
Doa adalah harapan dan semoga bisa menjadi kenyataan. Jadi semnagat dalam menjalani hidup ya pembaca.
“Abi, kapan Nuri boleh membawa bleki untuk kuliah? Khan enak jika ada bleki, mau kemana-mana tidak sulit. Karena langsung gassss”
“Nanti ya Nur, karena bai belum ada waktu untuk libur dan mengantarkan motor bututmu”
“Jangan menghina bleki ya bi, itu teman setiaku yang selalu menemaniku kemana-mana. Kepanasan, keujanan, sedih, senang dan kecewa” protesku karena abi sudah menghin ableki manisku.
“Masyaallah baru sebulan kuliah sudah pintar berpuitis, bukannya kamu kuliah nya dibidang KOmputer ya kenapa kompetensi yang kamu punya malah kebagian Sastra” canda abi diseberang sana.
“ Ya khan punya keahlian ganda bi”
“Semprul kamu, sudah yang penting kamu kuliah dengan benar dan serius. Nanti abi usahakan mencari libur agar segera dapat mengantarkan bleki bututmu. Assalamualaikum”
Belum sempat aku protes kembali sambungan telfon itu sudah diputuskan oleh abi juragan empangku. Ya sebutan itu hanya aku dan Nara yang tahu. Karena jika kami sedang keluar bertiga abi sangat royal kepada kedua anak gadisnya.
Belum juga selesai aku menggerutu atas kekesalanku terhadap abi, muncul notifikasi dari remboku.
“Selamat malam mahasiwaku”
“Malam juga fans lucknutku”
“Hssst mahasiswa enggak bagus ngomong gitu”
“Memangnya enggak boleh ya?
“ Ya enggak etis aja kalau sudah mahasiswa masih ngomong jorok”
Tidak tahu kenapa beriringnya waktu malah serasa aku mengharapkan chat dari penggemarku yang sampai sekarang
“Kapan mau nemuin aku dengan kesiapan waktu dan keberanian kamu yang masih bersembunyi?” pertanyaan itu masih aku ulangi kembali karena rasa penasaran yang masih menggunung
“Belum waktunya cantik, nanti suatu saat aku pasti datang buat nemuin kamu. Meskipun kamu tidak lagi memintanya.”
“Baiklah, aku akan sabar nungguin dan mellihat kapan waktu itu tiba dimana kamu menemui aku dengan rahasia yang kamu simpan selama ini”
“Jiahhhh dia sudah pintar untuk berpuitis”
“ Iya dong”
Kututup aplikasi yang ada dirembo tercintaku tidak lama kemudian ada sebuah notif dari kak Nengah
“Mimpi apa ini orang malem-malem chat aku bukannya tadi sudah selesai konsultasinya?” hatiku berdesis seperti angin malam ini. Sepertinya malam ini aku menjadi seorang selebapps yang laris manis tanjung kimpul.
“Malem dek, sudah tidur belum”
“Malem kak, ini masih mau tidur, tapi kakak keburu chat. Nanti kalau dicuekin siapa tau ada hal yang penting”
“Anak pinter, sudah ngantuk belum?”
“Maunya ngantuk kak, tapi ada apa ya kakak chat malem-malem?”
“Enggak boleh memamngnya?”
“Bukan gitu. Takutnya kakak nyari dot. Khan warung enggak ada yang buka udah malem gini”
“Mulai nakal berani ya sekarang?”
“Bukannya kakak ya yangngajarin berani?”
“Iya deh, ngomong-ngomong udah daftar tae kwon do dikampus belum?”
“Belum kak. Malah Nuri baru denger ini. Besok deh Nuri coba tanya-tanya”
__ADS_1
“Kalau mau enggak usah tanya-tanya, biar kakak besok bawakan formulirnya. Enggak usah kecentilan ya. Disana banyak anak cowoknya”
“Lah kenapa memangnya, khan mau kenalan. Sejak kapan Nuri enggak boleh kecentilan saam lawan jenis. Khan belum ada yang punya”
“Kalau sudah ada yang punya, jangan harap ya”
“Suka-suka Nuri dong, khan belum ada janur kuning yang melengkung”
“Jadi nantangin ini. Awas ya”
“kak Nuri boleh ngomong gk”
“Gak , ya bolehlah sejak kapan bawel izin dulu kalau mau ngomong?”
