Mawar Hitam

Mawar Hitam
Bude VS Pakde


__ADS_3

Sesuai dengan peraturan yang berlaku yang telah ditetapkan dan disahkan oleh undang-undang yang berlaku, singkat cerita kami mendapatkan tiket berlibur.


“Besok kalau jadi ikut bude jangan minta yang aneh-aneh Argo, Nara” Pesan umi


“Siap boss” saut Nara dan Argo kompak. Karena diantara kami berempat jika episode minta hadiah ke bude dan pakde pasti yang paling mencengangkan. Memang tidak merepotkan bagi bude dan pakdeku. Tapi menurut hitungan dari umi dan abi sudah terlalu seperti lagu Rhoma Irama sang raja dangdut.


Tujuan kami berlibur tidak lepas dari laut dan waterboom yang sekaligus terdapat kebun binatangnya. Dan sebagai penutupnya kami akan diajak nonton dan berbelanja di mall xxx.


Aku selalu melirik dengan kebutuhan sekolah yang sekaligus pelengkap bahan belajarku yaitu buku modul terbaru, yang tidak jauh beda dengan Monic. Kami berdua memiliki kesamaan yang tidak jauh berbeda.


Jika Argo dan Nara selalu membuat geleng kepala. Mereka akan mencari fashion terbaru yang akan dipamerkan dengan teman disekolah nanti. Contohnya sepatu, jaket dan topi. Mereka berdua selalu merasa mall itu milik mereka sendiri karena pakde sellau menjawab “tidak apa, toh juga tidak setiap hari”


Bisa dibayangkan betapa besaar hati dan kepala mereka saat aku mengingatkan pesan umi dan abi saat dirumah.


Untuk si kecil Gibran sudah pasti tidak jauh-jauh alat mewarnai dan buku cerita terbaru. Padahal keduanya sudah banyak dan masih bagus.


Akhirnya liburan kami selesai, hanya tersisa lelah dan semngat 45 untuk belajar kembali. Dua hari lagi sudah masuk sekolah. Kami semua sudah sibuk mempersiapkan alat dankepentingan untuk sekolah kembali. Mulai dari seragam dan buku.


“Argo, cuci sepedamu supaya terlihat dan berbentuk sepeda manusia, bukan sepeda elien” Tegurku


“Nanti siang kak, Argo masih malas jika pagi-pagi begini terkena air. Jika nanti siang terasa main hujan dan menyegarkan”


Selalu ada saja jawaban dari Argo jika mendapat nasihat atau peringatan dari kami. Meskipun semua itu nantinya akan tetap dilaksanakan.


Seninpun tiba dan menyambut kami dengan senyuman mentari termanis.


“Umi, Nuri sekolah ya, assalamualaikum” lanjutku setelah mencium tangan wanita terhebat dalam hidupku.


“Ya, hati-hati naik motornya. Nara itu temanmu sudah ada didepan.”


Mengapa Nara tidak membawa motor sendiri? Karena Nara berboncengan dengan teman Satu sekolahnya. Sehingga selama seminggu akan bergantian membawa motor umi. Jadi itu akanlebih irit menurut umi dan mudah mengontrolnya.


Sedangkan untukku membawa motor sendiri karena tidak ada teman yang berdekatan untuk kesekolah dan juga aku terkadang pulang sore karena mengikuti ekskul dan lainnya.


Monic dan Argo menaiki sepeda karena memang masih SD dan dekat dengan rumah. Sedangkan Gibran cukup diantar jalan kaki saja karena jarak TKnya hanya 50 meter dari rumah kami.


Setibanya dikelas ada sesuatu yang membuatku langsung penasaran tingkat dewa.


“Amri,. Makasih ya oleh-olehnya” seruku


“kepedean kamu, itu bukan dariku. Justru aku ingin membukanya tapi menurutku itu bukan untukku. Karena itu tulisan yang membuatku ngeri untuk membaca dan membukanya” Sewot dan sanggah Amri


“MY LOVELY”


Tulisannya menentramkan jiwa tapi kenapa kardusnya seolah aku adalah seorang pecinta berat mi instan ya? Dalam hatiku bertanya-tanya

__ADS_1


“Heh malah bengong, cepat buka aku jadi penasaran” ucap Sisil yang sudah mengamatiku dari tadi dan dibarengi dengan Rumi dan Mia mendekatiku


“Yaaah pagi-pagi ada yang sudah jadi korban bucin” Cebik Fajar


Yang dibalas dengan tatapan menusuk dari Sisil.


“Kalian saja yang membuka, aku takut nanti isinya boom”


“Sudah biar aku saja” sambar Amri


Jeg jeng jengggggggg


Ingin tahu apa isi kardus mi instan tersebut?


Kasih tau enggak ya…..


“Wahhhhhhh lucu sekali, buatku saja jika kamu tidak menginginkannya Nuri” Gemas Mia


“Enak saja, meskipun aku tidak mengetahui pengirimnya tetapi jika melihat yang lucu begini aku juga mau to-inggggggg” sambil Nuri membekap tubuh Mia dengan pelukannya


“Dasar munafik. Katanya takut tapi dikasih hadiah yang begitu aneh saja sudah senang” wanita memang aneh cerocos Fajar


Yang dibalas dengan tatapan tajam dari Rumi, Mia, Sisil dan aku.


“Oh MG ternyata ada coklat S******* Q*******nya juga. Wah ini pasti dari lokal, karena jika dia mahluk luar negri bukan merk ini yang diberikannya” Analisis Amri


Yang dilanjutkan dengan sambaran tangan Sisil yang secepat kilat tak rubahnya angina yang tak kasat mata untuk meraih coklat tersebut dan lalu memakannya.


