
Pada part ini masih membahas sekitar keluarga Nuri ya pembaca, jadi jangan jenuh dan tetap terus semangat dalam membacanya. Karena masih banyak keseruan dan moisteri yang terkubur didalamnya…
Setelah kejadia tadi siang, dimana abi menegur Argo maka sudah pasti malamnya akan disidang setelah kami melakukan shalaat Isya berjamaah.
Mengapa jika melakukan siding selepas shalat isya karena waktu jedanya Panjang menuju waktu berikutnya. Berbeda jika magrib, baru kaan mengucapkan salam sudah tersengar adzan isya.
“Argo mana Monic? Coba panggilkan suruh dia duduk disini bersama dengan yang lainnya.” Perintah abi kepada Monic.
Disini pasti akan ada yang bertanya, mengapa jika memanggil Argo selalu Monic yang turun tangan jawabannya adalah Monic dari kelas 2 SD sudah mengikuti olah raga Karate samapai sekarang menginjak kelas 6 SD.
Jadi sudah dapat diperhitungkan apa yang akan terjadi jika Argo menolak atau membangkan perintah atau permintaan dari Monic.
Pernah sekali Monic ditolak oleh Argo dan diajaknya duel, maka dengan keahliannya Monic dengan secepat kilat dapat menaklukan dan mengalahkan Argo dengan telak. Menang KO jika dalam istilah tinjunya.
Tidak hanya sampai disitu, Monic dengan sekuat tenaga menggiring sambil memelintir tangan Argo kebelakang.
Dengan posisi seperti itu maka mau tidak mau pihak lawan harus suka rela mengikuti dari pada semakin terpelintir tangan dan sudah jelas rasanya akan semakin sakit.
Dari kejadian itulah Argo sudah tidak berani membantah jika Monic yang memanggil atau memerintahnya.
Meskipun terkadang dicampur dengan gerutu yang membuat kami geleng kepala karena Argo berniat untuk mengirim Monic ke provinsi Papua.
Menengok ke belakang, bagaimana dengan kepribadian Monic?
Dia adalah seorang gadis kecil yang tidak manja, tidak banyak bicara, tetap sekali bicara lebih pedas beribu kali lipat dari level bicaraku.
Memiliki Hobi olah raga Karate, suka berteman dengan lelaki dari pada wanita, dan yang jelas pandai sekali bermain laat masuk terutama gitar dan drum.
Sekecil itu sudah menguasai gitar dan drum? Benar sekali, Monic tipikal tidak akan malu jika ingin belajar meskipun tantangannya sulit untuk dilakukan.
Monic lebih nekat dari pada Argo tetapi masih banyak sisi positif yang didapatkan. Menurut pandangan kami sebagai perempuan.
Sebelumnya kami tidak mengetahui jika pada waktu itu sering sekali dijemput ketika sabtu sore dan bermalam minggu kerumah uwak Soleh dan akan diantar kembali minggu sorenya.
Ternyata Monic mempunyai perjanjian dengan sepupuku Rama bahwa akan diajari bermain alat music drum dan gitar jika mau bermalam disana setiap libur.
Itu semua karena anak uwak soleh laki-laki semua sedangkan kakakku yang perempuan sudah bekerja dan jarang sekali pulang kerumah dengan alasan sudah terlalu lelah jadi lebih memilih tidur dimes pabrik tempatnya bekerja.
Sebenarnya Monic disana tidak hanya berdiam dan berlatih alat music saja. Tetapi menemani dan mnegikuti kemana uwak Sripah pergi.
Biasanya jika disabtu sore mereka akan membuat kue dan minggu pagi diantar kepasar sekaligus berbelanja. Jadi kapan waktu mereka latihannya.
__ADS_1
Terkadang sabtu malam atau minggu siang dimana sudah tidak ada kesibukan. Karena Monic tipe anak yang cepat tanggap maka dalam waktu 3 tahun bisa menguasai kedua alat music tersebut.
Sedangkan olah raganya, Monic sudah mendapat beberapa medali dan piagam atas prestasi dan kegemarannya tersebut. Hal tersebut yang semakin dianak emaskan oleh Haji Soleh yang tak lain adalah uwakku. Mengapa demikian?
Karena Abiku tidak banyak ikut campur karena dilarang oleh uwak Soleh, amaka biaya latihan dan perlombaan kebanyakan uwak Soleh yang menyelesaikan tanpa diminta atau diperingatkan.
Sampai sekarangpun Monic masih saja tinggal disana jika waktunya libur tiba. karena jika tidak dijemput maka bu Hajah Seripah tidak akan berhenti menelfon sampai Monic tiba dirumah mereka.
Berikut sedikit cuplikan omelan bu Hajah Seripah
“Nurman, apakah motormu rusak, apa tidak bisa Nuri mengantar adiknya kerumahku. Nanti aku isikan bensinnya jika kamu belum gajian. Apa perlu aku menjemputnya sendiri hah?”
“Ayuk ini minta tolong tapi sangat memaksa, gajiku sisa banyak jika hnaya membeli bensin saja”
“Sudahlah, anak perempuanmu itu ada 3 ekor. Tidak rugi jika satu saja tinggal bersaamaku. Toh aku ini uwaknya bukan orang lain”
“Ayuk anak perempuanku itu manusia bukan burung kau smaakan mereka seperti itu” tegur abiku santai.
