Mawar Hitam

Mawar Hitam
Gasss


__ADS_3

Pagi ini kami berlima berdandan serapi mungkin karena hari ini adalah moment yang selalu mendebarkan dan kami nantikan.


Saat bagi raport, jika kami mendapatkan nilai yang bagus maka akan menanti hadiah yang kami dapatkan.


Tetapi jika nilai kami ada yang merah maka alamat kami tidak bisa mengikuti liburan yang menyenangkan. Hal itu diterapkan oleh orang tuaku sebagai penyemangat kami belajar.


Untuk mengambil Raportku sudah tidak lagi dilakukan oleh umi, karena harus mengambil ke SD XXX, sekolah Monic dn Argo yang juga menjadi satu dengan TK tempat Gibran bersekolah.


Sedangkan untuk raportku dan Nara dilakukan oleh abi. Karena memang sekolah SMP XXX sekolah Nara dan SMK XXX bersebelahan dengan sekolahku yang memang 1 cabang.


Saat mendebarkan itu tiba dan harap-harap cemas. Karena jika nila yang ada diraport tidak sesuai dengan perjanjian sudah pasti alamat kami tidak akan mendapat hadiah melainkan mendapatkan hukuman dari orang tua kami.


Kulihat Nara sudah datang bersaama abiku, dnegan muka yang biasa saja dan tidak ada yang heboh. Sudah boisa ditebak hasilnya, pasti Nara mendapatkan nilai yang aman. Jika tidka Nara pasti sudah gelisah dan menangis menerjangku.


“Sssst, gimana? Apakah nilai raportmu aman Nara? Jangan merusak rencana kita liburan dengan bude ya” tanyaku penuh selidik


“Kasih tau gak ya” Goda Nara yang memang senang mengerjaiku jika saat bagi raport


“Gimana aman enggak?” desakku


“Aman” sambil mengangkat jempolnya dan tersenyum bangga padaku


“Juara berapa?”


“Seperti biasanya, el i em a” dengan bangga dan mengangkat kelima jari kanannya


“Anak cantik” bisikku


“Kenapa tidak pernah bilang anak pintar sama yang kak Nuri ucapkan kepada Monic dan Argo


“Karena kamu belum masuk kriteria itu, jadi sementara anak cantik dulu ya” Timpalku menggodanya


“ Ya Allah, Nara mau jadi anak pintar saja tidak mau jadi anak yang cantik” gayanya dibuat sememelas mungkin dengan menegadahkan kedua tangannya.


Yang sudah pasti aku tahu bahwa itu hanya sandiwaranya saja dan kubalas dengan mencebikkan mukaku kepadanya yang dibalas dengan juluran lidah darinya


Dan kami berduapun tertawa bersama.


Meskipun demikian kami hamper tidak pernah berselisih pendapat karena Nara sangat baik dan perhatian kepadaku.


Tidak jarang dia memaksaku untuk merawat penampilan dan menasehatiku untuk tidak cuek dan selalu belajar dengan serius.


Sebaliknya aku selalu menasehatinya, bahwa cantik saja tidak cukup tetapi juga aharus pintar.


Ya begitulah hukum alam, untuk saling mengisi dan melengkapi

__ADS_1


Mengapa selalu seperti diatur oleh pihak sekolah, di sekolah SMP XXX pagi untuk pembagian raport sedangkan di SMK XXX siang, itu karena beberapa guru dan orang tua dikedua sekolah tersebut anaknya juga bersekolah disekolah yang sama. Maka dibuat kebijakan tersebut supaya tidak mengecewakan hati para siswanya.


Orang tua siswa sudah masuk keruangan masing-masing dimana tempat anak-anak mereka bersekolah.


Kelas X TKJ 1


“Selamat pagi orang tua wali dan siswa yang saya banggakan, siang ini kita akan berrsama-sama membagikan dan menerima hasil anak kita belajar selama semester ini. Harapan kami jika anak-anak dapat meningkatkan lagi belajar dan mempertahankan semangat belajar supaya kegiatan belajar mengajar berjalan sukses seuai dengan yang kita harapkan. Bagi siwa yang hasil belajarnya kurang maksimal mari bersama-sama baik siswa, orang tua dan saya selaku wali kelas untuk merubah hal tersebut untuk menjadi lebih bersemangat lagi dan menjadi sesuai yang diharapkan.” Sambutan dan pesan dari wali kelas kami ibu Desi


“Begitupun harapan kami, bu. Jika ada segala sesuatu yang tidak sesuai dengan peraturan belajar mengajar disesoklah ini terkait dengan anak kami, supaya guru dapat menyampaikan ke mai selaku orang tua siswa” jawaban dari salah seoarang wali yang ternyata adlaah orang tua dari Amri. Lelaki gagah berkumis tebal dan tinggi besar seperti artis dimana sangat berkarisma.


Tentu saja aku berfikir dengan sangat keras pada saat aku mengetahui bahwa itu adalah orang tua Amri “kok bisa ya ayahnya sekeren itu anaknya melambai” tanyaku dalam hati


“Pasti lagi mikir ya, mikirin ayahku yang keren itu. Dasar ular sanca busuk” bisik amri kepadaku, yang kujawab dengan senyuman malu karena seperti pencuri yang ketahuan dari pemilik rumah.


“ Sok tahu” jawabku singkat


Akhirnya suara berisik karena berbisik itu terdengar mengganggu dari wali kelas bu Desi yang memerintahkan kami untuk menghilangkan suara jika tidak raport kami tidak akan dibagikan.


Dengan sekejap kelas terdengar sangat sunyi karena peringatan dari bu Desi.


Setelah bu Desi memanggil nama kami sesuai denga urutan absen maka siswa dan orang tua wali maju untuk tanda tangan dan menerima raport.


