
Semua yang ada di muka bumi ini bisa berubah kapanpun sesuai dengan keinginan masing-masing. Jadi harus bijak ya pembaca setiaku.
Akhirnya nilai yang kami nantikan terbit dengan cerahnya dan mendarat dengan sempurna pada hellypad nilai kami. Aku merasa sangat puas. Meskipun aku mengikuti ujina susulan tetapi nilaiku tidak ada yang remidi. Bahkan mendekati sempurna.
“Umi abi princessmu pulkam” seruku didalam bus saat kotak besi bisa berjalan itu meninggalkan terminal.
“Umi kaka Nuri pulang” girang Nara menyembutku peulang dan diikuti dari Monic, Argo dan Gibran
“Wah anak gadisku sudah pulang” sambut umi dengana senang yang menciumku dengan segenap kerinduannya.
“Mana abi mi?”
“Abi masih kerja dong, baru sebentar dikota sudah lupa dengan jadwal abinya” goda Nara
“Kakak kira abi libur karena menyambut kepulanganku.”
“Hei bangunlah putri tidur, kak Nuri bukan anak sultan yang kepulangannya harus disambut dengan karpet merah atau juragan pete yang disambut dengan tanjidor.” Ejek Nara
“Ya siapa tau mimpi jadi kenyataan” Harapku membalas ejekan dari Nara
Liburan semesterku diisi dengan kegiatan seperti biasanya. Membersihkan rumah dan membantu umi membuat nasi kotak dan kue pesanan dari pelanggan. Quality time untuk orang kaya dan dan full nguli untuk versi keluarga kami. Meskipun demikian kami selalu bersyukur dan menjalaninya dengansenang hati. Urusan orang lain tidak suka dan bergibah ria, abaikan!.
Tidak terasa waktu liburan selesai dan aku kembali kedunia lainku yaitu menjadi seorang mahasiswi yang bertarung untuk masa depan yang cerah.
Jelas saja hari-hari kuliahku diisi dengan nama kak Nengah. Semakin hari hubungan kami semakin dekat. Tapi yang membuatku terkadang merasa kesal karena kak Nengah tidak pernah mengungkapkan kata sepakat untukku menjadi kekasihnya entah apa yang menjadi alasannya.
Disuatu hari yang memang dalam keadaan hati dan raga sangat lelah, terjadilah adu argument dan pertengkaran diantara aku dan kak Nengah.
“Sudah dibilang jangan keluyuran enggak jelas, kalau mau ngeluyur ngomong dulu apa salahnya?! Khan bisa chat atau telfon? Mau kakak banting hand phonenya?! Garang kak Nnegah kepadaku yang kau rasa hari ini emosi dan sisi siluman kerbaunya keluar dan muncul
“Ngapain Nuri harus izin sama kakak? Nuri juga punya hak untuk berteman dengan siapa saja dan dimana saja! Tak kalah emosi aku menjawab amukan dari kak Nengah
“Nuri, kamu enggak ngerti kota ini banyak sekali orangyang bermuka dua. Baik didepan tetapi mempunyai tujuan yang menyesatkan! Coba kakak tanya kamu ngapain hari ini ke tempat karokean dengan jumlah lelaki lebuh banyak dari pada wanitanya, hah?! Jawab jangan Cuma nunduk, diam, ujung-ujungnya nangis!”
Tanpa terasa air mataku sudah mengalir dengan sendirinya. Entah kenapa selama ini kau tidakpernah merasa kak Nengah memanggilku dengan sebutan nama langsung terasa sangat sakit dan merasa terasingkan.
“Ngapain malah nangis?! Kakak nyanya dimana jawaban yang harus kakak teriam bukan tangisan seperti sekarang ini?”
“Kakak bilang Nuri tidak boleh ini tidak boleh itu, Nuri harus ini Nuri harus gitu. Memangnya Nuri ini siapa kakak. Nuri akan nurut sama kakak kalau Nuri sudah mendapatkan kejelasan tentang hubungan kita. Nuri yakin kita berdua bukan orang yang bodoh. Ada sesuatu diantara kita kak. Nuri nyaman dan merasa bingung kalau enggak menerima kabar dari akak. Begitupun sebaliknya kakak akan marah jika Nuri bergaul dengan cowok lain atau Nuri pergi tidak izin. Kenapa kakak cemburu, marah khan? Nuri butuh satu kata kak. Kejelasan, dan sampai saat ini kaka tidak ada keberanian bilang itu. Maaf jika Nuri sudah terlalu berharap sama kakak, tapi jangan salahkan Nuri karena semua itu kakak yang menciptakan. Muali sekarang silahkan kakak pulang, renungi kata-kata dari Nuri dan tentukan status kit ayang sebenarnya”
Lalu aku melangkah pergi masuk kedalam gerbang kosan dengan amarah yang sudah diujung puncak Himalaya dan dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
“Dek tunggu dulu kakak belum selesai berbicara!”
