
Semua yang ada di muka bumi ini bisa berubah kapanpun sesuai dengan keinginan masing-masing. Jadi harus bijak ya pembaca setiaku.
Tidak terasa sudah hampir mendekati ujian semester. Tentu saja semboyanku tidak akan pernah berubah yang mencapai puncak gunugn Himalaya.
Karena tubuhku terlalu kuforsir untuk belajar, sampailah hari yang paling tidak aku inginkan. Di hari ujian terakhir salah satu bagian tubuhku harus merasakan indah dan nikmartnya jarum infus yang sudah bertengger dengan manis disalah satu tanganku.
Rasanya penat sekali harus terus berbaring dan istirahat untuk menunggu kesembuhanku. Aku tidak memberi tahukan kepada kedua orang tuaku karena aku tidak ingin mereka khawatir.
Karena aku memiliki kartu B….S untuk bisa dirawat dengan mudahnya.
Hanya kak Nengah yang mengetahui tentang keadaanku dan beruntungnya aku dia menemani dan bersedia dan bersusah payah serta dengan telaten merawatku selama berada dirumah sakit. Mulai dari membawa pakaiaan kotor dan menyiapkan kebutuhanku selama dirumah sakit. Semua hal tersebut tidak pernah aku memintanya, tetapi kak Nengah sendiri yang bersedia untuk membantuku melakukannya.
Eitttssss jangan fiktor ya, untuk ke kamar mandi aku memintanya cukup di depan pintu kamar mandi saja, selebihnya aku paksakan untuk melakukannya sendiri.
Pagi itu aku belum diizinkan oleh dokter untuk pulang karena kesehatanku belum terlalu pulih maka dengan sangat terpaksa aku menahan keinginanku untuk segera menemui kasur empukku yang sudah berteriak-teriak memanggilku.
“Dek” Panggil kak Nengah dipagi itu yang baru saja datang dengan membawa kebutuhanku pagi ini. Tetapi yang membuatku heran adalah wajahnya yang sangat tegang dan merasa ketakutan.
“Iya… kenapa muka kakak sepertiorang yang mau dikejar maling seperti itu? Jawabku tak kalah takut dan heran yang bercampur aduk menjadi satu kesatuan meskipun berbineka.
“Kak kak kenapa seprei itu menjadi dua warna seperti itu” tunjuknya serta bola matanya yang melihatku dan kearah tempat tidur secara bergantian.
“Mana?” jawabku spontan yang berbarengan dengan bola mataku mengarah ke telunjuk kak Nengah
“Astaghfirullah al adzhim….., kak… Nuri datang bulan. Bagaimana ini? Jawabku dengan penuhkepanikan
“Tenang… tarik nafas yang dalam… buang…” sambil mempraktikkan sehingga seolah-olah lagi melakukan senam hamil.
Tau senam hamil? Kaen akau pernah mengantarkan dan menemani kakak ipar dari sepupuku. Sudaah suudzon saja pembaca ini.
“Kak… Nuri ini serius. Gimana ini?
“Sudah jangan panik, apa yang bisa kakak lakuakan untuk membantumu?”
“Nuri butuh roti yang bersayap”
Seketika sentilan itu mendarat dikeningku. “ Lagi serius ini, jangan bercanda”
“Nuri juga lagi serius, bahkan seriusnya tujuh turunan ini! Nuri butuh pembalut kak”
“Ngomong kalau butuh pembalut, jangan pakai kode yang tidak aku mengerti dengan bahasa kalbumu itu. Ya sudah tunggu disini biar kakak belikan di minimarket dibawah”
“Kakak enggak malu?”
“What for, it’s easy! Anything for you mom’s anacondhaaaaahhhh” ucapnya dibuat selebai mungkin sambil ngeluyur melangkahkan kakinya meninggalkan diruangan sendirian
__ADS_1
“Baru kali ini kau menjumpai ada cowok yang tidak malu untuk membeli senjata pusaka kaum hawa itu” hatiku bermonolog sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalaku heran dan kagum atas perlakuan kak Nengah pagi ini
Setelah beebrapa menit, yang menghilangpun muncul kembali dan membawa 1 plastik dan langsung menyerahkan kepadaku
“Ini”
“Kak… Nuri hanya butuh satu saja. Tidak butuh sebanyak ini. Karena bukan untuk membuka toko roti bersayap”
“Abisnya kakak bingung, tadi pas ditanya embaknya dia nanya kakak balik. Lah Kamu nanyeaaa? Dari pada salah dan kakak balik lagi ya dengan inisiatif dari hati yang paling dalam kakak ambil saja beberapa macam” dengan jawaban polos dan diikuti tepuk jidak dariku.
“Kak bantuin kekamar mandi” Titah sang ratu
“Baik nyonya” yang diikuti dengan sikap hormat kearahku
‘‘eitsss sampai pintu saja, tidka usah ikut masuk!” Jawabku ketus
“Kiraian mau dibantuin juga, sekalian belajar jadi calon suami siaga”
“Enggak usah ngelantur deh, jika hanay untuk mengangkat tiang infus ini untuk menghajarmu, Nuri masih sanggup kak” dengan iringan plototan dari kedua mataku yang sudah mau keluar dari kelopaknya
“Ya niat kakak itu baik dek, kalau tidak mau ya sudah” jawabnya santai.
