
Semua yang ada di muka bumi ini bisa berubah kapanpun sesuai dengan keinginan masing-masing. Jadi harus bijak ya pembaca setiaku.
Perajalanan dan takdir dari setiap manusia sudah ditentukan semenjak berusia empat bulan didalam kandungan ibunya, tetapi untuk menuju takdir tersebut banyak sekali proses dan lika-liku yang harus dilalui dan dijalani. Disanalah setiap manusia mendapatkan arti hiduo dan menjadi proses pendewasaannya.
Seperti saat ini yangn sedang aku jalani, mungkin kak Nengah bukanlah jodohku tetapi Pencipta mengirimkannya hadir dalam kehiduoanku untuk mengerti artinya mencintai tanpa harus memiliki dan menyayangi tanpa harus berakhir bersama.
Hubungan kami berjalan seperti biasanya, tanpa adanya ikatan tetapi tidak rela untuk melepaskan. Terkadang ada titik jenuh sendiri untuk itu. Terkadang aku bertekat untuk mengakhiri semuanya. Tetapi semuanya begitu menyakitkan.
Rasanya aku menjadi jiwa yang kerdil dan begitu pengecutnya untuk melepaskan dan merelakan semuanya. Begitupun sebaliknya dengan kak Nengah yang rela melepaskan tetapi sikapnya sangat mengikat dan mengekangku.
Seakan mata dan hatiku tertutup untuk semua itu. Dan semuanya bukan tidak beralaskan, aku masih bertahan karena kak Nengah sangat menghargaiku bahkan sangat menjagaku. Tidak bisa aku bayangkan jika bukan kak Nengah yang bersamaku saat ini.
Disetiap doa yang ku panjatkan kepada yang kuasa adalah untuk memisahkan kami dengan cara yang baik tanpa adanya penghianatan kepada yang menciptakan dan yang memberi kami nyawa.
Karena sibuk dengan lamunaku ada beberapa panggilan yang terlewatkan. Ku lihat layer rembo ternyata ada beberapa panggilan dari umi dan kak Nengah.
Panggilanterakhir adalah nyonya besar, yang membuatku menyegerakan tombolku untuk menggangkat panggilan tersebut.
“Assalamualaikum, apa kabar nak? Kenapa 2 hari ini tidak menghubungi umi, apakah kamu sakit atau sibuk punya pacar baru?” seperti itulah umi. Belum sempat aku menjawab salamnya sudah banyak sekali daftar pertanyaan yang menyerbuku. Tapi itu sangat aku tunggu karena itu adalah bentuk perhatian dari wanita tercantik yang melahirkan aku.
“Walaikum salam, umi bisa tidak satu-satu bertanya. Jadi Nuri tidak bingung untuk menjawab.”
“Kalau orang tua ngomogn didengarkan dan diperhatikan, jika handphonemu tidak bisa digunakan untuk mengabari orang tua maka jual saja biar kembali kejaman batu.”
“Iya Nuri minta maaf.”
“Kemana saja selama dua hari, umi tanyakan kepada penjaga kosan katanya kamu dikampus dari pagi sampai sore?”
“Iya, karena Nuri ikut mengisi paduan suara untuk persiapan kakak tingkat yang wisuda umiku sayang.”
“Lain kali mengabari nak, apa susahnya sekedar mengabari. Berlembar lembar dan berjam-jam bisa mengerjakan tugas dari dosenmu.”
“Iya Nuri minta maaf. Lain klai tidak akan mengulanginya. Ampun yang mulia ratu.”
“Anak soleha. Ya sudah jangan lupa solat dan istirahat yang cukup. Ingat tidak usah ngeluyur jika tidak terlalu penting. Dan satu lagi jaga jarak dengan siapa itu yang lagi dekat dengan kamu. Ingat Nuri umi dan abi akan mengizinkan kamu jika satu iman dengan kita meskipun itu papua, nias atau negro sekalipun!”
Deggg rasa ketakutan yang tiba-tiba menyerangku. Karena itu sudah harga mati didalam keluargaku yang sampai kapanpuntidka akan pernah bisa berubah dan ditawar.
“Halo halo halo Nuri kamu masih mendengarkan umi?”
“I.. i.. iya umi. Nuri akan mengingatnya.”
“Ya sudah sekarang istirahatlah, assalamualaikum.”
“Walaikum salam”
Setelah panggilan terputus air mataku akhirnya membasahi kembali pipiku. Sesaak yang bertubi-tubi yang kembali mengisi ruang hatiku. Tapi benar yang dikatakan oleh orang tuaku. Kami berdua sendiri bingung untuk mengakhiri dan keluar dari masalah ini.
