Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Isi Bekal untuk Adam


__ADS_3

Pemuda itu melangkah memasuki kelasnya. Tidak terasa, sebuah senyuman terukir di wajah milik Adam yang tampan.


"Kenapa lo senyum senyum sendiri?" Tanya seorang pemuda yang sedang duduk di kursinya. "Apaan orang gua kaga senyum." Sangkal Adam kepada Kevin, sahabatnya dari SD.


Kevin membuat menyeringai. Mencoba menggoda Adam yang masih menggenggam sekantong kresek hitam. "Apaan si lo ga jelas." Kesal Adam, melempar sebuah pulpen pada Kevin. Dan berhasil mengenai hidung mancung milik pemuda tersebut. "Sialan lo."


Adam berjalan menuju tempat duduknya. Lalu perlahan membuka isi kresek hitam tersebut. "Lo beli warteg?" Tanya Kevin memastikan, Kevin tahu biasanya pemuda tersebut kurang menyukai masakan warteg.


Adam hanya menggelengkan kepalanya, dan hanya berfokus membuka segumpal makanan yang di bungkus oleh kertas nasi.


Setelah kertas nasi tersebut berhasil ia buka. Terlihatlah sebutir telur berwarna merah karena telah di bumbui. Terlihat juga beberapa potong timun dan sepotong kecil kol menyatu dengan setumpukkan nasi.


"Tumben lo beli nasi uduk." Ujar Kevin, masih terdiam di samping Adam. Memperhatikan gerak gerik sahabatnya. Pemuda tersebut langsung menyuapkan sesendok nasi dan sepotong telur.


Kedua alisnya mengerut dan kedua bola mata nya yang berwarna coklat tua pun melirik ke arah Kevin. Mencoba merasakan masakan yang di buat oleh kedua tangan Melani.


Dengan perlahan Adam menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. Ia tidak menyangka, nasi uduk buatan Melani dapat terasa seenak ini. Nasi nya terasa gurih dan pulen ketika di satukan dengan sepotong telur dengan citra rasa pedas, gurih dan manis.


Mereka seolah bersatu, mencoba menggoyangkan indra pengecap Adam. "Gue mau coba dong." Pinta Kevin, langsung merebut sendok yang ada di genggaman Adam. Mencoba memasukan sesendok nasi uduk yang di buat oleh Melani.


Kedua bola mata pemuda itu berbinar sembari mengunyah mulutnya. "Enak banget woe." Teriak Kevin, ia bahkan smepat mengguncang guncangkan badan Adam. "Mau lagi dong." Pinta Kevin kepada Adam, kembali mencoba merebut sendok tersebut.


"Ga, enak aja." Tolak Adam, ia tidak ingin membagi bekal yang di bawakan oleh Melani kepadanya. Bahkan sesendok nasi tadi pun sebenarnya tidak ikhlas telah di makan oleh Kevin. "Sialan, pelit amat lo." Celoteh pemuda itu.


"Lo beli nasi uduk itu di mana jir? Gue juga mau ikutan beli." Ucap Kevin. Adam hanya melirik Kevin sekilas, ia tidak ingin memberitahu pemuda tersebut. Bahwa ia telah di berikan bekal oleh Melani. Bisa bisa pemuda itu heboh, dan refleks membagikan surat undangan nikah.


•••


"Lo beli nasi uduk itu di mana, Dam?" Tanya Kevin ke seribu kalinya. Membuat telinga Adam memerah ketika mendengar kalimat tersebut. Adam kini telah benar benar bosan, dan ingin rasanya memberi selotip ke atas bibir tipis Kevin.


"Dam."


"Sut, gue udah cape ya denger lo nanya itu terus." Omel Adam, ia tidak ingin mendengar kalimat sakti itu kembali terucap di bibir Kevin.


"Ya lo dari tadi ga ngejawab. Lo beli dimana?"


"Gue ga beli, gue di kasih. Puas lo?" Teriak Adam, kedua bola mata Adam ikut memutar. Malas.