A fiew moment later…
“Kak bantuin, darahnya naik ke infus” benar saja mungkin karena aku terlalu banyak bergerak dan lupa untuk mematikan aliran infusku maka darahku naik menuju selang yang berangsur keatas.
“Nuri serius setengah mati ini, malah ngaja bercanda”
“Iya ini kakak lagi bantuin, bawel banget ya? Entah siapapun calon suamimu nanti dek. Kakak berdoa semoga dilimpahkan kesabaran yang sangat luar biasa.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga, tentu saja aku sambut dengan sanagt senang sekali. Bagaimana tidak aku bisa keluar dari rumah sakit dan bisa beraktifitas kembali.
Karena alkau tertinggal ujian beberapa mata kuliah karena diopname kemarin. Maka yang kulakukana dalah menemui dosen yang bersangkutan. Setelah aku menyelesaikan ujian susulan tersebut aku tidak bisa memutuskan langsung pulang karena harus menunggu nilai keluar dan pengumuman terbaru dari kampus.
“Dek kamu enggak pulang kampung?” tanya seseorang dari belakangku saat aku masih ada diperpustakaan untuk mengisi masa tunggu nilai kami keluar.
“Belum berani pulang kak, karena jika ada masalah dengan nilai dan mata kuliah maka akan lebih repot untuk menyelesaikannya. Kakak sendiri mau pulang?”
“Sama saja seperti kamu, menunggu nilai keluar sekalian biar tidak repot. Apalagi nilai yang masih belum terbit dari dosen kiler itu. Horror saja mau pulang sebelum merdeka”
“Kak, ajak Nuri nonton dong. Bosen juga dari kosan ke kampus terus.” Rengekku kepada kak Nengah
“Cieee anaka kemarin sore, mash bau kencur sudah berani ajak cowok nonton. Boleh tapi Nuri yang bayar ya”
“Justru karena Nuri ngajak kakak maka kak Nengah yang harus bayarrrrr” seruku sambil nyelonong mendahului kak Nnegha berjalan
__ADS_1
Yang ditanggapi dengan gelengan dari kak Nengah. Sebenarnya sampai detikini kami tidak ada ikatan apapun. Tapi kak Nnegah tidak pernah menolak segala keinginanku serta selalu dengan senang hati membantu segala kesulitan yang aku hadapi.
Acara nonton itu berlangsung dengan sangat hitmat. Karena film yang kami tonton film action binti romantic gitu.
Pada saat ada adegan berciuman, tiba-tiba tangan kak Nnegah menutupi mataku yangmasih polos dan belum ternoda ini.
“Jangan diliat, belum cukup umur”bisiknya
“Pelit amat, Nuri Cuma ingin tahu contohnya bagaimana” gerutuku sambil ku cubit tangan kak Nengah yang masihmenutupi kedua mataku.
“No no no no no. nanti kalau sudah umur dua puluh baru boleh liar adegan seperti itu. Masih Sembilan belas tahun khan? Jadi tunggu satu tahun lagi!” jawab dan peringatan dari kak Nnegah dengan santai.
“Lihat saja aku akan menontonnya di youtube kembali. Aku semakin penasaran adegan itu seperti apa” kembali hatiku berkomunikasi dengan sengitnya
“Jangan coba-coba untuk menontonnya di youtube handphone dan laptopmu. Jika berani maka akan aku sita hand phone dan laptopmu” tegas kak Nengah santai dengan muka masihmenghadap lurus ke layer yangberada didepan
Dengan spontan aku menoleh kearahnya dan berfikir keras. Bagaimana dia bisa tahuisi kepala dan hatiku?
Karena aku kesal kutendang-tendang kursiyan ada didepanku. Sehingga membuat pemilik kursi tersebut menoleh dan bertanya “ ada apa ya dek?”
“Oh… enggak mas, kakiku hanay kram saja. Makanya untuk menguranginya aku tending-tenadang kursimu” bohongku
“Ssst jangan berisik nanti kamu kena marah sama penonton lainnya dek” tegur kak Nengah
“Bawelll” sigkat padat dan jelas dariku.
Tetapi seperti tidak ada lawan berbicara karena aku hanay diacuhkan oleh kak Nengah.
Tanpa terasa waktu menontonpun selesai dan kau diantarkan pulang oleh kak Nengah
“Trima kasih ya kak”
“Iya, ingat jangan keluyuran dan jangan tidur malam-malam. Karena kamu baru saja sembuh dari sakit.” Pesan kak Nengah
“Siap bos, Nuri masuk ya” pamitku dan langsung menuju kamar sweet home yang paling nyaman diantera jagat raya ini.
Pasti pembaca yang Budiman betanyea tanyea tentang apa hubunganku dnegan kaka Nengah. Kau saja tidak tahu, karena selama initidak ada ungkapan yang menyatakan kami untuk pacarana. Tetapi kami selalu bersama untuk banyak kegiatan. Sepertipengawal pribadi yang selalu tahu kapan aku butuh bantuan dan kak Nengah sendiri tidak pernahm erasa keberatan untuk membantuku. Jadi ikuti saja alurnya ya pembaca
*******
Jangan lupa
Like
Comment
__ADS_1
dan tekan tombol love ya…