
"Lo udah berhutang sama gue tadi, lo harus bayar hutang lo besok." Celetuk Adam pada Melani.
Sungguh gadis itu hari ini membuat banyak masalah, dari di rayu oleh seorang pria. Kini, Melani tidak sengaja menjatuhkan sebuah pot bunga yang di jual di toko bunga di sebelah warkop.
"Kalo aja lo ga nolak buat gue anterin, ga bakalan tuh pot jatuh." Lanjut Adam, kini Melani hanya bisa menatap sepasang sepatu flatnya. "Maaf," Ujarnya berusaha menatap kembali kedua bola mata Adam.
"Besok kita ketemuan di depan warkop buat bayar hutang lo sama gue, awas aja kalo lo ga datang. Gue tandain muka lo." Peringat Adam kepada Melani, kemudian berjalan menaiki motor sportnya. Lalu melaju pergi meninggalkan Melani.
Jam sudah menunjukkan jarumnya pada angka 11, warkop memang belum menutup. Namun, Dedeh membujuk Melani untuk segera pulang, dikarenakan Dedeh tahu bahwa Melani masih menjadi seorang siswi SMK.
Dengan terpaksa, Melani mengantongi uang 70 ribu sebagai penghasilannya hari ini. Sungguh ia sebenarnya malu. Karena upah dalam jumlah tersebut harusnya dibayarkan kepada Melani jika ia bekerja hingga pukul 4 subuh.
Namun, karena pemilik warkop terus saja memaksannya untuk pulang. Dan Melani pun tidak mau terus menolak permintaan wanita itu. Ia pun menerima nya.
Melani memutar kepala nya 180°, mencari-cari kendaraan yang bisa ia tumpangi untuk pulang. Tetapi, hasilnya tetap saja nihil.
Melani pun mulai melangkahkan kaki nya, sembari terus melihat ke arah sekitar. Sungguh jantungnya berdetak cepat sekarang.
Ia takut melihat sesuatu yang terbang di atas pepohonan rindang yang tertanam di sisi alun alun. Melani bahkan sempat melihat beberapa kali ke arah ranting ranting pepohonan. Syukurnya dalam hal ini, ia tidak melihat sesuatu yang aneh.
Kini semua pori pori Melani melebar, entah karena cuaca malam ini terasa sedikit dingin dari biasanya. Atau mungkin karena ada mahluk halus yang sedang memperhatikannya dari jauh.
"Hei," Teriak seorang pemuda berada di depannya. Sungguh itu membuat Melani terkejut. Namun setelah menyipitkan matanya, sekarang Melani tahu ternyata itu adalah Adam. "Cepet naik." Perintah Adam, saat Melani sudah ada di depannya.
Melani hanya diam menatap pemuda itu. Ia ragu menerima ajakan Adam untuk mengantarnya pulang.
"Cepet naik, mumpung gue masih baik." Omel Adam, sungguh ia kesal dengan gadis itu hari ini. Tetapi Adam juga tidak mau meninggalkan Melani, berjalan sendirian di malam hari.
Mendengar omelan Adam, keseribu kalinya. Pada akhirnya Melani menaiki motor sport milik pemuda itu. "Lo kesusahan ya buat naik? Lo pendek si." Ledek Adam, ketika Melani telah mendaratkan pantatnya di atas jok.
__ADS_1
"Cerewet kamu, cepetan jalanin motornya." Omel Melani, telinga nya terasa bengkak setelah mendengar banyak ledekan dari pemuda itu.
•••
Matahari terlihat samar samar, awan awan menghiasi langit yang cerah sore itu. Melani kembali melirik ke arah jam tangan nya.
"Sudah pukul 2, namun batang hidung Adam masih saja belum terlihat." Batin gadis itu sembari melirik ke arah jalanan kota yang ramai.
Warkop belum buka pukul 2 sore, jadi ia tidak usah khawatir akan pekerjaannya.
"Ekhm." Deheman seseorang terdengar di depannya. Ternyata benar, pemuda itu sudah ada di hadapan Melani. Segera, gadis itu melangkah menuju pemuda tersebut dengan muka nya yang masam.
