
Wanita itu berjalan keluar dari arah dapur. Memegang sebuah celemek merah di tangannya dengan wajah sumringah. "Ini celemek buat kamu, mulai hari ini kamu kerja di sini ya." Ujar wanita itu menyodorkan sebuah celemek.
Melani menerima sebuah celemek dari wanita tersebut, lalu memakainya. "Terimakasih ya bu sudah mau menerima saya di sini." Ucap Melani tersenyum, mata nya berbinar binar.
"Tidak usah sungkan sama ibu, kenalin. Nama ibu, Dedeh Irma. Nama eneng siapa?" Tanya Dedeh memastikan.
Melani tersenyum, "Nama saya Melani, bu." Ujar Melani. Dedeh hanya mengangguk angguk dengan ramah.
"Neng Melani sudah paham kan apa yang ibu jelaskan tadi?" Ucap Dedeh memastikan. Melani mengangguk. Ia yakin bahwa dirinya sudah cukup mengerti tentang tata cara melayani pelanggan di warkop ini.
"Tuh ada pelanggan baru neng, coba eneng layani." Suruh Dedeh, ketika melihat 3 orang pemuda memasuki warkop mereka. Dengan gegas Melani, menghampiri para pemuda itu ketika mereka sudah duduk.
Melihat karyawannya sudah menulis catatan apa yang pelanggan inginkan. Dedeh segera menyajikan beberapa cangkir yang pemuda itu pesan.
Di tengah tengah kesibukan melayani para pelanggan, yang semakin malam semakin ramai. Sekelompok pemuda datang memasuki warkop, setelah memarkirkan motor sport yang mereka bawa.
"Eh si kasep, baru datang dari mana Adam?" Tanya Dedeh saat pemuda itu menyalaminya. "Baru keliling keliling doang bu sama barudak." Ujar Adam tersenyum kepada Dedeh.
"Bu kopi nya seperti biasa ya." Pinta salah satu dari mereka. "Iya siap siap, kalian duduk duduk dulu aja nya? Adam, kamu juga duduk dulu atuh," Ucap Dedeh menuntun sekelompok pemuda itu untuk duduk.
Melani yang melihat bu Dedeh sedang sibuk berbicara dengan para pemuda tersebut. Hanya mengelap meja kosong sembari menunggu pelanggan baru datang.
Namun, bu Dedeh tiba tiba memberi isyarat kepala Melani untuk menghampiri keberadaannya.
"Ini Neng Melani, dia mulai hari ini membantu ibu disini den Adam." Ujar Dedeh memperkenalkan Melani kepada sekelompok pemuda itu. Melani hanya bisa tersenyum kikuk.
__ADS_1
Salah satu pemuda disana pun menyodorkan tangannya. Mau tidak mau, mengharuskan Melani menjabat tangan pemuda tersebut. "Panggil gue Adam." Tutur Adam, menatap datar pada Melani. Melani saat itu hanya bisa menelan saliva nya, dan kembali tersenyum kikuk.
Tiba tiba, bu Dedeh yang di sampingnya mendekat, "Neng Melan, boleh buatkan kopi untuk den Adam sama temen temen nya?" Bisik Dedeh di telinga kanan Melani sembari menyodorkan selembar catatan. "Baik bu," Jawab Melani pergi menuju dapur. Sedangkan Dedeh masih saja mengobrol dengan para pemuda itu.
Melani segera menuangkan beberapa merk kopi yang para pemuda itu pesan. Dari kopi susu hingga kopi hitam, ia aduk dengan pelan. Memastikan semua kopi telah teraduk rata. Melani pun segera membawa beberapa cangkir kopi tersebut menggunakan nampan.
Lalu melangkah dengan cepat menuju meja para pemuda dan bu Dedeh mengobrol. Namun, sebelum langkahnya sampai, Melani terhenti ketika seorang pria memanggilnya dari salah satu meja.
Melani pun mendekati meja tempat pria tersebut berada. "Iya ada perlu apa pak memanggil saya?" Tanya Melani ramah, dengan sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Neng baru ya di sini?" Ujar pria tersebut. Menelaah Melani dari atas kepala ke ujung kaki. "Em..."
"Iya pak, saya baru bekerja di sini?" Jawab Melani, mencoba menyembunyikan kegelisahan di hati nya.