Tiga puluh lima raport sudah diterima dengan baik, dan semua orang tua dan siswanya membuka raport secara bersamaan. Yang diringi dengan kalimat pamungkas dari bu Desi selaku wali kelas.


“Baiklah bapak, ibu dan anak yang ibu banggakan. Raport anak-anak kita sudah diterima dengan baik. Apakah ada yang merasa keberatan dengan hasil tersebut. Mari kita bahas bersaama supaya menemukan titik terangnya” penjelasan bu Desi


“Kalau saya boleh tahu apakah yang mebuat anda kurang nyaman dengan hasil belajar anak ibu” jawab bu Desi yang juga penasaran


“Karena biasanya anak saya ini saat SMP dulu nilainya selalu jelek, kenapa sekarang saya rasa lumayan bagus ya bu padahal saya tahu anak saya ini sangat malas belajar . apakah karena suami saya salah satu yang mendonaturkan peralatan praktikum disini?”


Pertanyaan itu jelas mengundang keheranan dari semua yang ada didalam kelas tersebut dan tidak juga luput dari abiku yang sotak langsung menengokkan kepalanya kearah belakang dengan menatapnya sekilas lalu menoleh kembali kedepan yangsama dengan menuntut penjelasan seperti orang tua wali yang lainnya.


“Semua itu tidak benar bu, saya disini tidak pernah memanipulasi hasil belajar anak ibu bapak sekalian. Semua itu murni dari hasil belajar anak-anak. Jika hasil yang tertera diraport tersebut seharusnya bapak ibu bisa lebih mengkontrol proses be;lajar anak bapak ibu sekalian. Untuk kasus Sisil disini saya rasa saat di SMK ini Sisil sangat antusias dalam belajar, mungkin teman disekitarnya memeberikan hal yang posotif dan Sisil berada dilingkungan teman yang tepat.


Jadi saya rasa ibu patut berbangga kepada Sisil dan berterimakasih kepada teman-temannya yang sudah memotifasinya untuk menjadi lebih baik” Penjelasan bijak dari bu Desi


Dapat dibaca keharuan dari muka ibu Sisil yang menyiratkan bahwa itu adalah sebuah kebanggan yang tiada tara.


“Untuk teman-teman yang sudah membantu Sisil, ibu harapkan pertahankan kekompakan kalian yangsaling mendukung dan mempertahankan prestasi begitupun dengan yang lainnya” Imbuh bu Desi


“Sil juara berapa? Bisikku sambil menengok kebelakang


Hanya dijawab dengan mengangkat kedua tangan dengan menegakkan kesepuluh jarinya dengan senyum termanis Sisil. Yang diikuti dengan usapan lembut dikepala Sisil dari ibunya.


“Abi, lihat orang tua Sisil. Juara 10 saja orang tuanya sangat bangga, kenapa jika Nuri yang bergeser sedikit saja nilainya abi langsung meruqiah Nuri habis-habisan?” protesku yang dijawab dengan ketukan batu kaik abi dijidatku yang tak luput gelengan dari abi yangkurasa terlihat heran.

__ADS_1


Adalagi yang membuat kami tercengang dan kelewat narsis disaat kami bagi rapot saat itu. Apakah itu?


“Bunda dikelas ini ada calon menantu dan besanmu” celetuk Fajar dengan wajah tanpa dosanya


Dengan secepat kilat bunda Fajar menjewer kuping Fajar dan sambil mengomel manaja menurutku saat itu.


“Eeehhhh anak amsih bau kencur, jajan masih minta sama bunda sudah beraninya berbicara tentang anak mantu, mau kamu kasih makan apa Fajar jika kamu seperti ini?


Kamu itu harus belajar yang benar supaya bisa kuliah, kerja bagus dan bisa dibanggakan didepan mertuamu.


''Sontoloyo” Omel bunda fajar yang diikuti dengan sorakan riuh dari satu kelas.


Bu Desi hanya menggelengkan kepalanya untuk kesekian kali menghadapi interaksi antara orang tua dan siswanya disiang ini.


Akhirnya acara bagi rapot itupun selesaai tanpa ada perdebatan yang Panjang. Setelah kami berenam mengucapkan salam pada masing-masing orang tua, kamipun pulang kerumah masing-masing.


Saat diparkiran Amri kembali menggodaku “ Ular sanca, titip salam ya, buat calon mertua” ucapnya PD


Yang aku yakin saat itu adalah gurauannya saja


“Boleh, tapi harus jadi laki-laki tulen dulu. Baru aku sampaikan” jawabku menantang dan menyelidik


“Hufft kalau itu sudah harga mati tapi tidak bisa ditawar lagi, aku juga ingin seperti papaku tapi sudah dari sananya begindang say” jawabnya sambil melambai


“Siapa yang mau nitip salam sama saya? Tiba-tiba suara bi mengejutkan kami berdua yang diikuti gerakan tembakan dari tangan Nara kearah Amri


“Pulang duluan ya om” jawab kilat Amri tanpa ingin menjelaskan lebih rinci lagi


Diikuti dengan gelengan kepala dari abi dan senyum puas dari Nara.


Untuk mencairkan suasana, aku dan Nara mengajak abi untuk mampir merayakan dengan mampir di kios mie ayam langganan kami jika umi malas masak disore hari jika hari libur.


“Abi” Seru Nara


“Hemm” jawab abi singkat


“Dapet salam itu dari pak slamet” kode dari Nara. Dimana pak Slamet adalah nama penjual mie ayam yang menurut kami paling enak diantara jagad raya saat itu.


“Ayo, siapa takut. Gassss ” jawab abi menandakan ajakan kami berhasil


*******


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Comment


dan tekan tombol love ya…


__ADS_2