
Angin melambai lambai menerpa wajah Melani lembut. Siang itu mentari menusuk permukaan kulitnya. Sebagian kening Melani pun ikut berkeringat. Jalanan yang ia tempuh pun terasa bising. Walaupun Melani tinggal di pinggiran kota. Jalanan sering di penuhi oleh lalu lalang nya kendaraan bermotor.
Melani pun memutarkan tubuhnya seraya melihat sebuah palang nama gang. Suasana sisi jalan pun tergantikan oleh padatnya pemukiman warga. Lingkungan itu sedikit kumuh dan tidak terawat. Bahkan kedua bola mata Melani sering menemui sampah berserakan di segala tempat.
Walaupun hanya sebuah gang yang cukup sempit. Wilayah itu cukup untuk 2 buah sepeda motor untuk berlalu lalang.
Kedua kaki nya pun terhenti, dan memasukin sebuah perkarangan rumah berukuran kecil dengan pagar bercat kan hitam. Segera, ia pun melepaskan kedua sepatu kets nya yang sudah cukup usang. Dan menyimpan nya di sisi pintu depan rumah.
Kening nya pun berkerut, ketika Melani menyadari kehadiran sebuah gerobak terpakir di halaman itu. Melani tahu gerobak itu milik ayahnya, yang berprofesi sebagai seorang tukang bubur keliling komplek. Melani kembali keheranan setelah menyadari kunci pintu rumah yang seharusnya berada di atas sela sela jendela ayahnya simpan. Tidak ditemukan di tempatnya.
Melani pun melirik kesegala arah, berharap menemukan ayah nya datang menghampiri. Untung saja ia melihat seorang tetangga nya melewati perkarangan rumah. Dengan gesit, ia berteriak. Berniat menanyakan keberadaan sang ayah.
"Tadi ibu liat ayah eneng di bawa ke puskesmas Jati Rahma. Sama bapak bapak dan pak RT, neng." Ujar seorang ibu itu menjelaskan. Melani tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada tetangganya ketika hendak pergi.
Mendengar informasi keberadaan ayahnya dari tetangga. Melani segera kembali memasang kedua sepatu nya. Dan melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah menuju puskesmas Jati Rahma.
Sejujurnya Melani cukup khawatir setelah mendengar informasi tersebut. Namun, ia berusaha untuk menenangkan dirinya berusaha untuk tidak berpikiran ke mana mana.
Melani kembali melewati gang yang sebelumnya telah ia lalui. Ia berusaha untuk terus melangkah dengan cepat menuju keluar gang. Dan menghampiri pangkalan ojek yang tepatnya berada di pojok depan gang.
__ADS_1
"Ojeknya pak." Pinta Melani menghampiri pangkal ojek. Salah seorang pria paruh baya pun menghampiri Melani, dan mulai menyalakan sebuah sepeda motor supra butut. "Mau kemana neng?" tanya pria itu. Melani menghampiri segera menaiki supra itu. "Puskesmas Jati Rahma pak." sahut Melani.
Pria itu pun segera menjalankan supra bututnya itu membelah jalan. Keadaan hati Melani berdegup kencang. Pikiran nya di penuhi oleh rasa kekhawatiran kepada sang ayah. Bibirnya pun ikut bergetar menahan rasa sesak di dadanya.
Supra itu pun tiba di pekarangan puskesmas. Dengan segera ia menuruni sepeda motor, dan membayar ojek tersebut. Berlari memasuki aula puskesmas, segera bertanya pada resepsionis tentang keberadaan ayahnya.
"Pasien yang bernama Yusuf Dendra Kurniawan, sedang berada di UGD." jawab resepsionis tersenyum ramah ketika melihat ke arah Melani. Segera, Melani mengucapkan terimakasih dan berlari menuju UGD yang di maksud.
Nafasnya tersenggal senggal ketika berusaha melewati banyaknya gerombolan orang yang sedang duduk di ruang tunggu.
Kaki nya pun melangkah masuk, melihat sebuah raga pria paruh baya terkulai lemas di atas brankar. Keadaannya pun terlihat memprihatinkan, kedua bola matanya pun memanas. Gigi nya pun bergeretakkan, organ pernapasan Melani pun kini di penuhi oleh ingus yang berlomba lomba untuk keluar.
Melani hanya bisa menatap wajah pria paruh itu dengan teduh. Dan mengusap usap punggung tangannya. Andai saja ibu nya dulu tidak meninggalkan dirinya dan ayahnya. Keluarga yang Melani miliki mungkin akan terasa lengkap. Dan pastinya Melani akan merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu di dalam hidupnya.
Melani sedikit merenung, ia memikirkan biaya puskesmas yang harus di bayar setelah ayahnya kembali sadar. Lamunan nya pun buyar, ketika seorang perawat datang menghampiri nya dengan senyuman hangat.
Perawat itu meletakkan secangkir teh di atas nampan pada sebuah nakas yang tepat berada di sisi Melani. "Teh manis nya di minum ya kak, untuk obat bisa kakak langsung ambil di Apotik." Tutur perawat itu, menyerahkan sebuah kertas biaya yang sudah lunas di bayar.
Dahi Melani berkerut, "Maaf teh, apakah ini penanganan biaya nya sudah di bayar?" Tanya Melani sembari terus melihat ke selembar kertas tersebut.
__ADS_1
Perawat itu pun tersenyum, "Sudah kak, kata resepsionis yang di depan tadi sudah ada seorang pria yang membayar." Timpal perawat tersebut, kembali berbalik ke arah Melani.
"Baik kak terimakasih." ucap Melani sembari kembali tersenyum. Perawat itu pun keluar dari ruang UGD, setelah mengangguk ramah.
Kedua bola mata Melani pun melihat ke segala sudut ruang. Ruang UGD tersebut berfasilitaskan 8 buah brankar. Dengan sekat di setiap sisi brankar. Untuk menjaga privasi masing masing pasien. Tidak lupa dengan sebuah nakas yang berada di masing masing brankar.
Melani kini duduk menunggu, di sebelah ayahnya. Sungguh sangat bosan menunggu orang yang sedang tidak sadarkan diri. Sudah sekitar 30 menit dia terduduk di samping brankar, sembari memperhatikan kondisi ayahnya. Berharap ayahnya akan cepat sadar, dan pulang untuk beristirahat dengan nya.
Melani kembali menggenggam jari jari ayahnya. Memperhatikan detail kecil beberapa sudut wajah dari ayahnya. Melani sadar kini sudah muncul kerutan pada sudut mata dan keningnya. Nampak juga dengan beberapa helai pendek jenggot berada di wajah ayahnya.
Kini rambut ayahnya pun sudah ada yang terlihat memutih. Melani tersenyum lembut ketika mengingat kembali kenangan kenangan indah nya bersama sang ayah. Dari di antarkan menuju sekolah taman kanak kanak. Dan di masakan sebuah bekal untuk sekolah.
Sekarang, Melani sudah bisa melakukan hal tersebut secara mandiri. Tanpa lagi merepotkan ayahnya.
Jari Melani pun ikut bergerak, setelah sang ayah mulai kembali sadar. Dengan mata yang berbinar, Melani menatap kedua bola mata ayahnya yang sudah kembali terbuka.
"Melani,"
"Kamu sudah makan nak?" Tanya ayah, dengan suara nya yang parau.
__ADS_1
***