
“ Terima kasih ya Anton dan Ugi sudah mau membantu abi dan umi mencarikan rumah kosan untuk Nuri. Abi juga pesan dan titip Nuri. Jika terjadi sesuatu cepat kabari kami. Karena kalianlah sekarnag yang sering bertemu dan abi jauh di sana.”
“Sama-sama bi, kami juag teriam kasih sudah ditengokin dan dibawakan oleh-oleh dari umi.”
“Pasti enak ini jika umi yang membuatnya.”
Ucapan Anton dan Ugi secara bergantian
Karen akost yang dipilih oleh kedua sahabat Nuri adalah tepa tberseberangan dengan rumah kost yang mereka tempati sekarang. Semuanya itu hanya terpisah oleh jalan saja.
Setelah berpamitan dengan pemilik kost, keluargaku pulang ke desa, dan meninggalkan aku sendiri dengan calon teman baruku dikosan tersebut. Kosanku memang semuanya wanita dan hanya ada satu yang sudah berkeluarga itu sebagai petugas kebersihan dan sumainya sebagai penjaga kosan tersebut.
Malampun tiba, rasa lelah dan lapar mengeroyokku dengan secara bersamaan. Pucuk dicinta kambimngpun tiba. Si rembo bergoyang dumang kali ini.
“Kenapa lama sekali kalian baru menghubungiku, sahabat tidka tahu diri kalian ini. Seharusnya kalian membantuku untuk merapikan peralatan dan perlengkapan dikamarku. Bukannya malah melarikan diri setelah abi pulang. Kalian sudah lupa pesan abi tadi siang. Kalian harus membantu ratu blorong” cerocosku memarahi Anton dan Ugi yang kebetulan mereka satu kamar. Sehingga saat mereka melakukan panggilan bergambar bisa langsung tampak kedua muka mereka yang sangat menyebalkan itu.
“Hehh nenek blorong ini kami menghubungimu karena akan mengajakmu mencari makan. Jika masalah tadi siang kami tidak membantumu, apa kamu tidak membaca papan pengumuman tadi siang. Laki -laki dilarang masuk, kecuali muhrim dan mahram! Tapi jika kamu tetap memaksa juga maka besok ayo kita ke KUA untuk menghalalkanmu dahulu supaya diantara kami bisa masuk dengan selamat.” Cerocos Ugi tidak mau kalah
“Sudah cepat ambil jaketmu, kita cari makan diluar. Sebagai imbalannya selama satu minggu kamu harus memasakkan kami” perintah Anton
“Siap, aku sudah lapar ini. Aku izin dengan penjaga kost dahulu ya.” Pamitku smabil menutup telfon.
“Pakde Nuri mau mencari makan diluar, karena belum sempat masak tadi sore. Peralatanya belum selesai dipasang” izinku kepada penjaga kosan yang memang sudah berumur seperti uwakku didesa
“Silahkan ndok, hati-hati. Dan pulangnya jangan terlalu malam ya. Karena jam 21.00 gerbang sudah dikunci. Kecuali yang sudah bekerja akan saya izinkan karena memang ada beberapa mbak kostnya yang bekerja melewati jam tersebut.”
“Iya pakde, terimakasih.” Pamitku yang memang sudah ditunggu Anton dan Ugi didepan gerbang dengan lima langkah sudah sampai.
“Mau makan apa Nur?”
“Basing saja aku ngikut kalian”
“Jika ngikut kami, sudah tidak suka makan nasi, tapi suka makan rokok dan kopi” Jawab anton asal.
“Cari nasi padang saja, karena yang aku dengar bahwa para mahasiswa sangat bersahabat dengan menu itu” Ideku
“Ocreyyyyy”
Sampailah kami ditempat tujuan dengan beberapa langkah saja karena hanya berjarak 200 meter dari kosan yang kami tempati.
“Uni nasi ayam goreng 3” pesan Ugi
“Asyiappppppppp” sambut uni pemilik rumah makan
“Sapo ini gi, betino mano ini yang kalian culiak. Awas jangan macam-macam jika indak udo laporkan dengan orang tua wa-ang beduo” tanya sekaligus ancam dari uda yang juga pemilik rumah makan.
__ADS_1
“Bukan uda, ini Nuri teman kami dikampung yang sampai tadi siang. Kebetulan kosannya berada didepan kosan kami. Dan akanmenjadi calon pelanggan uni dan uda nantinya.” Penjelsan dari Anton
“Silahkan nak manis” ucap uni sambil menghidangkan makan malam kami yang menurutku sama dengan masakan umi dirumah hanya saja yang membedakan ayamnya dibaluri dengan telur dan sambalnya bukan sambal terasi.
“Terima kasih bude”
“Ha… panggil uni sajo, karena uni bukan orang jawa. Tapi uni orang Sumatera Barat.”
“Baik un… ni… “ jawabku terbata karena belum terbiasa dan hampir sama dengan umi.
“Sudah, ayo dimakan keburu mala mini. Nanti lama-lama juga akan terbiasa” Ugi mengingatkanku.