“Bener juga ya. Kakak ngekang Nuri gitu kayak Nuri ini anak tk yang minta izin buat beli siomai diluar gerbang sama mamaknya saja”
“Hufffttt bawel-bawel. Ya sudah tidur sana kalau sudah ngantuk”
“Asyiap bossssssssss”
Time is sleeping
Seperti serasa menyewa abodemen saja aku. Karena hampir setiap pagi kak Nengah menghampiriku untuk berangkat menuju kampus bersama.
“Helm sudah aman?”
“Sudah”
“Pegangan yang kenceng, aladin mau terbang. Ngengggggg”
“Kak jangan ngebut-ngebut. Nanti rambut Nuri susah dirapikan”
“Makanya rambut janagn ikal kayak tambang kusut”
Plak suara tanganku memukul helm kak Nengah yang tidak tahu dari mana keberanianku. Mungkin sisi antagonisku sudah mulai mengeluarkan taring dan tanduknya.
“Abisnya ngeselin”
Tanpa aba-aba gas kuda besi sudah semakin terdepan dan membuatku merafalkan mantra yang seperti koran tiada habisnya
“Kak jangan ngebut nanti kita bisa celakaaaa. Kalau enggak diturunin gasnya Nuri gigit ya punggungnya”
Karena tidak dilaksanakan titah dari sang ratu blorong maka spontan aku langsung menggigit bahu kak Nengah dengan sekuat tenaga gigi pepsod…ntku
“Iya ampun, sakit dek”
“Nah kalau gigit khan enggak kategori enggak sopan. Enak? Mau ditambahin lagi? Mau ngebut lagi? Mau gak dengerin paduka ratu lagi? Cerocos mulut bawelku
“Bawel”
“Biarin”
Perdebatan kami yang tidak berarti itu mengantarkan kami untuk sampai diparkiran kampus yang sangat berjubel sekali dengan kendaraan yang lainnya. Karena waktu kami datang adalah jam pertama kuliah maka semua aktifitas baru saja akan dimulai.
Setelah aku menyerahkan helm yang ku pakai tadi aku bergegas meninggalkan kak Nengah.
“Dek makasihnya mana?”
“Sudah tadi didalam hati” jawabku acuh
Hanya dibalas dengan gelengan kepala dan tonjokan dari kak Nengah.
“Masa bodo deh, khan aku enggak minta dijemput.” Monolog ku sendiri
__ADS_1
Kulangkahkan kakiku ke lantai 3 dimana kelasku hari ini menemui dosen killer itu. Untung saja tugasku sudah kuselesaikan dengan rapi dan untuk jawabannya aku tidak tahu apakah benar atau salah. Karena aku tidak bisa mendeskripsikannya.
Jika tugas itu adalah matematika maka aku bisa mengetahui hasilnya dengan mudah. Ini program sayyyyyy. Dimana kami dituntut untuk menghafal dan menjalankannya.
“Sssst Nuri….. tugasmu sudah?”
Hanya kujawab dengan anggukan kepala saja. Aku tidak mempunyai keberanian untuk berkata-kata jika dosen yang satu ini. Bulu mata salah melengkung saja bisa diusir dari kelas.
Memang sangat menggemaskan beliau ini. Ingin rasanya aku menggigit kumisnya yang menutupi bibirnya itu yang sudah menjuntai kebawah seperti tirai yang terkena angin ditepi pantai.
“Selamat pagi saudara sekalian, apakah kalaian sudah menyelesaikan tugas yang kemarin saya berikan. Silahkan kalian kirimkan tugas tersebut keemail saya. Bagi yang tidak mengirimkan tugas saya anggap tidak hadir hari ini”
“Dan satu lagi, jangan coba-coba untuk menipu saya, jika ada yang berani membagi atau memberikan contekan kepada rekan yang lain, maka siap-siap bertemu dengan saya disemester yang akan datang”
Seketika saja udara yang berada didalam ruangan tersebut berputar arah untuk keluar dari ruangan tersebut dan AC yang berada dikelas itu seakan menjadi panggangan sate yang tidak diberi kipas serta jantung kami berdetak lebih cepat seperti melakukan olah raga lari 1 kilo meter dalam waktu lima belas menit. Tidak ada satupun dari kami yang berani untuk mengeluarkankata-kata bahkan protes sekalipun.