Tapi akau tidak lagi menghiraukan teriakan darinya. “Kuharap kamu bisa mengerti apa yang akum au dan kamu uga harus bersikap tegas kak” Monolog hatiku
Sudah ada satu minggu aku lalui kegiatanku baik berangkat ke kampus maupun belajar tanpa ada bayang-bayang kak Nengah. Semua kurasa ada yang kurang dan seperti ada yang kosong. Tapi aku harus tegas supaya tidka dianggap remeh oleh kak Nengah.
Malam minggu itupun datang dengan teratur, aku hanya membioolak balikkan rembo berharap ada chat dari kak Nnegah tapi al hasil nihil sampai aku tertidur. Suara adzan subuh memmbangunkanku untuk menunaikan panggilan dari sang pencipta hidup langit dan bumi yang aku tempati. Setelah shalat subuh selesai, karena besok adalah hari libur dan bebas dari tugas. Aku menggapai rembo yang tampan. Disana ada berpuluh- puluh panggilan dan tak kalah chat yang sudah menumpuk yang aku tidak tahu pukul berapa saja itu berada didalam remboku.
Ada rasa senang dan kecewa disana, karena kak Nengah yang menghubungi tetapi hatiku masih terasa kesal.
“Besok pagi dandan yang cantik mau kakak ajak kesuatu tempat” itulah chat terakhir yang aku baca karena chat sebelumnya merupakan kata
“Dek”
“Nuri” dan lalala lalalalalalala lalalalallalalallalala
“Enggak mau, Nuri masih ngambek sama kakak”
Hanya berkedip dan masih centang grey, yang membuat kau merasa kesal karena menunggu.
Mengapa aku kesal, seharusnya aku biasa saja. Benar sudah ada rasa rindu dan syang kepada kak Nengah. Maka dari itu jangan sembarnagan dengan kata jaman petuah kuno “TRESNO JALARAN SEKO KULINO”
Seteah selesaai aku membereskan kamar, masih ada perasaan berharap untuk balasan chatku, dan pucuk dicinta ulampun dimakan.
“Udahan ya ngambeknya, kita baikan. Kakak kangen ini enggak ada yang bawel. Ya sudah nanti kita bahas semua ya uneg-uneg yang ada didalam hati masing-masing. Belummandi khan, buruan mandi. Jam delapan kakak jemput buat sarapan, dan dijamin gratis” disertai emoji tertawa
“Seperti robot yang sudah ada pengontrolnya, aku bergegas mandi dan bersiap-siap dan sengaja tidak sarapann. Padahal aku sudah memasak ala mewahnya anak kost. Cah kangkung dan lele goreng. Sedahappppppppp.
Tidak terasa waktu yang telah ditentukan sudah membunyikan alarmnya, danitu membuatku lebih bersemangat dan melupakan amarahku yang terpendam selama seminggu ini. Benar sekali, ada kerinduan disana.
Waktu sarapan itu akhirnya selesai, dan adegan tengil itu kembali ketempat asalnya
“Sudah dek?”
“Sudah”
“Bayarlah!”
“Idih kakak yang ngajak, kakak yang bayarlah. Nanti kalau Nuri sudah kerja Nuri yang traktir”
“Baru juga semester tiga, sudah songong” meninggalkanku sambil menjitak manja kepalaku
__ADS_1
“Mau ikut uda jadi pegawai baru apa mau ikut kakak ke laut?” perintahnya
“Hah kelaut? Nuri tidak bawa jaket, helm dan belum izin dengan pakde kak” sungutku
“Ya sudah kita kembali ke kosan mengambil alat perangmu dan sekalian aku akan izin ke pakde
“Asyiappppp”
Sesampainya dikosan aku langsung menuju kamarku dengan semangat untuk mengambil jaket dan helmku, sedangkan kak Nengah langsung menemui pakde sang penjaga kosan untuk meminta izin. Karena pakde sudah hafal dengan kak Nengah maka aku langsung diberikan izin dengan catatan tidak boleh pulang terlalu malam dan meminta oleh-oleh cumi dari laut. Karena kak Nengah memmang royal maka langsung saja di setujuinya meskipun nanti dapat atau tidak.
“Pakde Nuri pergi dulu ya”
“Iya, hati-hati ndok ingat pesan pakde waktu itu”
“Siap pakde”
“Lah mau kemana lagi ndok, kan pintu keluar disana kenapa malah mau kedapur?” tanya pakde
“Mau pamit sama bude” Tukasku
“Sudah tidak perlu, karena budemu masih kepasar. Nanti pakde sampaikan”
“Baiklah kalau begitu, pergi ya… Assalamualaikum”
“Walaikum salam”
“Pegangan” Sentak kak Nengah
“Bawellllllll”
Dan minggu itu kami ke laut dengan perasaan yang tidak diketahui m asing-masing. Tapi yang jelas aku sangat senang.
*******
Jangan lupa
Like
Comment
dan tekan tombol love ya…
__ADS_1