Serentak, Kevin kembali menyeringai jahil. Kini pemuda itu tertawa kecil. "Lo di kasih bekal sama gebetan lo ya?" Tanya Kevin, ekspresi pemuda itu masih sama.


Sebuah benda tepat mengenai kening Kevin. Membuat kening pemuda tersebut bernodakan hitam. "Kevin, tolong lihat ke depan saat bapak menerangkan!" Teriak seorang guru IPAS yang sedang mengajar.


Adam hanya berusaha menahan tawanya keluar, ketika penghapus papan tulis itu berhasil mengenai kening Kevin. Adam sangat puas melihat, kening pemuda tersebut bernodakan hitam.

__ADS_1


"Sialan." Ujar Kevin, ketika melihat Adam sedang menahan tawanya.


•••


"Melani." Ungkap Adam kepada Kevin. Ia sungguh muak mendapatkan sahabat dengan modelan Kevin.


Bagaimana tidak, Kevin terus saja menanyakan siapa yang memberi Adam bekal tadi pagi. Membuat Adam terpaksa menyebutkan nama Melani kepada pemuda tersebut.


Kini bola mata Kevin benar benar membulat, mulutnya pun terbuka lebar. "Melani pelayan warkop? Dia gebetan lo?" Jerit Kevin. Kini lagi lagi Adam menggelindingkan kedua bola matanya karena sikap pemuda itu.


"Lo suka sama si Melani?" Tanya Kevin, ia sungguh merasa sangat penasaran dengan kisah cinta sahabatnya.


Adam menghembuskan nafasnya, "Gatau deh, gue cape mikirinnya," Keluh Adam.


"Maksud lo? Ngapa di pikirin segala?"


"Gue ga terlalu yakin, gue suka sama dia. Tapi, gue selalu senang kalo liat dia senyum." Ujar Adam, kembali menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.


•••


Debu debu berterbangan ketika Melani mencoba membersihkan warkop bu Dedeh. Jam sudah menunjukkan jarum panjangnya ke angka 10.45. Pada waktu segini, Melani mempersiapkan dirinya untuk pulang.


Melani juga mencoba untuk menata beberapa kopi dari gudang, ketika stok kopi di dapur sudah habis. Juga menyuci beberapa cangkir bekas kopi. Agar wanita pemilik warkop tersebut tidak kerepotan ketika ia pulang.


Melani mengaduk kopi tersebut secara pelan, memastikan semua kopi telah teraduk rata. Lalu menambah kembali 70 ml air, agar suhu kopi yang di buatnya tidak terlalu panas.


"Silahkan di nikmati a." Ujar Melani pada seorang pria muda, sembari tersenyum.


"Eh den Adam dari mana aja ga mampir mampir?" Sapa bu Dedeh pada Adam. Mendengar Dedeh memanggil nama pemuda tersebut. Melani refleks memutar lehernya 90 derajat.


Ternyata benar, pemuda itu memasuki warkop dengan memakai jaket hoodie hitam pada tubuhnya. Pemuda itu tersenyum kepadanya ketika Melani yang tidak terlalu jauh keberadaannya.


"Adam mau pesen kopi ya bu." Pinta Adam. Dedeh pun menoleh ke arah Melani, memberikan syarat agar di buatkan sebuah kopi untuk pemuda tersebut.


Dengan cekatan Melani menyeduh secangkir kopi untuk pemuda tersebut. Lalu segera membawanya ke meja yang Adam duduki.


"Kevin kemana den Adam?" Tanya Dedeh, terduduk di samping Adam. Adam hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan tersebut. "Tuh bocah mungkin lagi nongkrong di markas." Jawab pemuda tersebut.


"Ini kopi pesenan kamu." Kata Melani, seraya meletakkan secangkir kopi. "Makasi."


Melani kembali beranjak ketika telah meletakkan secangkir kopi, menuju dapur. Ia berniat untuk memasak seteko air panas.


"Den Adam, kalo neng Melani udah pulang tolong anterin dia ya." Cetus bu Dedeh pada Adam. Pemuda itu hanya mengangguk, menyetujuinya.

