Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Ganjaran


__ADS_3

Telapak tangan Adam mengepal, pikirannya di kendali oleh amarah ketika melihat wajah teman dekatnya penuh dengan memar. Kevin hanya bisa tersenyum lembut ke arah Adam yang sekarang sedang mengobati luka di sisi bibirnya.


Setelah selesai mengobati sang teman dekat, pemuda itu bangkit berbalik ke arah tengah markas. Tatapannya menelusuri seluruh penjuru ruangan, memantang satu persatu tatapan kedua bola mata seluruh pemuda anggota Gelit.


Kini dia mencoba menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba menstabilkan pernafasannya. "Kita serang GMC sore ini." ucap pemuda itu dengan datar kini seluruh sorotan mata para pemuda Gelit terbelalak.


"Tapi Dam, kita udah ga pernah nyoba nyerang geng lagi tiga tahunan ini." timpal seorang pemuda botak, Anggi mencoba mengembalikan kembali kesadaran ketua Gelit itu.


Adam menatap Anggi tajam, ia memutar kedua bola matanya. "Lo tega ngebiarin temen segeng lo babak belur kaya gitu?" teriak Adam, menunjuk ke arah Kevin yang sedang terduduk di atas sofa butut melihat ke arahnya.


"Mana tuh sial*n lancang banget deketin si Melani, ngomong seenaknya tentang Melani." sambung Adam, kini pria itu terlihat benar benar menahan emosinya. Kedua bola mata pemuda itu memerah.


Anggi mengangguk setelah mendnegar perkataan Adam, mencoba mengerti hal yang memancing emosi pemuda itu.


"Kita serang mereka, sore. Jam pulang SMK Cipta Bramata selesai." ucap Rama, seorang pemuda berotot salah satu anggota Gelit.


•••


Puluhan motor sport melaju menuju SMK Cipta Bramata. Bahkan jalanan raya penuh dengan geng motor yang di ketuai oleh seorang pemuda berparas tampan tersebut.


Suara sepeda motor menggema sepanjang jalan, mereka melajukan sepeda motor mereka dengan kecepatan yang tinggi. Hampir beberapa sorot mata melirik ke arah kumpulan sepeda motor para pemuda yang melaju cepat di jalan raya tersebut.

__ADS_1


Asap knalpot dari beberapa sepeda motor menyebar, mengotori udara sore itu. Kecepatan motor mereka berkurang ketika melewati sebuah tikungan, memberhentikan motor mereka di depan sebuah gedung sekolah.


SMK Cipta Bramata plang sekolah dengan dinding gedung bercat hijau muda dengan gradasi biru itu berdiri megah. Sekolah kedua terbaik di kecamatan tersebut, sekolah tempat berkumpulnya murid berprestasi ataupun murid murid berstatus tinggi.


Adam menuruni sepeda motornya melihat ke sekeliling daerah tempat itu. Kini tempat itu akan ramai ketika jam pulang tiba. Ia dan para pemuda geng nya hanya menunggu beberapa menit lagi untuk menunggu bel sekolah berbunyi.


Pemuda itu berjalan menuju sepeda motornya, mencari lahan parkir sepeda motor kesayangannya. Pikirannya kembali mengingat sebuah lapangan besar tidak jauh dari keberadaan sekolah menengah kejuruan tersebut.


Dengan cepat, Adam memimpin seluruh anggota Gelit untuk mengikuti arahannya. Memarkirkan sepeda motor milik mereka di lapangan yang membentang luas tersebut. Dengat kecepatan yang tinggi, sepeda motor mereka akhirnya terparkir di atas permukaan lapangan tanah yang hijau itu.


Salah seorang pemuda menghampirinya ketika Adam mengaitkan helmnya ke atas spion. "Dam, gimana strategi kita buat nyerang GMC?" tanya Anggi, pemuda botak itu menggaruk kulit kepalanya yang mengkilap ketika tersorot sinar matahari.