“Bismillah, hummmm yummmyyyyyyy”


Kami hanya tercengang dengan aksi Sisil jika ada sebuah makanan manis. Dia tidak akan memperdulikan apakah beracun, kadaluarsa dan milik siapa. Sudah seperti miliknya sendiri Sisil memakan coklat tersebut dengan tanpa dosa dan tanpa sisa.


“Sisil” teriak kami bertiga (aku, Rumi dan Mia)


Tragedi pagi ini ditutup dengan kepuasan Sisil dan di awali dengan pelajaran Pdoduktif di Laboratorium TKJ sesuai dengan jurusan kami.


“Ya Allah kenapa serasa bagai setahun tidak meghirup udara selama 3 jam kita berkutat di depan komputer” Keluh Mia


“Sebaiknya kita cari mak Sumi saja, hanya dia yang bisa menyegarkan” ajak yang diikuti gerakan kaki kami . seperti di hipnotis mengikuti gerakan dari Amri


“Mak Sumi seperti biasa enam gelas dan enam mangkuk ya”


“Ocreyyyy”


Setelah pesanan kami datang tanpa komando kami berenam langsung menyerbunya dan menghabiskan sampai tandas dan tanpa sisa. Setelah selesaai kami memberi makan cacing dan kodok yang bersarang didalam perut. Kamipun kembali kekelas karena bertepatan dengan bel tanda masuk setelah istirahat sudah memanggil dan menginstruksikan penghuni sekolah untuk mencari habitat kami masing-masing 😆 😆 😆

__ADS_1


Disetiap sekolah pasti ada saja sosok yang di idolakan, disayangi dan dinanti-nantikan. Saama halnya disiang ini. Jam ke empat adalah pelajaran dari sosok yang ditakuti oleh anak-anak, dia adalah seorang laki-laki berkumis tebal, berbadan tinggi dan berkulit hitam dengan suara yang sangat menggelegar.


Siapa lagi yang kami nanti-nantikan guru pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Budi. Beliau adalah guru yang sangat baik tetapi jika ada yang melanggar salah satu perjanjian kami dalam belajar dikelas maka pasti tidak akan terbayangkan oleh kami apa yang akan terjadi saat itu juga.


Taringnya seketika itu akan memanjang dan offside dari mulutnya, tanduk akan muncul dari kepala dan mata akan dengan merah menyala-nyala dan siap menyambar siapa saja.


Disetiap tatap muka dengan beliau tidak ada satupun yang berani untuk melanggar bahkan menganggapnya sepele. Tetapi semua itu berefek baik untuk kami. Dengan begitu kami menjadi disiplin dan sadar akan tugas.


Pernah disuatu ketika kami belum terlalu mengenali beliau. Karen amasih berimbas disaat kami sekolah SMP dulu yang masih terkesaan manja dan selalu harus diingatkan. Salah satu dari kelas kami lupa mengerjakan tugas, maka sejak saat itu kami mengetahui sisi gelap bapak Budi.


Untuk kami satu kelas, dihukum menuju lapangan upacara dengan berbaris rapi kami harus menyanyikan lagu “kami tidak akan mengulangi lupa mengerjakan PR bapak Budi yangsangat baik hati”


Jelas saja kami yangmengucapkannya dengan gejolak hati yang sulit dirumuskan dan diterka.


Ditengah terik matahari, haus yang menghampiri dan kaki yang mulai pegal serta baju yang sudah basah karena cucuran keringat yang dengan tanpa sopannya berseluncur dipunggung kami.


Sejak saat itu kami sudah jera jika ingin mengabaikan pak Budi, meskipun demikian beliau adalah sosok keuda yang kami idolakan setelah bu Desi wali kelas kami.


“Baiklah anak-anak, setelah kalian mencatata materi dan mendengar penjelasan dari bapak adakah yang kalian anggap kurang faham”


“Tidak ada pak, hanya sedikit saja “


”Itu namanya ada, silahkan sebutkan bagian mana yang kalian kurang faham”


“Mengapa dalam berpidato, orang harus menguasai bahasa pak? Mengapa tidak menggunakan kode saaja”


“ Baiklah bapak akan menjawab pertanyaan dari kalian. Dalam berpidato kita harrus menguasai bahasa karena bahasa sebagai sarana berkomunikasi. Baik itu untuk didengarkan, diperhatikan dan dilaksakana dengan mudah dan baik.


Sedangkan jika kita menggunakan kode itu akan membuat penerima informasi merasa kesulitan dikarenakan tidak semua orang mengerti akan kode tersebut.” Apakah bisa difahami?


“Bisakah diberikan contoh pak”


“Bapak ambil contoh satu pidato dihari senin saat upacara” anak-anak jangan lupa untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Apa yang terjadi jika sang guru menyampaikan pidatonya hanya dnegan menunjuk sampah dan saja? Apakah kalaian semua akan mudah faham? Bapak rasa kalian akan pura-pura tidak tahu apalagi kalian sangat suka membuang sampah pada bukan tempatnya ”


“Apakah sudah faham sekarang?”


“Sudah pakkkkk”


“Baiklah sampaidisini dullu pertemuan kita hari ini, bapak akhiri dan selamat siang”


“Siang pak”


Jangan lupa tekan tombol


Like

__ADS_1


Comment


dan tekan tombol LOVE ya…


__ADS_2