! “balasku karena tidak terima dengan tuduhannya yang tidak beralasan menurutku.


Setelah menerima jawaban yang menohok dariku bukannya dia meninggalkanku malah tetap saja melajukan motornya disamping bleki.


“Dek kalau naik motor jangan menuhin jalan! Lagian kok pacarana dijalan, kalian kira ini jalan bapakmu! Bocah sontoloyo” teguran yang sangat membuatku malu dan membuatku emosi.


“Pak siapa yang pacarana” sungutku tidak terima.


“Pacaran juga enggak apa-apa” jawab kak Nengah datar sambil melajukan motornya mendahului laju bleki.


“Orang aneh” kesalku yang sudah khatam pada sore itu.


Kulihat jam ditanganku masih mennunjukkan pukul 15.30 masih cukup lama aku menunggu jika menjemput Gibran sekarang. Kuputuskan untuk pulang dahulu.


“Assalamualaikum, Nuri pulang”


“Walaikum salam, loh… Sudha pulang. Tumben”


“Iya umi, senpai Ahmadnya tidak datang jadi Nuri pulang”


“Tadi umi ketemu di tempat kondangan, apa Ahmad lupa mengabari kalian hari jika ada keperluan?”


“Mungkin saja umi”


“Nuri, mau tidur saja dulu ya mi. Agak capek dikit”


“Mana ada capek dikit”

__ADS_1


Kulanjutkan langkah kakiku menuju kamar tercinta yang sudah melambai-lambai bantal dan guling yang sudah tersenyum manis menantiku ditempat tidur berwarna biru laut warna favoriteku.


Baru saja akan bobok syantik, rembo sudah menari seperti ratur ngbor disampingku.


“Halo, siapa ini”


“Bobok sore ya, udah cuci kaki belum?”


“Memangnya aku anak kecil yang harus di ingatkan untuk cuci kaki, gosok gigi dan berdoa?” cerocos mulut sancaku tanpa melihat layer rembo untuk mengetahui yang menelfonku. Karena bagiku sore ini terasa sangat mengantuk sudah level 7


“Ya sudah jika ngantuk berat, lanjutin boboknya sana. Sampai ketemu dimimpi” seru orang diseberang sana


Seperti ada alarm yang menyetting mimpiku. Trpat pukul 16.00 aku terbangun karena akan menjemput Gibran yang sedang mengaji. Jika aku sampai telat menjemputnya sudah pasti dan teramalkan apa yang akan terjadi disana.


“Kak Nuri” lambai tangan Gibran dan antusiasnya seperti sudah beberapa tahun tidak bertemu.


“Gimana ngajinya tadi, seru?”


“Seru kak, tapi Gibran ada PR dari bunda hafalan surat pendek sama doa”


“Banyak amat PRnya, nanti biar kak Nuri tegur bundanya. Kasih PR kayak antrian BLT saja”


“Enggak banyak kak, hafalan surat pendeknya setiap hari jum’at tapi doanya setiap hari senin”


“Kirain”


“Makanya dengerin dulu orang kalau lagi ngomong, jangan asal samber saja”


Dalam perjalanan pulang aku melihat sesosok yang tidak asing dengan panca inderaku. Sosok itu yang membuat kepalaku terasa mau pecah setiap harinya. Dengan mengendaria motor berboncengan tidak sesuai dan tidak semestinya. Satu motor dikendarai oleh 4 orang anak laki-laki ingusan. Siapa lagi jika bukan Argo.


Dengan santainya motor itu memberi klakson kepada kami berdua Gibran, setelahnya berlalu dengan santainya. Karena kami berlawanan arah, ku biarkan saja mereka berlalu dan aku langsung menuju kerumah. Tetapi Gibran sudah langsung bertanya


“ Kak Nuri, kak Gibran mau kemana ya? Sepertinya sangat seru jika aku bisa naik motor seperti kak Gibran dengan berboncengan rame-rame begitu”


“Stttt itu tidak baik Gibran, karena akan berbahaya dan kasian motornya keberatan karena terlalu banyak muatan.”


“Ohhhhh gitu ya” sambung Gibran kepadaku yang seolah-olah mengerti dengan penjelasanku yang sebenarnya tidak faham itu.


Setianya dirumah Gibran langsung berlari mencari umi dan sudah terbaca apa yang akan dilakukannya.


“Umi Gibran tadi melihat abanng Argo naik motor seru sekali, naiknya ada satu dua tiga empat. Ada empat orang mi diatas motor” jawabnya sambil menghitung jari tangan mungilnya


“Kalau masuk itu salam dulu, mau Gibran di ikuti setan? Masuk rumah tidak memberi salam.”