“Untuk minggu depan mita sudah bis amemulai untuk praktikum di lab. Jika ada yang belum mampu silahkan sampaikan pagi ini agar saya bisa menindaklanjuti kekurangan yang ada pada saudara sekalian” lanjut dosen tersebut dengan sangat tegas
“Sementara belum pak, jikakami merasa kurang faham izinkan kami untuk menyampaikannya sambil mengikuti materi yang bapak sampaikan kedepannya” Jawabku dengan tegas
“Apakah selain saudara ada yang mempunyai pendapat lain?”
“Sementara tidak pak” jawab yang lain dengan kompak
“Baiklah, sembari saya mengkoreksi hasil tugas saudara sekalian silahkan fahami materi yang saya kirimkan digrup mata kulaih yang telah kalian bentuk”
“Baik pak” serempak kami menjawab dengan lantang karena takut merubah mood dosen killer didepan kami.
“Jika ad ayang merasa asing dengan materi tersebut, silahkan tanyakan dan jika ada rekanyang lain bisa membantu silahkan saja. Nanti saya tambahkan nilai anda sekalian sebagai tabungan nilai tugas.”
“Benar pak” Antusias Salwa
“Kamu yang namanya Salwa?”
“Iya pak” jawab Salwa dengan percaya diri
“Atas nama siapa emailmu disini?”
Dengan ragu Salwa menjawab seolah menyimpan sebuah misteri akan sikapnya tersebut.
Salwaslebewasolole@yahoo.com pak
“Ap aarti slebew aselole itu”
Sontak saja satu kelas yang entah mendapat keberanian dari mana sehingga dengan tanpa aba-aba menertawai nama akun dari Salwa. Bahkan ada beberapa mahasiswa laki-laki dn perempuan yang bersiul karena kegemasan terhadap nama akun dari salwa. Karen akau menjagam perasaan dari Salwa aku hanya menutup mukaku dengan binder dihadapanku dan menggelengkan kepalaku tanda ketergunanku terhadap kekonyolan salwa dipagi itu.
“Salwa… Salwa seperti tidak ada nama akun lainnya saja. Sekedar masukan saya dari saja saudara sekalian. Jika anda dikemudian hari akan menggunakan akun tersebut dilingkungan yang formal maka nilai dari etika saudara sudah berkurang, jadi lebih bijaklah dalam menggunakan dan menamai akun saudara sekalian.”
“Baik pak, syaa minta maaf. Besok saya akan menggunanakan akun yang lebih sopan lagi” jawab Salwa.
“Ya memang seharusnya demikian.”
Selanjutnya, doa danharapan yang aku yakin satu kelas pasti sama yaitu berharap jam beliau segera berakhir. Maka segera terijabah oleh maha kuasa.
“Baiklah saudara sekalian hari ini pertemuan kita cukupkan sampai disini dan pesan saya untuk belajar suka dan nyaman dengan mata kuliah maupun yang mengisinya. Karena jika tidak maka kalian kaan mengalami dan menemui kesulitan dalam mata kulaih yang saudara ampu saat ini. Terima kasih dan selamat pagi menjelang siang.”
“Baik pak” serempak kami kembali
Entah sampai kapan berakhir rasa penasaran ini biarkan waktu yang menjawabnya. Aku hanya mengikuti alur yang ada
Oh ya aku baru ingat masih ada tugas dari dosen killer itu
Bodok amatlah chat enggak penting ini.
__ADS_1
Setelah aku berkonsultasi dengan kak Nengah yang kebetulan satu jurusan denganku akhirnya tugas dapat terselesaikan dengan baik.
Waktunya aku tidurrrrr