Mawar Hitam

Mawar Hitam
Gado-gado


__ADS_3

Semua yang ada di muka bumi ini bisa berubah kapanpun sesuai dengan keinginan masing-masing. Jadi harus bijak ya pembaca setiaku.


Akhirnya mataku dan hatiku sudah mulai tenang dan berhenti untuk menangis. Aku mencoba untuk berfikir yang lebih positif. Karena aku tidak mau terlarut dengan kesedihan meskipun kau yakin akan sangat sulit sekali.


“Kak kita cari cari ikan dan cumi saja ya, biar sedihnya hilang. Bukannya kakak sudah janji membawakan oleh-oleh untuk pakde? Ajakku dan sekaligus mengingatkannnya


Sebentar lagi boleh dek, kakak masih ingin seperti ini. Karena entah kapan bahkan mungkin tidak bisa terulang lagi.


Tangan kami berdua saling tertaut satu sama lain yan tidak aku sadari bahwa kak Nengah juga menangis dalam diam. Ya Allah sesakit inikah cinta berbeda keyakinan.


“Kakak nangis juga?”


“Iya, mungkin lebih sakit hati kakak. Dek kakak ada sesuatu buat kamu. Nanti kalau kita sudah tidak bersama lagi, adek janji ya buat menjaga dan terus memakainya.”


“Apa itu kak?”


“Adek buka aja dompet kakak, disitu dibelakang foto adek tadi.”


“Kenapa enggak ambil sendiri, terus kasih ke Nuri?” protesku


“Disuruh kenapa balik nyuruh?”


“Iya ya”


Setelah kau menjalankan instruksi yang kak Nnegah berikan, betapa terkejutnya aku. Sebuah cincin yang bertuliskan inisisaal didalamnya “NN” sudah pasti sangat aku ketaui ap aarti inisial tersebut.


“Kak ini pasti mahal, kenapa harus beli yang mahal? Kenapa tidak membeli yang biasa saja? Kembali bawelku keluar dengan sendirinya


“Sudah pekek saja, jangan bawel mulu!”


“Ya di pakeinlah biar romantic kayak difilm yang pernah Nuri tonton.”


“Ya, sinikan cincinnya. Kakak pakaikan. Mau yang disebelah kanan apa yang kiri?


“Yang kiri saja.”


“Jari manis apa jari jempol?”


Tiba-tiba jailku muncul dan terbesit begitu saja. “ kak pasanginnya dijari ini saja” sambil kuacungkan jari tengahku.


“Dek enggak boleh gitu. Enggak sopan. Sini kalaumau dipakaikan dijari tengahnya” sambil memasangkan cincin dijari tengahku yang tadinya aku memnganggap kekonyolan dan diikuti dengan serius dari kak Nengah.


“Kak”


“Hemmm”


“Kakak enggak salah makan khan, kenapa hari ini enggak keluar mode galaknya?”


Pertanyyan dariku yang aku tahansedari tadi karena aku merasa kak Nnegah sangat saabar dan sangat dewasa saat ini.


“Katanya kakak enggak boleh galak-galak? Ya sebenarnya kaka itu enggak galak. Hanya akan keluar mode galaknya kalau ad aynag susah diatur.”


“Enggak usah nyindir, langsung aja ngomong. Ini orangnya ada disamping kakak.” Mode ngambekku kembali muncul sambil kutarik dari tangannya yang sedari tadi masih dengan setia digenggamnya.


“Jangan ditarik tangannya, kakak masih mau pegang biar romasntis kayak di film-film”


“Loh itu khan kata-kata Nuri, kenapa sekarang jadi ikut-ikut. Idih pinter-pinter tapi plagiat!”


“Khan belum terdaftar di HAKI jadi siapapun masih boleh pakek!” serunya tidak mau kalah


“Baru aja dipuji, sudah nyebelin lagi. Jadi nyesel ngucapinnya. Nuri tarik lagi kata yang tadi”


“Udah diem, nanti kakak cium baru diem! Mau?!”


“Tadi katanya sudah janji enggak akan aneh-aneh”


“Makanya jangan bawel melulu”


Tik tok tik tok tik tok waktu kami lalui hanya saling menggenggam tangan dengan fikiran masing-masing tanpa ada yang berkeinginan untuk memluai sebuah perdebatan seperti biasanya.


“Kak tidur ya? Enggak pegel itu duduknya begitu?”