“Sudah umi adi dalam hati Gibran”


“Nuri lihat itu ajaranmu, maan ada salam di dalam hati.”


“He he he” cengir kudaku karena telah kedua kalinya aku hari ini mendapatkan senjata makan tuan yang disebabkan oleh Gibran bawel.


“Gibran dibantu kak Nuri dulu ya, umi masih belepotan ini tangannya buat pisang goreng”

__ADS_1


“Siap umi” jawab kami berdua dengan kompak


Pisang goreng kesukaan kami sudah matang dan tersajikan dengan menggoda iman sore itu yan dismbut datangnya abi dari pulang kerja.


“Wah ada pesta ini”


“Ya bi, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput pulang tak diantar” cicit Monic atas copyan kata-kata dari salah satu film horor.


“Heng wilahing” tak kalah abi menimpalinya yang memang sama-sama menyukai film horror


“Anak sama bapak sama saja” sahut umi yang tidak mau kalah.


Pisang goreng itu sangat nikmat rasanya dan tiada tara, tandaslah dalam beberapa menit saja. Tidak heran karena dibuat oleh umi dengan penuh rasa kasih saying dan curahan cinta kasihnya.


“Tumben, episode ini tidak ada yang rebutan pisang goreng terakhir. Kemana Gibran? Ngeluyur lagi dia?“ desak abi kepada kami


“Sudah sekarang pada mandi nanti malamkita bahas bersama untuk menasehati anak kesayanganmu itu.” Jawab umi segera menengahi supaya Gibran tidak langsung mengadu sehingga akan memperkeruh suasana.


Kamipun bergegas bubar jalan untuk menghindari interogasi dari abi yang belum waktunya karena belum siap mental.


Sesuai yang direncanakan tadi sore, setelah shalat isya meja hijaupun dimulai.


“Gimana sekolah Argo setelah liburan ini. Apakah ada penambahan? Permulaan yang abi berikan kepada tersangka langsung.


Dengan tatapan tajamnya melihat Gibran dan memberikan kode telunjuknya kepadaku yang secara tidak langsung mengatakan bahwa akulah yang sudah mengadu kepada abi. Dengan santainya aku mengangkat bahuku yang berarti aku menjawab tidak dan tidak tahu dan ditutup dengan gerakan tanganku yang membentuk tembakan. Itu artinya siap-siap akan mendapat hadiah.


“Tentu lah bi, biar bandel begini tetap bisa jadi kebanggaan abi” jawab Argo tanpa dosa dan perasaan bersalah


“Wah ternyata Argo ini anak pintar ya, sudah mengetahui jika sering berbuat bandel. Contohnya seperti apa ya. Abi kurang faham. Coba Argo jelaskan kepada abi” pancing abi yang sudah mengetahui kesalahan yang Argo perbuat.


“Tadi Gibran lihat Bang Argo naik motor satu dua tiga empat bi” sambar Gibran menjawab pertanyaan yang bukan disajikan untuknya.


“Argo, abi tidak pernah melarangmu bermain dengan teman-temanmu. Tapi kamu harus tahu ,mana yang merugikan, membahayakan, dan akan berrdampak buruk buat kamu nantinya. Begini saja jika kamu sulit untuk mengikuti nasihat dari abi, minggu depan kamu akan abi kirim kepondok saja. Biar semua tidak membuat abi was-was. Tidak hanya Argo, siapapun dirumah ini yang tidak bisa mengikuti perraturan dari abi, maka akan abi kirim kepondok..”


Itu semua kami anggap kemarahan, ancaman, peringatan dan perintah yang tidka akanbisa diganggu gugat. Tidak seperti biasanya abi berkata demikian. Mungkin karena Argo sudah melewati batas dan akan sulit ditangani jika abi tidak bertindak tegas kali ini.


“Argo tidak mau kepondok, meskipun salah. Argo maunya tetap dirumah saja”


“Jika itu yang kamu inginkan, maka patuhi peraturan yang abi buat” ini yang terarkhir kalinya kamu berulah. Jika samapai terulang lagi, maka abi tidak akan bertanya dahulu kepadamu melainkan langsung abi kirim meskipun kami masih dalam keadaan tidur.


“Sekarang sudah malam, cepat kalian tidur” perintah umi. Karena pada saat itu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


*******


Jangan lupa


Like


Comment


dan tekan tombol love ya…

__ADS_1


__ADS_2