__ADS_1


Sedangkan Melani refleks membalikkan badan ketika mendengar hal itu. "Eh gausah bu, saya bisa kok pulang pakai ojek." Tolak Melani, ia sungguh tidak ingin di antar pulang dengan pemuda yang menyebalkan itu.


Bu Dedeh hanya tertawa mendengar penolakkan Melani, "Tidak usah sungkan sama den Adam neng."


"Ah ibu, saya memang bisa pulang sendiri kok."


"Eits, udah ah. Den Adam aja mau kok buat nganterin kamu. Iya kan den Adam?" Desak bu Dedeh pada Adam. "Iya gue ga keberatan kok buat lo numpang." Timpal Adam, melirik pada Melani.


"Kamu emang ga keberatan, tapi aku yang keberatan." Batin Melani, ia sungguh memohon kepada tuhan agar hidupnya dibebaskan dari mahluk yang bernama Adam.


Dengan rasa sebal, Melani pemit untuk ke dapur. Melaksanakan niat awalnya untuk memasak air.


"Neng, waktu kerjamu hari ini sudah habis. Ini untuk upah kamu hari ini. Makasi ya neng Melani." Ujar Dedeh ketika memasuki area dapur. Melani menerima uang itu, "Terimakasih ya bu. Tetapi saya tunggu airnya mendidih dulu ya bu?"


"Ah, tidak usah Melani, biar ibu saja yang memasak air." Tolak bu Dedeh, gadis itu langsung menyalami wanita paruh baya itu. "Saya duluan bu."


Dengan cepat Melani melangkah keluar warkop ketika ia tidak melihat keberadaan Adam di meja tadi. Akhirnya ia bisa lolos dari pemuda itu sekarang. Hidupnya akan lebih mudah ketika pemuda itu tidak berada di sekitarnya.


Namun harapannya sirna ketika melihat pemuda tersebut memanggil namanya. "Yok sini gue anterin." Tawar Adam telah menaiki sepeda motor miliknya.


"Baiklah, aku pasrahkan saja semuanya padamu ya Allah." Batin Melani, menghampiri Adam sembari tersenyum kesal.


Gadis itu menaiki sepeda motor Adam, lalu memegang pegangan jok belakang. Kendaraan itu pun mulai Adam kendarai. Suasana malam membuat pori pori Melani membesar.


Gigi atas dan bawahnya pun ikut gemetar hebat akibat suhu malam ini. "Peluk gue aja kalo lo mau," Celetuk pemuda itu. Membuat seluruh bulu kuduknya merinding.


"Ga, makasi." Tolak Melani, sikap Adam pada dirinya akhir akhir ini memang sangat ekstrim.


Tiba tiba pemuda tersebut merendahkan kecepatan motornya lalu menepi di tepi jalan. Membuka jaket hoodie miliknya, lalu memberikan jaket tersebut pada Melani.


Melihat pemuda tersebut memberikan jaketnya. Ia sangat kebingungan, tidak paham dengan yang maksud oleh pemuda tersebut. "Ngapain di buka?"


Beberapa saat, Adam diam menatap gadis itu, "Lo pake aja jaket gue."


"Ngapain aku make jaket kamu?" Melani benar benar kebingungan saat ini. Gadis itu kira Adam memintanya untuk memegang jaket itu. Ternyata bukan.


"Lo keliatan kedinginan, pake jaket itu atau kau gue pakein?" Melani meneguk salivanya. Segera ia memakai jaket pemberian Adam.


Setelah selesai Melani memakai jaket miliknya. Ia pun segera melajukan kembali motor sport miliknya.


Udara dingin malam sudah tidak menusuk pori pori Melani sekarang. Tubuhnya sudah terasa lebih hangat. Namun, bukan itu yang ia pikirkan. Ia lebih kasihan pada Adam yang menyetir hanya memakai kaos berlengan pendek.


Karena mau semenyebalkan apapun mahluk yang bernama Adam tersebut. Ia adalah manusia yang masih merasakan suhu dingin.

__ADS_1


•••


__ADS_2