Mawar Hitam

Mawar Hitam
Melamar


__ADS_3

Maaf ya reader tercibtaku. karena kemarin sakit jadi episodenya agak macet seperti jalan di ibu kota.


selamat mebaca dan ditunggu comment manisnya


Tanpa terasa hari-hari yang kami lalui dengan keluh kesah, semangat dan lika liku persahabatan anak SMK berjalan dengan banyak sekali cerita yang menyedihkan dan menyenangkan.


Baik itu dari perselihin yang berarti ataupun tidak berarti. Yang menjadikan pendewasaan bagi kami.


*


Hari ini adalah pengumunan kelulusan yang kami nantikan selama tiga tahun kami berjuang dengan peluh keringat dari yang bau, apek, kecut bahkan menyengat 😆 😆 😆


Kami berenam seperti biasa membuat sebuah lingkaran dan emmbuka link kelulusan sesuai yang diinstuksikan oleh sekolah.


Sebenarnya tidak harus disekolah untuk kami mengetahui hasil tersebut. Tetapi karena sudah menjadi kesepakatan kami untuk saaling terbuka dengan hasil yang sudah kami perjuangkan.


Tanpa adanya suara, tetapi hanya jari kami yang sibuk menari diatas android kami masing-masing. Sudah dapat dipastikan suara yang menggelegar pertama kali adalah dari Sisil “alhamdulillah……. Lulus gaessssss”


“Aku juga” Rumi


“Aku lulus “Mia


“Sudah bisa ku tebak” sombong Fajar


“Gog Job” Amri dengan machonya yang membuat kami melongo karena respon Amri yang tidak seperti biasanya dengan melambai. Dengan lirikan datarnya Amri melemparkan senyum tipis di ujung bibirnya.


“Amri… jadi selama ini kamu hanya berkamu flase? Selidikku


Yang disambut dengan angkatan kedua bahu Amri


“woey… jangan bengong, lihat dulu hasilmu! Perintah Amri yang semakin membuat kami berlima tertegun heran. “Kemana Amri yang melambai? Mengapa dalam hitungan detik hilang begitu saja? Fikiranku menari-nari dengan pertanyaan yang aneh itu.


Karena tidak sabar maka dangan lancangnya Fajar merampas android bututku dan melihat hasil ujian kami “LULUS”


“Tidak heran, aku akan sangat heran jika kamu tidak lulus mulut anaconda” Cebik Fajar


Siang itu kami bersorak gembira dengan rasa yang sangat puas karena usaaha kami tidak ada yang gagal


“Amri amu berhutang penjelasan kepada kami” Sengitku kepada Amri


“Apakah itu sangat penting jika aku harus menjawabnya sekarang? Singkat Amri


“Sudahlah Amri katakan dan jelaskan saja yang sejujurnya kepada mereka, aku tidak ingin mendapat azab dan karnam yang berat dan tidak tahan menumpuk dosaku karena terlalu lama menyimpan kebohonganmu” dukung Fajar kepada Nuri


*


Mengulang penyebab musabab dosa dari Fajar.


Karena motor Amri pecah ban saat diparkiran ketika akan pulang dari sekolah. Fajar menawarkan bantuan untuk memngantarkan Amri ke bengkel. Karena bengkel tidak ada montirnya, maka siang itu mereka memutuskan untuk meninggalkan motor tersebut dan mengantarkan Amri untuk pulang ke rumah Amri.


Tanpa penolakan yang berarti Amri menurut dengan perintah dan tawaran dari Fajar.

__ADS_1


“Ayo aku antar pulang, nanti kukumu yang lentik itu jadi patah semua” Goda Fajar


“Tapi….” Sanggah Amri


“tidak baik anak perawan siang bolong begini sendirian dibengkel,. Mau diculik montirnya?” Desak Fajar.


“Baiklah, tapi aku harap jika kamu mengetahui yang sebenarnya kamu tidak akan bocor kemana-mana seperti ban motorku ini” Tukas Amri


“Memangnya apa yang akan aku ketahui? Kamu belum bisa pakai pembalut?”


“Sudahlah, kamu ikut dan antarkan saja aku pulang. Nanti kamu kaan tau sendiri apa rahasia hidupku”


Akhirnya sampailah kami dirumah Amri, rumahnya sangat sejuk. Mewah memang tetapi yang membuat aku bergidik ngeri adalah ada beberapa hewan buas dihalaman depan yang dikerangkeng dengan kuat. Supaya menjaga penghuni sekitar tidak diserang.


Ada harimau dan buaya, sedangkan burung tidak terhitung jenisnya yang terpajang dengan bebasnya seperti kebun binatang mini dihalaman itu.


“Kamu sudah pulang Amri?”


“Sudah bu, ini teman Amri namanya Fajar”


“Fajar bu, teman Amri sekelas” kenalku sambil mencium tangan ibu Amri.


“Ibu kamu cantik banget meskipun sudah tua. Enggak kayak bunda aku gendut, cerewet dan selalu marah-marah.” Banding Fajar dengan ibunya.


“Sudah jangan membandingkan orang tua kita, gimanapun mereka sayang sama anak—anaknya.Termasuk bunda kamu Jar”.


“Amri, kamu ngerasa enggak ada yang aneh sejak dibengkel tadi?”


“Apa?”