Melani hanya tersenyum menanggapi hal itu, "Maaf pak, saya permisi dahulu." Sanggah Melani, ingin segera melangkahkan kaki nya menjauh dari sana. Bahkan firasatnya sudah mulai tidak enak.
"Bentar doang kok neng," Pinta salah satu pria itu kembali. Dan kini, pria itu memegang bahu Melani. Membuat kedua lutut Melani melemas.
Dengan kebernian yang sedikit tersisa, Melani mencoba membuka mulutnya. "Maaf pak, saya harus segera membuat pesanan pelanggan lain, permisi." Ujar Melani langsung berjalan menuju meja para pemuda.
Tanpa disangka salah satu pria tadi menertawakan pria yang lainnya. "Haha, nasib mu sangat menyedihkan, di tolak oleh gadis muda." Ledek pria itu, dengan tawanya yang menggelegar di hampir setiap ujung warkop.
Karena malu, pria itu kembali merebut tangan Melani. Membuat beberapa cangkir kopi yang ada di atas mampan jatuh seketika. "Bisa bisa nya gadis muda wajah pas pas-an sok sok an nolak, laku aja belum tentu." Teriak pria itu kearah Melani.
Seluruh orang yang berada di warkop itu pun menatap kearah Melani dengan nanar. Tengkuk Melani terasa berkeringat, kedua rahang gigi nya pun bergetar. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyingkirkan pria itu di hadapannya.
__ADS_1
"Hei sialan, kenapa diam aja? Maneh belegug?" Umpat pria itu kepada Melani. Dengan cepat Melani melepaskan genggaman pria itu secara paksa.
Seorang pemuda datang dari meja yang didudukinya. "Lo udah mempermalukan dia dan mengacaukan suasana warkop. Mending lo keluar aja dari warkop." Ujar Adam, menatap tajam. Urat uratnya bermunculan dan ubun ubunnya pun terasa panas.
"Apa apaan, kau mencoba membela pelayanan rendahan ini?" Bentak pria itu, tidak membuat amarah Adam padam.
"Sudah, saya muak pelanggan seperti bapak mengunjungi warkop ini. Silahkan angkat kaki bapak dan jangan pernah kembali lagi ke warkop ini." Teriak Melani kesal, bisa bisa nya pria tua sialan itu merendahkan dirinya. Kesabarannya sudah diambang batas.
Pria itu, dan gerombolannya pergi dengan ekspresi marah. Mereka juga tidak sempat membayar pesanan. Meninggalkan warkop dengan jengkel tanpa memikirkan reaksi orang yang sedang berada di dalam warkop.
Melani kini mulai membersihkan cangkir kopi yang telah ia jatuhkan. Dedeh pun segera menyampiri nya, membantu nya membersihkan tumpahan air kopi di lantai warkop nya.
"Maafkan Melani ya bu, telah mengacaukan warkop bu Dedeh di hari pertama Melani kerja." Ujar Melani dengan nada kecewa terhadap dirinya sendiri. Dedeh hanya tersenyum lembut, "Tidak apa apa, memang hal yang seperti itu sering terjadi disini. Jadi ibu harap Melani membiasakan diri." Ucap Dedeh yang kini mengumpulkan pecahan cangkir ke atas nampan.
"Maafin ibu juga tadi ibu diam aja pas eneng di goda sama bapak bapak itu. Dan malah menyuruh Adam membantu eneng." Sambung Dedeh, kini menatap Melani yang akan membawa nampan.
"Melani juga paham kok, pasti ibu takut tadi soalnya Melani juga ngerasa takut tadi." Jawab Melani, "Melani ke dapur dulu ya bu, mau bersihin sama buat ulang kopinya." Ujar Melani, langsung melangkahkan diri nya ke dapur.
Melani membuang serpihan cangkir yang sudah di kumpulkan pada tempat sampah. Dan membuat ulang pesanan tadi. Lalu, bergegas menuju meja Adam berada.
"Maaf ya udah ngebuat nunggu terlalu lama, ini kopinya silahkan dinikmati." Tutur Melani sembari meletakkan satu persatu kopi ke atas meja.
"Lo dari SMK Cipta Bramata?" tanya Adam dengan wajar datarnya, ekspresinya terlihat berbeda saat ia membela Melani tadi.
***
__ADS_1