Karena fikiranku kalut, aku meluapkan emosiku dengan menelfon kak Nengah. Setelah panggilan terangkat…
“Kak, dimana?”
“Dek jangan ganggu kakak dulu ya, kakak lagi sibuk banget.”
‘Kakak masih dirumah?”
“Masih kemungkinan nanti malam kakak kembali ke kota.”
__ADS_1
“Ya sudah jaga diri baik-baik ya”
“Iya.”
Setelah jam kuliah berakhir kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 17.00 yang membuatku bergegas untuk pulang yang diantar oleh salwa teman baikku.
“Nuri kamu aku perhatikan belakangan ini tidak sebawel biasanya. Dan matamu sering sembab jika kuliah pagi. Kamu pasti habis nangis. Ayo dong cerita kepadaku. Kamu sedang mempunyai masalah apa?”
“Masalahku masih sama seperti sebelumnya Salwa. Aku ingin sekali melepasnya tapi aku tidak sanggup.”
“Selalu aku ingatkan kepadamu, unutk mengakhiri tapi kamu sendiri menutup mata dan telingamu Nuri. Inilah yang aku khawatrikan. Perasaan kalian berdua semakin dalam dan akan saling menyakiti.”
“Maafkan aku Salwa karena tidak pernah mau mendengarkanmu.”
“Sudahlah Kolaknya sudah menjadi bubur jadi sudah tidak bisa diulang kembali. Menurutku setelah Kak Nengah wisuda nanti sebaiknya kamu mengurangi komunikasi. Memang akan terasa berta tetapi dengan perlahan pasti akan terbiasa.”
“Aku harap bisa seperti itu kedepannya.”
Salwa memang sangat baik, pengertian dan mengerti aku meskipun kau belum mengucapkan. Tidak hanya sekali atau dua kali mengingatkanku tetapi proses yang aku pilih ternyata membuata aku kesulitan sendiri. Seperti saat ini yang sedang aku jalani.
Setelah aku merenenung unutk kesekian kalinya, aku sudah mulai mencoba untuk tidak menghubungi kak Nengah jika dia tidak menghubungiku terlebih dahulu. Dan untuk mala mini berhasil.
Semua akulewati dengan aku isisi kegiatan menulis sebuah novel. Yang aku akui memang masih sangat amatiran tetapi setidaknya disini aku bisa meluapkan emosi dan perasaanku.
Keesokan harinya, kka Nengah menemuiku dikampus sambil makan siang.
“Dek maaf semalam kakak capek sekali jadi setelah sampai dikosan kakak langsung istirahat. “Tapi aku tahu ada kebohongan disini. Tapi aku tidak ambil pusing untuk itu dan mungkin ini adalah peluang untuk menjauh.
“Iya tidak apa-apa kak. Kakak juga ahrus menjaga kesehatan supaya nanti saat wisuda kakak tidak sakit”
Akhirnya hari wisuda yang dinantikan itu datang juga. Aku dan Salwa sudah masuk kedalam formasi paduan suara sedangkan kak Nengah dan wisudawan lainnya sudah duduk rapi ditempat masing-masing.
Acara wisuda tersebut sudah terselesaikan dan berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan. Sampailah penutupan dan penghuni gedung membubarkan diri dan menuju keluarga masing-masing untuk berfoto ria dan ucapan selamat.
Setelah aku membeli buket bunga untuk aku berikan kepada kak Nengah, aku meminta Salwa untuk menemaniku untuk menyeraskannya.
Setelah beberapa meter, aku menyaksikan sesuatu yang membuat duniaku berhenti dan mematung seketika. Setelah aku mendengar pernyataan dari petugas foto yang berada disana.
“Ini siapanya mas?”
Kulihat kak Nnegah tidak menjawabnya, melainkan gadis cantik itu yang menjawab dengan bahagianya.
“Tunangannya mas, jadi gimana ini phose yang bagus. Bisa sekalian dicantumin buat praweding mas” jawabnya dengan ramah dan sangat cantik menurutku saat itu.
“Salwa kita tidak jadi kasih buket ini ya, takutnya mengganggu acara keluarga mereka.”
Yang aku yakini bahwa Salwa juga mendengar kalimat dari gadis itu, yang juga tidak ada penolakan dari kak Nengah.
“Nuri yang sabar, kuat ya. Ya sudah ayo kita tinggalkan tempat ini”
Saat aku memutar badanku untuk meninggalkan tempat yang membuat dadaku bergemuruh. Tiba-tiba ada suara yang memanggilku.
“Nuri ya, ini Nuri khan anaknya bu Maryam dan pak Nurman?”