“Iya sayang, kakak ngantuk. Kakak rebahan dipangkuan adek ya”


“Boleh tapi dialasin sama ransel ya kepalanya” tawarku


“Iya kakak nurut” dengan dialasi ransel kak Nengah menempatkan kepalanya dipangkuanku dan yang membuatku terkejut dan heran. Tanganku diarahkan dikepanya untuk menuntutku un tuk mengelus rambutnya.


“Kalau gini snagat terasa nyaman dek”


Mata kami saling memandang dan iar mata kami berdua kembali mengalir dengan sendirinya. Tanpa kata-kata tetapi air mata kami berdua seakan sedang beradu argument disana.


“Udahan ya dek, jangan nangis lagi.”


“Kakak nyuruh Nuri enggak nangis tapi kakak sendiri tidak berrhenti nangisnya”


“Enggak bisa dibendung dek, keluar tanpa permisi”


“Seperti pertandingan menangis saja kita siang ini” protesku


Tanpa ada jawaban dari yang aku serang. Kak Nengah menangis dalam diam dan kami saling perpandangan.

__ADS_1


“Kenapa harus kamu dek”


“Kenapa harus Nuri yang kakak pilih”


“Entahlah”


Aku dapat merasakan ada emosi yang tertahan disana dengan genggaman tanganku yang agak mengerat disaana.


“Kak, megangnya jangan kencengkenceng. Tangan Nuri sakit”


“Maaf” dengan sedikit mengendurkan genggamannya


“Dek”


“Iya”


“Jika suatu saat kakak sudah tidak bersama Nuri lagi, maka harus penter mencari temen dan bergaul. Jangan cepat perrcaya dengan mulut lelaki maupun perempuan.”


“Iya sayang, Nuri janji akan selalu ingat dengan pesan kakak”


“Seorang laki-laki jika ingin mendapatkan sesuatu dengan tidak tulus maaka akan manis seperti kucing. Akan terus mengikuti dan bersikap manis. Tetapi jika sudah didapatkan amaka akan pergi dengan secepat kilat tanpa mengucapkan sepatah katapun bahkan menolehpun tidak”


“Kenapa lelaki seperti itu?


“Karena hukum alam untuk lelaki yang brengsek”


“Lelaki juga akan melakukan dengan halus untuk menjebak hati wanita makanya Nuri harus pintar dan bijak “


“Kak kenapa bilang seperti itu, seperti kakak mau pergi jauh dan tidak akan pernah kembali.”


“diingat baik-baik pesan dari kakak”


“Iya”


“Sayangnya mana?”


“Iya sayang. Puas! Dengan pelototan dariku


“Anak pintar” pujinya


“Kak kalau Nuri tidak sengaja menghilangkan cincinnya bagaimana, terus misalkan Nuri menikah apa Nuri harus tetap pakai cicin dari kakak ini?”


“Makanya dijaga baik-baik, dan jjika Nuri sudah menikah cincinnya disimpan saja”


“Hemmmmm, bahkan andai-andaipunmasih sangat menyakitkan”


“Makanya brenti bawelnya biar enggak menyakitkan”


“Kak sudah sore kita pulang sekarang ya. Tadi ada janji lho dengan pakde buat bawakan cumi.”


“Ayo”


Bergegas kami melangkah untuk menuju pulang dengan membereskan.


“Dek mau yang sebelah mana?” menanyakan piliha TPI yang akan kami tuju


“Nuri enggak tau kak, karena laut yang sering Nuri kunjungi dengan keluarga bukan yang ini.”


“Wah kalau kakak culik enggak bakalan ada yang tahu dong”


Plak bunyi helm aku pukul dari belakangkarena kejailan kak Nnegha yang memang suka sekali menggodaku untuk marah. Dan pukulan helm atau gigitan di pundaknya tidak membuatnya jera untuk tetap menggodaku.


“Nah sampai juga”


“Ayo bosque” tarikku dilengan kak Nengah yang seolah-olah tahu lokasi dan denahnya


“Sabar dek, kakak kunci dulu motornya. Buat keamanan”


“Baiklah.”


Dengan berjalan santai kami masuk mengelilingi TPI yang menyediakan berbagai macam jenis hewan laut.


“Kak sebelah mana ini yang jualan cumi nya”


“Sabar, kita keliling aja dulu sambil liat-liat. Karena jiak sore begini sudah tidk segar lagi. Karena sudah di es. Jika ingin mencari yang segar kita datangnya subuh karena saat itu baru turun dari kapal nelayan”


“Nuri kira selalu ada”


“Nelayan kalau nyari ikannya malam dek, kalau sore begini mereka baru akan berangkat mencari”


“Wah kakak pintar ya”


“Iya dong, makanya bisa ngajarin kamu yang to-ing”


“Idih to-ing to-ing begini tapi kakak syuka khan. Buktinya sampai berderai air mata tadi”


“Sama kayak yang ngomong”


“Bodok amit”


“Amat”

__ADS_1


“Udah jangan ngebahas amat, dirumah telinganya berdengung itu”


“Mitos.”


