
Karena jam sekolah sudah selesai kamipun menuju rumah kami masing-masing dengan kondisi tubuh yang sudah Lelah dan bau asyem tentunya.
“Asslamualaikum, Nuri pulang”
“Walaikum salam, kak Nuri bau Asyem jangan cium adek” tolak Gibran adikku yang paling kecil
“Kak Nuri sudah pulang? Aku punya PR yang sulit sekali kak, nanti bantuin ya buat ngerjain laporan.
“Bukannya kita sudah selesai ulangan semesternya, kenapa masih ada PR? Wah jangan bilang kalau kamu remidi Monic? Biar kak Nuri adukan ke abi jika kamu tidak bersungguh-sungguh belajar.”Ancamku
“Iiih bukan remidi tapi ini tugas untuk semester depan jadi saat masuk nanti gurunya tinggal menjelaskan jika sudah sedikit uji coba dari kami” jawab Nara membela diri
“Memangnya tugasnya apaan?”
“Tugas biologi kak, mencari sumber makanan yang mengandung banyak kalium”
“Kenapa tidak minta diajarin sama pacarmu saja?” Godaku
“Pacar yang mana?”
“Kak Nuri doakan diambil temanmu ya jika tidak mengaku juga? Ancamku kembali
“Ehhhh jangan dong, baru aja jadian masak mau diambil orang?”
“Jadi kalau sudah lama jadian boleh dong diambil orang” Godaku kembali
“Yeee enggak gitu juga kaleeeee”
“Kaleeee ciliwung? Ya sudah nanti sore saja kakak capek ni” tundaku karena memang tubuhku sudah bau asyem dan Lelah.
Sambil melenggang ke kamar aku menyerobot pipi Gibran kembali yang dibalas dengan dengan dengusan kesal dan gerakan mengelap pipinya. Hemmm adik kecil yang menggemaskan.
5 tahun yang lalu
“Pokoknya Nuri enggak mau punya adik lagi umi, Argo saja sudah sangat menyebalkan bagaimana dengan yang ini nanti” Sungutku kesal karena mengetahui umiku hamil kembali
“Ini rezeki dari yang kuasa nak, banyak anak banyak rezeki nanti klaau orang tua banyak rezeki maka anaknya juga akan kecipratan” Bela umiku mendamaikan hatiku
“Semoga saja tidak nakal seperti Argo” Imbuhku
“Aaamiiin” jawabku singkat
Tanpa terasa hari yang menebarkan itupun datang. Lahirlah sedunia seorang bayi laki-laki yang mungil dan menggemaskan.
Seperti ada kontrak yang menyambutnya aku langsung membuat perjanjian kepada adik mungilku itu meskipun saat itu aku sangat yakin dia belum mengerti apapun.
Yang dia tau hanya menangis dan tertidur
“Awas saja ya kalau kamu sampai nakal seperti Argo, akan kak Nuri cubit pahamu sampai membiru” Ancamku
Yang tidak sengaja di dengar oleh umi dan abiku. Mereka hanya tersenyum mendengarku mengucapkan hal tersebut.
Setelah beberapa hari dirawat dirumah bersalin umiku akhirnya dibawa pulang karena kesehatannya sudah dianggap cukup dari bidan yang menolong umiku.
Seperti pada umumnya untuk menyambut kepulangan umi dan adikku dirumah sudah dibuat acara syukuran untuk pemberian nama dan aqiqah.
__ADS_1
Semua keluarga dan tetangga berkumpul untuk membantu keluarga kami mempersiapkan acara tersebut.
Tidak tertiggal sisi julid saudara dan tetanggaku mulai menampilkan bakat masing-masing
“Wah anak semakin banyak, gimana caranya menghidupinya ya. Sekarang apapun itu sudah mahal dan tidak ada yang gratis” Cebik sitri uak Soleh yang menurutku mulutnya lemes dan pedas seperti cabe rawit.
“Halah paling juga nanti anaknya Cuma sekolah saampai SMA saja, mana mungkin anak sebanyak itu bisaa dikuliahin semua. Lihat anakku wak, satu saja sudah setengah mati membiayai kuliahnya” Imbuh tetanggaku yang sama julitnya dengan uwakku yang menggemaskan yang satu ini.
“Kita tidak tahu jalan hidup seseoarang, biarkan saja. Toh yangmenjalaninya sangat santai dan bahagia. Jadi merusaak kebahagian oranglain dengan kata dan pendapat kalian yang kurang baik” bela budeku dari pihak umiku yang memang anaknya juga sama banyaknya dengan anak orang tuaku.
Tetapi perbedaanya adalah bude dan pakdeku keduanya adalah pegawai pemda setempat. Dan yang lebih membanggakan lagi kelima sepupuku sangat baik juga terhadap kami.
Tidak jarang jika saatnya liburan tiba, kami diajak budeku untuk turut berlibur dan tentunya semuanya gratis.
Karena usia mereka ada yang sepantaran dan diatasku, mereka sangat senang jika kami berkumpul dan bermain kerumah budeku.
Ada saja yang mereka berikan kepadaku dan adikku. Dari mulai sepatu roda yang mereka anggap sudah bosan memainkannya bahkan baju harian yang aku anggap masih sangat bagus yang mereka berikan kepadaku.
Tetapi ada juga sepupuku dari pihak ibuku yang menyebalkan karena mereka menganggap kami berisik jika berkumpul. Mungkin karena sepupuku tersebut anak tunggal dan tidak terbiasa dengan ramai. Itulah Tuhan menciptakan umatnya untuk saling melengkapi.
