Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Selokan Komplek


__ADS_3

Yusuf mendorong gerobaknya melewati trotoar yang ramai dengan segerombolan orang yang berlalu lalang. Kini, tujuannya adalah berjualan di komplek Citra Raya. Komplek Citra Raya adalah sebuah kawasan perumahan elit, yang pastinya di tinggali para orang orang kaya. Bukan orang selevel seperti dirinya.


Pagi ini, asap kendaraan sudah banyak berterbangan. Sesekali membuat Yusuf terbatuk di buatnya. Keringatnya bercucuran disetiap langkahnya.


Yusuf membelokkan gerobaknya ke sebuah jalan besar dengan pos satpam di depannya. Setelah melewati indahnya jalanan komplek dengan berbagai tanaman di sisinya. Yusuf kini sudah berada di depan rumah warga yang bermodelkan rumah modern.


Ia mulai membunyikan mangkuk dengan sebuah sendok yang ada di roda nya. Menjadikan ciri khas bunyi, ketika ia melewat. Agar para warga perumahan di sana menyadari keberadaannya, kemudian membeli dagangannya.


Tidak lama setelah berkeliling dengan menggetok getok mangkuk. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster memanggilnya.


"Saya mau buburnya dong pak."


"Baik." Jawab Yusuf, langsung menyiapkan sebuah mangkuk untuk di isi bubur.


"Jangan pakai kacang ya pak, tambahkan kecapnya sedikit banyak, dan pedasnya cukup 2 sendok saja." Pinta wanita tersebut. Yusuf segera menuangkan beberapa centong bubur ke dalam mangkuk.


Dan memasukkan bumbu bumbu rahasia agar buburnya tambah lezat. Tidak lupa, Yusuf menambahkan beberapa suir ayam ke atas bubur.


"Ini bu sudah."


"12 ribu kan pak?" Yusuf mengangguk setelah ditanyai. Wanita tersebut menyerahkan sepuluh ribuan dan selembar dua ribu.


"Terimakasih bu." Wanita tersebut pergi dengan semangkuk bubur di tangannya, memasuki rumah. Sembari menunggu mangkuk selesai di pakai oleh wanita itu.

__ADS_1


Yusuf kembali menggetok getok mangkuk dengan sebuah sendok. Kepala nya berputar, melihat ke sekeliling daerah. Kedua matanya melihat ke sebuah selokan besar di sisi tembok putih menjulang. Tempat di mana ia terjatuh sesudah tertabrak sepeda motor seorang pemuda yang bernama Adam.


Rahangnya kembali memunculkan urat urat ketika mengingat kejadian itu, ia tidak akan membuat pemuda itu lolos dari cengkramannya. Jika pemuda itu muncul di depan kedua matanya.


"Pak, ini mangkoknya, terimakasih ya." Ujar seorang wanita tersebut menaruh mangkuk ke dalam gerobak Yusuf. Ia hanya mengangguk tersenyum menanggapi wanita tersebut.


Yusuf kembali mendorong gerobaknya, berniat untuk mengelilingi komplek itu lebih jauh. Jalanan komplek ini memang sering terasa sepi dan sunyi. Dibandingkan dengan jalanan komplek yang sering ia kelilingi.


Suara motor kencang terdengar dari belakangnya. Yusuf memutar 90 derajat kepalanya. Memastikan ia sudah berada di tepi jalan, dan tidak tertabrak seperti kejadian kemarin. Namun, keningnya berkerut ketika melihat motor sport yang tampak tidak asing dari pandangannya. Sepeda motor itu berhenti di sebuah warung yang tidak jauh di depan Yusuf.


Dengan cepat pria itu melangkahkan kakinya sembari mendorong gerobaknya dengan sekuat tenaga yang ia bisa.


"Dam, lo mau jam berapa berangkat ke sekolah?" Tanya salah seorang pemuda yang juga sedang duduk di dudukan warung tersebut.


Salah satu pemuda yang lainnya pun ikut duduk di samping pemuda itu. Sembari menyalakan sebuah rokok yang ada di tangannya. "Nanti aja, udah terlanjur terlambat. Gue males kalo di marahin sama bu Mala." Jawab pemuda tersebut, mulai menghisap rokoknya.


Yusuf melotot sambil menunjuk ke arah Adam duduk, "Kamu kan yang nambrak saya pas lagi anteng anteng jualan? Sampe sampe masuk ke dalam solokan sana?" Teriak Yusuf, pria itu menggertakkan giginya.


Adam melihat pria itu sudah terpancing emosi hanya bisa diam, ia tidak bisa menyangkal perbuatannya. "Bapak bapak ini yang lo ceritain minggu kemarin?" Tanya Kevin, Adam hanya bisa mengangguk dan menelan salivanya.


Tiba tiba Kevin berdiri menghampiri pria tersebut sembari memperlihatkan giginya. "Maafin perbuatan teman saya ya pak? Teman saya waktu itu tidak sengaja menabrak bapak hingga bapak masuk ke dalam selokan."


Yusuf menatap pemuda tersebut sekilas. Ia ingin sekali menampar pipi Kevin, namun sayangnya dia tidak bersalah dan pemuda tersebut anak orang. Jadi ia tidak bisa sembarangan menampar pemuda tersebut.

__ADS_1


Pria bertopi bucket itu mengatur nafasnya, "Saya bukan ngomong ke kamu, saya ngomong ke teman kamu."


Pemuda tersebut berdiri menghampiri Yusuf. "Maafin perbuatan saya ya pak,"


Yusuf menatap tajam sosok tinggi pemuda tersebut. Ia memutar kedua bola matanya. "Baik akan saya maafkan kamu, tapi ingat. Jangan berani untuk mendekati anak saya lagi." Titah Yusuf. Kemudian menghampiri gerobaknya yang berada di tepi jalan.


Kening Adam berkerut, "Anak bapak siapa?"


Pria itu berdecak sebal, "Melani, Melani Cahya Pertiwi." Jawab Yusuf kembali mendorong gerobaknya. Tidak menggubris satu perkataanpun yang keluar dari mulut kedua pemuda tersebut.


"Sial." Batin Adam mengacak acak rambutnya.


"Lagian lo si pas itu sok-sok an kabur segala, kagak tanggung jawab. Mampuskan lo, ga bisa pdkt-an sama si Melani lagi." Ucap Kevin, menertawakan nasib teman dekatnya.


Adam yang sudah terlalu kesal, hanya melirik pemuda itu sekilas. Menebalkan telinganya dari tawa Kevin yang menyebalkan.


"Lagian gue pas itu keburu panik,"


"Panik kenapa lo? Takut di mintain tanggung jawab? Lo kan anak orang kaya." Adam berdecak mendengar perkataan temannya itu. "Gue takut ketauan nyokap, kalo gue nabrak orang. Lagian kan lo tau, gue nabrak dia di selokan sebelah sana. Itu selokan deket banget jir sama rumah gue." Jelas Adam.


Ia sungguh meenyesal telah tidak berhati hati dalam berkendara. Andai saja, ia sedikit berhati hati, mungkin hubungannya dengan bapak camer sudah mulus seperti keadaan jalan tol.


"Apa gue ga telat ya gue ganti rugi besok Vin?" Tanya Adam pada temannya itu.

__ADS_1


Kevin menggedikkan bahunya, "Engga si menurut gue, coba aja." Saran Kevin.


•••


__ADS_2