Ada berbagai macam ikan dan hewan laut lainnya yang dijual disana termasuk lobster, rajungan, kepiting, cumi, ikan dari yang besaar dan baby fish. Yang membuat kami sedikit bingung untuk membelinya karena semua pelayan menunjukkan keramahan demi memikat para pengunjung untuk membeli ikan mereka.


“Kak sepertinya yang itu lumayan seger deh, kita beli itu saja ya”


“Asyiap”


“Pak berapa cumi sekilonya” tanyaku kepada bapak tua yang sedari tadi duduk merapikan daganganya


“Cumi besarnya 80k neng, kalau yang kecil-kecil bapak kasih 50 saja buat nengnya.”


“Enggak kurang itu pak, bagaimana jika 50 saja yang besar dan yang kecil 25?”


“Wah belum bisa neng, karena sudah tinggal 2 kilo bapak kasih 150 deh”


“140 ya pak”


“Ya sudah deh, buat neng bapak kasih. Tapi besok kalau lewaat sinilagi beli ke kios bapak lagi ya.”


“Ayiap deh pak”


“Kak bayar”


“Jadi nyuruh kakak, khan adek yang nawar. Ya adeklah yang bayar”


“Nuri enggak mau, khan kakak yang janji sama pakde ya kakak yang bayar.”


Yang mendapat gelengan dan senyuman dari pedagang sekitar.


“Jadi ngajak anak gadis orang sogokannya dengan cumi mas nya?”


“Kok bapak tau.” Tanyaku polos


“Bapak juga pernjh muda neng.”


“Wah kalau bapak dlu enggak pakek modal dong, bawakan cumi. Khan bapak jualan?” tanya kak Nengah tidak mau kalah


“Ya tetep pakek modal mas nya, soalnya bapak juga beli. Itu bude yang diseberang masnya mancingnya pakek cumi.” Yang dibalas dengan senyuman oleh ibu yang ada diseberang kami yang ternyata adalah istri dari kios ikan yang kami beli.


“Wah serasi ya neng sama mas nya, satu pesek satu mancung, nengnya agak pendek masnya jangkung. Memperbaiki keturunan itu besok.” Saut sang bude istri penjual ikan


“Terima kasih bude pujiannya, minimalis ini harta tak terhingga.” Jawabku menghibur hari


“Udah dek, besoklagi curhatnya. Sudah sore. Ayo kita pulang.” Tarik tangan kak Nengah mengajakku menuju motor kami.


“Seneng banget dipuji pesek.”


“Bukan dipuji itu kak, tapi menyanjung secara terang-terangan.” Cemberutku


Setelah merapikan cumi yang kami beli lalu bersiap melajukan perjalanan pulang. Dengan menempuh waktu yang agak terasa lama karena keplangan kami tidak secepat keberangkatan kami. Yang kurasa memang disengaja oleh kak Nengah supaya leih menikmati sore hari.


“Nuri pulang”


“Asslamualaikum” tegur bude yang sedang membersihkan halaman kosan.


“Walaikum salam bude”


“Bocal semprul diingetin malah ngeledek.” Protes bude penjaga kosan


“Bude ini cumi oleh-oleh dari laut tadi” sambil kaumenyerahkan kantong plastic yang berisikan cumi


“Wah banyak sekali ndok, Nuri tidak mau memasaknya?”


“Bude saaja yang masak, nanti kalau sudah matang Nuri dikasih ya.”


“Boleh kalau gitu, pinter juga ngerjain budenya.”


“He he he he he.” Jawabku sambil menghampiri kak Nengah kembali


“Dek, kakak langsung pulang ya. Capek mau mandi terusistirahat. Besok ada kuliah khan?”


“Iya, Nuri juga. Hati-hati ya.”


“Sayangnya mana?”


“Heeeee bocah semprul. Emang bude enggak denger? Gek bali kono Nengah!” seru bude


“Iya bude, Nengah pulang ya. Titip Nuri ya bude.”


“Tidak usah disuruh, mesti tak jogo dengan rapet” saut bude dengan logat khas jawa dan bahasa yang sudah bercampur aduk seperti gado-gado


*******


Jangan lupa


Like


Comment

__ADS_1


dan tekan tombol love ya…


__ADS_2