Adam tersenyum miring, "Kita tunggu mereka bubar, tapi kita lihat dulu keadaan sekolahnya. Kalo udah sepi ga ada staf sekolah atau guru, baru kita serang. Kalo misalnya lingkungan sekolah masih aja ramai, kita buntutin mereka." jelas Adam, kini sebelah tangannya memegang pinggang. Rambutnya tampak berterbangan tertiup angin yang lumayan kencang.


"Rama, lo jadi ketua penyerangan ini. Jadi mau kita nyerang di sekolah ataupun di luar sekolah Cipta Bramata. Lo harus ada di kelompok inti." perintah Adam, Rama mengangguk menyetujui hal itu.


Kini kedua bola mata Adam melihat ke seluruh pemuda anggotanya. Melirik ke arah seorang pemuda yang telinga sebelah pemuda itu beranting. "Lo Dika, lo jadi pengawas lingkungan. Tugas lo ngasih tau Rama dan gue, kita harus nyerang GMC di mana." jelas Adam, kedua matanya tampak serius menatap Dika.


Dika menyengir seperti kuda mendengar permintaan itu. "Beres, ez banget itu mah." timpal pemuda itu membunyikan jari jempol dan telunjuknya.


Adam melangkahkan kakinya ketika selesai menjelaskan seluruh strategi sederhananya untuk memulai peperangan.

__ADS_1


Mereka sengaja ingin menghabisi para anggota geng GMC dengan tangan kosong. Sehingga mereka tidak membawa alat apapun untuk menyerang sang lawan. Mereka hanya ingin membalas perbuatan yang dilakukan geng GMC pada Kevin, salah satu anggota dan teman dekat ketua geng.


Dan juga memberi pelajaran karena telah membuat sang ketua kesal dengan tingakh mereka. Mereka melangkahkan kakinya dengan perlahan, hingga mereka semua melihat sebuah plang yang sudah mereka lihat tadi 'SMK Cipta Bramata'.


Dengan cepat, mereka membubarkan diri. Menghindari sorotan mata para warga sekitar, dan terutama menghindari kecurigaan juga.


Kini pantat Adam terduduk di atas sebuah kursi penjual bakso yang ada di dekat gerbang SMK Cipta Bramata. Penjual itu tersenyum kepada Adam setelah pemuda itu terduduk di atas kursi miliknya.


"Mau pesen a?" tanya penjual bakso itu melihat ke arah Adam dengan tatapan yang ramah. Adam hanya menggelengkan kepalanya, "Engga pak." timpal Adam kembali melirik ke arah lain.


Penjual bakso tersebut duduk di depan kursi sang pemuda, membuka topi bucketnya. Adam menyadari sang penjual bakso duduk tepat berada di depannya.


"Lagi nungguin pacar bubaran sekolah ya?" tanya sanv penjual bakso menatap Adam yang pura pura tidak melihat keberadaannya. Setelah mendengar pertanyaan itu Adam memutar otaknya. Menyadari suatu kebetulan yang ia tidak sadari sebelumnya.


Bahwa Melani juga bersekolah di sekolah yang akan ia serang. Ia meneguk salivanya menyadari fakta tersebut, apa yang akan ia lakukan apabila Melani terkena sebuah serangan dari anggota gengnya?


Sang penjual bakso berdehem, mengembalikkan kesadaran Adam sepenuhnya. Adam hanya tersenyum kecut lalu mengangguk, merespon pertanyaan sang penjual bakso tadi.


"Kayanya sekarang bakalan bubar lebih cepet a, soalnya guru guru dan staf sekolah mau rapat sore ini." ungkap sang penjual bakso.


Mendengar pernyataan itu, hatinya meletuskan beberapa kembang api. Sepertinya serangan yang ia rencanakan tidak akan diketahui olehpihak sekolah.

__ADS_1


•••


__ADS_2