Acara dinner kami selesai juga, karena sudah tidak ada kepentingan lagi maka kami memutuskan untuk kembali ke kosan masing-masing.
“Terima kasih gi, ton”
“Sama-sama” jawab mereka berdua berbarengan
“Oya, aku lihat tadi umi membelikanmu lemari rakitan, paakah kamu bisa merakitnya Nur? Cegah anton sebelum aku masuk ke gerbang.
“Sebenarnya aku bisa, hanya aku malas saja untuk merakitnya. Apakah kalian bisa membantuku besok pagi. Nanti aku buatkan sarapan nasi goreng umi deh” tawarku
“Ya sudah besok kita rakitnya di post tamu, biasanya disitu jika par atamu lelaki jika ingin berkunjung. Tenang tidak akan kena marah asalakna izin dulu dengan pakde kumis. Dan juga disana semua bisa dipantau. Karena ada CCTVnya.” Penjelasan dari Anton.
Formasi bubar jalan. Menuju kamar kami masing-masing
Kuraba rembo yang aku letakkan dibawah selimut untuk melakukan panggilan bergambar kekeluargaku dikampung.
“Assalmaulaikum umi” sambil mataku berkaca-kaca menahan rindu
“Walaikumsalam, umi baru saja akan menelfonmu Nuri. Ternyata sudah kedahuluan. Bagaimana hari ini apakah sudah selesai berbenahnya?
“Belum semuanya umi, hanya tempat tidur dan bersih tadi karena Nuri rasa hal itu yang paling Nuri butuhkan pertama kali.”
“Besok minta bantuan saja kepada Anton dan Ugi karena tadi abi sudah meminta izin kepada penjaga kostmu”
“Iya, Nuri tadi juga berfikiran seperti itu dan sudah menyampaikan kepada mereka berdua saat mencari makan tadi diluar”
“Jangan terlalu sering makan diluar Nuri, sebaiknya kamu masak sendiri karena itu sudah umi siapkan keperluanmu untuk beberapa hari kedepan. Jika sudah habis maka bii sayur akan berkeliling setiap pagi didepan kosanmu”
“Iya mi, ya sudah Nuri istirahat dulu ya” pamitku
“Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa kunci kamarmu dengan pasti sebelum tidur” pesan Abi yangmemang berada disamping umi saat itu.
“Baik bi”
__ADS_1
Setelah kau mengunci pintu dnjendela kamarku aku, bergegas menuju kasur yang sedari tadi sudah melambai-lambai kearahku.
Sepertinya nomer satu ini sudah tahu kapan waktunya aku istirahat, ting bunyi notif masuk ke rembo
“Malam manisku, maaf saat itu aku tidak bisa menemui karena da hal yang haruss aku lakukan. Aku berjanji akan menemuimu jika waktunya sudah tiba. untuk saat ini jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah melupakan aku”.
Setelah kau membaca pesan tersebut tanpa ingin membalasnya akumemejamkan mataku karena kau kecewa dengan pengagum locknut itu yang tidak berani memunculkan batang hidungnya didepanku saat masih berada didesa.
Keesokan harinya sesuia dengan perjanjianku dengan kedua sahabatku merakit lemari dan kompor mini untuk keperluanku memasak.
“Akhirnya selesaai juga”
“Cepat Nur, masak kami sengaja tidak sarapan karena ingin makan sarapan nasi goreng buatanmu”
“Baiklah kalian tunggu disini selesaikan merakit lemari aku akan kedalam untuk memasak”
“Jangan lupa telurnya setengah matang”
“Iya… bawellll”
Nasi goreng yang aku janjikan akhirnya matang dan aku bawa keruaang ditempat kedua sahabatku merakit lemari yang sampai saat ini belum selesai juga.
“Kenapa belum selesaai juga, bukannya itu sangat mudah? Tanyaku
“Iya nyonya, hamba tadi memasanya terbalik jadi harus dibongkar kembali” kesal Anton yang ditertawakan olehku dan Ugi.
“Sarapan itu hanya untukku, karen adari tadi Ugi hanya makan gaji buta. Dia hanya menyuruh saja” lapor anton
“Aku juga berhak atas nasi goreng itu, karena aku yang membaca tutorial yang ada dikertas ini” bela Ugi untuk dirinya sendiri.”
“Sudah jangan berdebat, kita makan saja dulu bru nanti kita lanjutkan lagi untuk merakitnya”
“Serbuuuu” jawab kami bertiga yangmendapat gelengan dari pakde penjaga kost yang memperhatikan kami dari tadi sambil merawat tanaman yang ada dihalaman kost yangmemang terbuka ruangan tersebut. Jadi biisa dipantau dari segala arah.
“Sarapan pakde” tawarku
“Terima kasih ndok, tadi sudah bersama budemu yang juga memasak nasi goreng.” Jawab pakde itu dengan ramah.
Waktunya kepulau mimpiiiii
*******
Jangan lupa
Like
__ADS_1
Comment
dan tekan tombol love ya…