Aku masih bingung dengan pertanyaan itu karena aku tidak mengenal mereka.
“Maaf ibu ini siapa ya, karena saya tidak mengenal ibu dan bapak?” tukasku
__ADS_1
“Oh saya ibu made teman dari umi kamu, kamu khan sering antar nasi kotak dan kue ke kecamatan dan pure saat ada acara.”
“Ya allah bu, nuri lupa, solanya ibu hari ini cantik banget dan sudah lama juga Nuri tidak anter kue karena Nuri sekarang kuliah dikampus.”
“Ayo gek, foto bareng keluarga. Kita khan dari daerah yang sama. Itu juga bareng anak ibu yang wisuda bersama tunangannya.”
“Wah enak ya klaau punya tunangan. Jika wisuda seperti ini ada yang mendampingi.”
“Dari dulu belum berubah kamu gek, masih ceplas ceplos meskipun sekarang lebih cntik karena sudah pintar mengurus diri ya.”
“Iya dong bu, nanti kalau Nuri menjomblo terus kasian umi dan abi yang harus emncari jodoh.”
Dan semua itu dibalas dengan tawa dari bu Made dan pak Jagra. Mereka adalah keluarga pelanggan kue dan nasi kotak dikampung. Setiap ada acara untuk arisan atau bakti amal selalu menggunakan jasa umi.
“Ya sudah ibu kenalkan dengan anak ibu dan tunangannya ya. Dek sini ibu kenalkan dengan tetangga kita di desa ternyata kalian satu kampus.”
Karena aku sedang tidak fokus dengan pemandangan tadi jadi aku tidak terlalu memperdulikan siapa yang sudah datang dihadapanku.
“Ini lho anak ibu, namanya Nengah dan ini Pricil tunangannya.”
Kilat menyambar, jlegerrrrrrrrr sudh tidak bisa dibantah lagi. Ada penghianatan disini. Dan itu nyata dan tidak ada yang tertutupi. Sekuat mungkin kau menhana supaya tidak mengeluarkan air mata meskipun suaraku sangat bergetar saat itu.
“Kami sudah kenal bu bahkan sangat mengenalnya, karena kak Nengah adalah…. “ ucap Salwa menggantung.
“Kakak tingkat kami bu, dan sering membantu kami jika di lab.” Potongku segera karena tidak ingin merusak suasana.
“Oh ya bu, pak dan kak Nengah. Kami mohon maaf tidak bisa ikut foto bersama karena ada pembubaran panitia wisuda. Mampir bu dikosan Nuri.”
“Yahhh sayang sekali ya, ya sudah besok-besok jijka sudah dikampung main kerumah ya nak. Biar ibu ada temannya. Karena setelah menikah Nengah akan pindah ke Lombok.”
“ Iya bu, akan Nuri usahakan. Kamipermisi ya bu.” Pamitku
Setelah membalikkan badan dan tak kuasa kau menahan air mataku, aku segera berlari ke toilet untuk menumpahkan segala sakit dan kekesalanku.
Salwa yang pun dengan setia menemaniku ke dalam toilet menemaniku untuk menengkan dan menghiburku.
“Kenapa lebih sakit lagi Salwa. Apa salahku? Kenapa setega itu di aberhianat. Dia sudah berjanji untuk tidak menghianati dan menyakiti. Dia sudah berjanji untuk melepas dengan baik-baik. Apa dosaku kepadanya Salwa. Aku tidak sangguo menahannya. Aku sangat membencinya Salwa.”
“Nuri kamu harus tegar, harus kuat. Ini sudah takdir tidak bisa kita yangmengaturnya. Sekarang hapus ai matamu. Jangan sampai ada yangmelihat kamu seperti ini. Kamu ingin jika penghianat itu melihat air matamu dan tertawa terbaha-bahak menertawakanmu. Mau?” ucap Salwa menenangkan dan menyemangatiku.
“Sangat sulit Salwa.” Isakku yang masih belum bisa aku hentikan
“Aku ngerti tapi kalau mau nangis kita dikosanmu saja atau dirumahku. Aku janji akan menemanimu dan mengantarkan kemanapun kamu inginkan.” Dukung Salwa kembali.
“Tunggu lima menit lagi ya. Biar aku bisa sedikit tenang dan menetralkan hati dan air mataku.”
“Iya. ini cuci muka dan perbaiki bedakmu supaya tidak terlihat kucel.” Ucap Salwa menyerahkan bedak dan tisu dari dalam tasnya. Salwa memmang sangat cantik dan kemanapun tidak lupa membawa peralatan make up.
*******
Jangan lupa
Like
Comment
“ dan tekan tombol love ya…
__ADS_1