“Ya memmang sebenarnya aku nyamar saja, supaya aku terhindar dari cewek-cewek narsis dan kurang sopan itu jika bertemu denganku. Aku tidak nyaman dengan perlakuan mereka jar”


“Ya tuhan, kenapa kamu sebodoh itu ri, jika aku menjadi sepertimu maka aku akan aku gasak abis mereka”


“Sebelumnya aku memang sangat menikmati itu jar tapi setelah aku kelas tiga SMP aku mendapatkan musibah yang sangat luar biasa yang membuat aku menjadi trauma mencari jalan keluar untuk masalahku ini. Maka setelah aku meminta saran dari kedua orang tuaku mereka menyetujuinya”


“Memannya apa musibah itu, jika aku boleh tahu dan kamu tidak keberatan untuk menceritakannya?”


“Saat itu pelajaran olah raga, dan kami segera mengganti baju kekamar ganti. Dan tanpa aku duga ada seorang teman lain kelasku masuk kedalam kamar gantiku dan memaksaku untuk menerima cintanya. Dia memang cantik tetapi sepertinya pada saat itu dia terlalu terobsesi kepadaku. Seketika aku takut dan menolaknya. Rupanya dia tidak main-main dengan ancamannya.”


Setelah Amri menegak minuman dinginnya yangdibawakan oleh ibunya, dan meninggalkan kami berdua kembali. Amri dengan nafas beratnya mencoba untuk menjawab tetapi seakan tertahan.


“Memangnya apa ancamannya yang membuat seorang Amri ketakutan? Desakku semakin penasaran


Rupanya hal itu masih diawasi oleh ibu Amri dari ruang samping.


“Amri sebaiknya kamu salin dulu, lalu ajak temanmu makan” perintah ibu Amri


“Iya bu, nanti saja. Kami mau mengerjakan PR tadi dikamar saja. Apakah boleh kami belajar dikamar saja? Bohong Amri karena yang aku ingat bahwa hari ini tidak ada PR satupun


Karena rasa ingin tahuku yang lebih Panjang dari amal ibadahku, maka aku memilih diam dan menyetujui kebohongan dari Amri.

__ADS_1


Lalu kami bergegas menuju kamar Amri.


“Wah ini kamar cowok tulen Am, kenapa semakin besar ya pertanyaan didalam kepalaku?


“Sudah nanti kita bahas, ini kamu ganti baju kaosmu didalam kamar mandi sana nanti kita lanjutkan pembahasannya sambil melemparkan kaos kemukaku.


“Setelah aku berganti kaos dan mengabari bundaku dirumah dan ikut berbohong seperti Amri dan mendapatkan izin dari bundaku, barulah aku merasa tenang.


Ternyata Amri meninggalkanku keluar kamar unutk mengambil minuman dan makanan ringan untukku.


“Ini dimakan, jangan sepulang dari sini kamu kurus dan masuk angin. Nanti pujaan hatimu Sisil menjadi mundur unutk kamu dekati”.


“Uhuk Huk Huk dari mana kamu tahu jika aku menyukai Sisil?


“Dari caramu saja aku bisa tahu jika kamu mengagumi anaconda gendut itu”


“Sepertinya memang ada bibit detektif yang tidak aku tahu dari mu, bencong jadi-jadian”


“Sialan kamu” marah Amri sambil melemparkan bekas minuman dingin yang sudah habis.


Setelah kami menghilangkan dahaga dan mengisi amunisi perut kami dengan makanan ringan yang aku anggap sudah cukup untuk mengganjal perutku.


Aku kembali melanjutkan rapat kami diruang tamu tadi yang sempat tertunda.


“Jadi gimana kelanjutan ceritanya tadi, apa yang cewek itu perbuat sama kamu sampai kamu berubah menjadi bencong jadi-jadian seperti saat ini? Serbuku kembali


“Cewek itu menagncamku jika aku tidak menerima perasaanya maka aku akan dituduh melakukan pelecehan terhadapnya. Dan sayangnya itu bukan hanya ancaman belaka. Tapi cewek itu benar-benar melakukannya terhadapku”


“Sakit jiwa itu cewek, kalau enggak dia terlalu banyak liat sinetron lebay itu” Kesalku


Sambil menerawang keluar jendela yang memang saat itun sangat panas dan diiringi oleh nyanyian burung-burung diluar kamar membuat suasanay dikamar Amri sangat enak untuk berdiskusi menurutku.


“Anggapanku memang seperti itu”


“Lalu bagaimana lagi cerita selanjutnya? Tanyaku dengan tidak sabarnya


“Apa imabalanku jika aku menceritakan kisahku? Apa akan kau angkat kedalam novel atau aku kana mendapat royalty atas kidahku yang pahit dan menakutkan ini?


“Brengsek kamu Am, hidup sudah sekaya dan seenak ini masih saja kamu mau memintaku kekayaan. Seharusnya kamu myang membagi amal kepadaku karena keberadaan orang tuamu” Tak kalah selorohku kepada Amri


“ Sebenarnya aku dan keluargaku inginmemendam masalah aib ini sendiri tetapi aku rasa itu tidak perlu karena bagiku ini bukan sebuah aib tapi kesalahan orang yang egois akan sebuah pengaruhnya yang dipole dan disampul dengan pura-pura tidak berdayanya.”


“Kamu fikir aku cowok ember seperti ciri khas bencong, sudah lanjutkan pertanyaanku jangan membuat aku mati penasaran saja karena ceritamu dari tadi tidak kelar-kelar seperti film di ikan terbang saja.” Marahku


“Karena masih dalam lingkungan sekolah yang masih belajar otomatis teriakannya mengundang banyak orng yang datang dan mendobrak pintu ruang ganti kami”


*******


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Comment


dan tekan tombol love ya…


__ADS_2