Akhirnya acara syukuran pemberian nama dan aqiqah berjalan dan selesai dengan lancar. Sanak saudara dan tetangga sudah kembali ke alamnya masing-masing. 😇😇😇
Hari-hariku berlalu dengan sangat menyenangkan, karena mempunyai mainan baru bagiku. Meskipun aku masih kelas 5 SD saat itu tapi aku sudah terbiasa membantu umi dalam melakukan perkerjaan rumah dan menjaga adik-adikku.
Dari mulai mebuatkan susu, menjaganya saat umi melakukan pekerjaan dapur bahkan menidurkan Gibran meskipun aku haruus dibantu oleh umiku untuk menggendongnya dengan menggunakan gendongan pada masa itu.
Tanpa terasa waktu terus berlalu dan berjalan dengan indahnya, sama halnya Gibran yang tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Begitupun Nara, Monic dan Argo yang sangat senang dengan mainan baru yang bisa mengeluarkan suara dan menangis tentunya.
“Besok kalau sudah besar harus bisa pintar main layangan seperti abang ya dek” ucap Argo
“Abi sudah pesan pada Argo, jika ada yang menjahiliku maka aku harus melawannya jika tidak mampu segera meminta bantuan kepada kak Monic. Karena kakak paling dekat saat itu” Cerocos mulut bawelnya
“Orang itu melawan dulu baru meminta bantuan”
“Yang selalu menggangguku itu teman kak Monic sekelas. Karena dia selalu kalah melawanmu kak. Jadi dia mencariku untuk balas dendam”
“Hei anak kecil sudah tau balas dendam, tidak baik” Jawab Nara yang paling bijak jika ada masalah perkelahian dan perselisihan baik dikeluarga maupun dengan teman kami.
Nara paling bijak jika menghadapi masalah, tidak sepertiku yang ekspresif dan frontal. Aku tidak bisa menahan mulutku untuk melayangkan protes dan jawaban yang menohok.
Maka dari itu diantara anak orang tuaku Nara paling disayangi oelh keluargaku karena siukapnya yang anggun dan sdah jelas dia memang sangat cantik. Tapi itu seemua tidak membuatku iri tapi aku bangga, karena dia adalah adikku.
Untuk Monic sikapnya sama sepertiku, tapi yang membedakannya dalah dia sama cantiknya seperti Nara dan tingginya seperti calon model hanya saja kulitnya seperti abiku, hitam manis.
Kembali kepadaku, sudah pendek, rambutku ikal tak beraturan, hitam manis dan pesek. Tidak jarang aku memprotes keadaan hidungku yang minimalis. Tapi nenekku sangat menyayangiku karena baginya aku adalah cerminannya saat masih seusiaku.
Seiring berjalannya waktu Gibran tumbuh menjadi anak TK 0 kecil yang sangat kritis menurutku, karena apapun yang dilihatnya tidak sesuai maka tidak gentar dan segan untuk menanyakan.
Disuatu ketika saat kami sedang duduk santai dan bercerita didepan TV setelah shalat isya. Ingin sekali aku mengirim Gibran ke Samudra antartika saat itu.
‘Umi, kak Nuri itu anak kandung umi apa anak adopsi ya. Kenapa hidung kak Nuri berbeda dengan kami berempat?” tanyanya polos
“Kak Nuri itu anak dari anak buah abi di kebun, karena orang tuanya tidak mampu makanya dititipkan ke abi” Goda abiku memasang wajah datar dan menyeruput kopi hitamnya dengan santai
“kenapa abi mau?” celoteh Gibran kembali
__ADS_1
“Yak karena kasihan” jawab abiku santai
Sedangkan ketiga adikku yang lain sudah tertawa dengan riangnya karena sudah anak sekecil Gibran sudah mampu memporak porandakan ketengan hatiku.
“Umi kenapa sekarang tidak membelaku?” protesku
“Mau membela gimana, yang diucapkan Gibran benar adanya” Goda umiku menimpali keisengan abiku saat itu
Setelah aku merajuk dan memindah acara TV yang tidak beraturan menggunakan remot tv yang ada ditanganku.
Sebenarnya aku tahu jiak semua itu tidak benar tetapi saat mereka menyinggung hidungku serasa kentaan itu tidak benar adanya.
“Nuri tidak sopan mengganti TV sembarangan disaat ada orang tua yang masih menontonnya” Tegur abiku
“Maaf” ucapku sambil mengembalikan acara TV kesayangan abiku. Apalagi jika bukan berita politik senatera jagat raya ini
“Nuri sudah besar kok masih kalah sama anak kecil yang masih ingusan” nasehat umiku
“Gibran”
“Ya kak”
“Yang suka jemput ngaji siapa?”
“Kak Nuri”
“Yang suka mengajak Gibran naik motor siapa?”
“Kak Nuri”
“Yang suka bantuin Gibran jika ada yang gangguin ditempat ngaji siapa?”
“Kak Nuri”
“Jadi…..?”
“Karena kak Nuri kakak Gibran yang paling baik”
“Anak pintar, jadi besok tidak boleh bertanya petanyaan terkutuk itu lagi ya” dibalas anggukan polos dari Gibran
“Nuri tidak baik mengajarkan kata kasar kepada Gibran” Tegur umi
“Maaf umi” jawabku singkat sambil mengunyah donat terenak buatan umiku versi kami anak-anaknya.
Begitulah keadaan keluarga kami meskipun sederhana tapi penuh dengan kehangatan yangm enurut kami sudah saangat luar biasa bahagianya.
*******
Janga lupa
Like
Comment
dan tekan tombol cinta untukku
__ADS_1