Tiba tiba dari arah lain ada sambaran dari manusi tak kasat mata, yaitu aku yang selalu merasa rugi jika tidak adu argument dengan uwakku yang satu ini.
“uwak ini minta tolong tapi seperti rentenir penagih hutangsaja. Suka memaksa dan tidak kenal sabar. Ada ya bu hajah seperti uwak” sautku menohok
“Nuri segera antar Monic, um I tidak tahan mendengar uwakmu ceramah seperti itu. Rasanya kepala umi mau pecah” gerutu umi
“Moniiiiiiiiiiicccccc cepetan sudah ditunggu sama mak lampir” jeritku yang mendapat gelengan dari abi dan umi
“Nanti Monic sampaikan ke uwak baru tau rasa, hilanglah jatah bensin ketika mengantar Monic. Kak Nuri mau?
“Biar saja, jatah bensin itu tidak akan membuat aku menjadi mancung” geramnya atas ancaman dari Monic
“Sok jual mahal, nanti kalau dikasih sam uwak diterima juga” cebik Monic yang sudah tau alur ceritanya bagaimana.
Namanya juga terlanjur sayang. Begitulah kisah yang terjadi untuk Monic.
Mengapa Argo tidak ikut olah raga karate, jawabannya sangat simple dan menarik “sibuk” tapi entah apa kesibukannya diluar san aselain main dan ngebolang sesuka hati.
Nara dimana Nara, tidak ada kisah atau suaranya.
Untuk Nara adikku yang satu ini, sangat gemar merawat diri, merawat tanaman, bersolek dan bernyanyi.
Sampai suatu ketika dia menyampaikan kepada umi dan abi bahwa dia ingin sekali menjadi seorang biduan yang bernyanyi kemana-mana, dikenal orang banyak dan mendapat duit tentunya.
__ADS_1
Hal tersebut langsung saja ditegur oleh orang tua kami. Bahwa semua cita-cita itu baik teteapi selesaaikan dahulu sekolah kalian dengan baik baru kalian boleh menentukan cita-cita setelahnya.
Sebenarnya itu adalah penolakan secara halus dari orang tua kami, karena kebanyakan di lingkungan kami seorang biduan memiliki nilai yang kurang baik.
Selain suka memakai pakaian terbuka, mereka kerap pulang malam dengan berganti-ganti yang mengantarkan pulang. Bahkan ada juga yang tidak pulang.
Tetapi tidak semua biduan memiliki konotasi yang negative ya pembaca karena terganting yang menjalani dan bagaimana lingkungan yang diikuti.
Karena sering dinasehati oleh umi, maka semakin lama cita-cita itu terlupakan dnegan sendirinya. Untuk hobi Nara merawat tanaman tidak diragukan lagi, banyak sekali bunga yang indah. Baik dari yang gratisan atau sengaja dibeli oleh umi. Semua dapat menjadi tumbuh subur ditangan Nara.
Ada satu hal yang tidak aku suka dari Nara, dia selalu memakai barang-barang pribadiku tanpa permisi. Bukan aku tidak pernah menegurnya tapi semua itu dianggapnya angin lalu. Mungkin karena dia merasa aku kakaknya, maka Nara seberani itu memakai barang-barnag pribadiku.
Setelah Nara, Monic, Argo dan Gibran telah terbahas tiba saatnya mengungkit aku pada versi remaja ini.
Setelah petualangan mandi disungaiku selesai, maka aku sekarang bertranformasi menjadi remaja yang suka memasak dna membuat kue. Semua itu tidak lepas dari pengaruh dan efek samping akan tugas rumah yang dibagikkan oleh umi.
Untukku bertugas untuk memasak dan menyiapkan maknan bersama umi, Nara bertugas memebersihkan rumah dan merawat tanaman, Monic membantuku membersihkan dapur dan memberikan makan ayam.
Argo membantu Nara merawat tanaman diantaranyamenyiram bunga dan mengepel lantai.
Jadwal itu sempat ditukar oleh umi, tetapi kami merubah kembali formasi sesuai dengan kemauan kami. Ya jadilah setiap pagi membentuk formasi yang membuat kami merasa nyaman.
Sedangkan abi merawat burung sambil mengajarkan Gibran untuk menyiapkan helm dan sepatu yang akan beraktifitas diluar rumah.
Sedangkan nyonya besar setelah mengawasi danmengarahkanku memasak didapur, kegiatannya berkeliling menilai pekerjaan anak-anaknya satu persaatu. Jika tidak sesuai maka kami harus mengulanginya sesuai SOP yang berlaku saat itu juga.
Didalam sebuah bangunan pasti ada salah satu yang kurang maximal dan sempurna. Tidak lain adalah abi kami. Yang selalu menaruh sembarangan alat dan sisa perawatan burung-burungnya. Tak telak itu menjadi sumber sarapan pagi abiku. Nyanyian nyonya besar yang tidak akan berhenti jika kembali ketempat semula.
Perfecto marimar 😆 😆 😆
Memang kami penghuni dirumah itu memiliki keunikan yang berbeda dan saling melengkapi.
*******
Jangan lupa
Like
Comment
dan tekan tombol love ya…
__ADS_1