"Adam, sori ya aku ga bisa balikin semua hutang kamu hari ini." Ujar Melani dengan wajah memelas, ia juga sedikit memajukan bibirnya. Meminta permohonan maaf dari si pemuda itu.
Tetapi tetapi saja, pemuda itu tetap berwajah datar. "Lo bisa bayar berapa sekarang?" Tanya Adam, sedikit memutarkan kedua bola matanya. Sebal.
"50 ribu Dam, Ini juga hasil dari kerja dari warkop kemarin." Jawab Melani, ia masih memperlihatkan wajah memelasnya.
"Cepet, naik." Perintah pemuda menyebalkan itu, sembari menutup kembali kaca helm full face miliknya. Dengan ekspresi bingung, Melani tetap menaiki motor sport milik Adam.
•••
Kini sudah sepuluh menit Adam mengendarai motornya. Namun, ia masih saja belum tahu kemana dia dan Adam akan pergi. Setiap saja Melani tanyakan hal itu kepada pemuda yang ada di depannya. Ia selalu saja diam tidak merespon.
Melani berdecak sebal, "Kita mau kemana si Dam?" Teriak Melani, agar pertanyaannya terdengar oleh pemuda menyebalkan itu.
"Gue mau ngejual lo ke om-om." Jawab pemuda itu dengan santai. Mendengar jawaban dari Adam, Melani membulatkan kedua bola matanya.
"Ha?"
__ADS_1
"Percaya lo?" Tanya Adam, tersenyum menyeringai namun berhasil tertutupi oleh helm full face Adam.
Melani mengangguk angguk, "Gila kamu?"
"Ya kagak lah kocak, percaya aja lo." Cetus Adam, ia pun mematikan mesin motornya.
"Turun woi." Teriak pemuda itu, berhasil menyadarkan lamunan gadis yang sedang ia boncang. Segera gadis itu turun dari motor Adam.
Melani melihat ke sekeliling, ia dan pemuda itu berhenti di sebuah gang berukuran 2 mobil. Di kawasan tersebut banyak warganya yang membuka warung ataupun kelontong. Daerah ini juga cukup tandus, membuat sang mentari menusuk ke pori pori.
"Ayo masuk," Perintah pemuda itu, ia berhasil membuka helm. Lalu mendahului Melani, masuk ke sebuah bangunan.
Suasana di dalam ruangan bangunan itu cukup ramai. Banyak orang yang berduduk di hadapan komputer. Sepertinya Melani tahu, ia sedang menginjakkan kakinya dimana.
Terlihat stiker 'jangan merokok' tertempel di pintu kaca warnet. Ada juga 2 ac di atas pojok dinding dengan berlawanan arah. Juga sebuah keset kaki sedang ia injak.
Adam menghampiri seorang pria dewasa yang sedang duduk di hadapan komputernya. "2 jam ya a." Pinta Adam, sembari menyodorkan uang pemberian Melani.
Gadis itu mendekati Adam, lalu berbisik kepadanya. "Kita mau ngapain di sini?" Tanya gadis itu kebingungan.
"Komputer nomor 45." Usul pria dewasa tersebut. Adam pun berjalan mencari komputer bertuliskan angkat 45. Lalu Melani hanya bisa pasrah mengikuti kemana pun pemuda itu pergi.
Pemuda itu duduk di depan komputer yang ia pesan. Lalu menatap Melani yang ada di sampingnya. "Lo kan masih punya utang ke gue, dan gue ga mau lo bayar uatang lo pake uang." Ujar Adam.
"Sekarang lo ajarin gue cara pake Microsoft Word, sampe gue bisa bikin makalah." Pinta Adam, masih dengan tatapan nya yang tajam.
Melani hanya bisa pasrah, mungkin inilah takdir Melani agar selalu bersama pemuda menyebalkan sampai titik darah penghabisannya.
Gadis itu mengangguk, "Oke, tapi cuma 3 har-."
__ADS_1
"Ga, 7 Hari." Potong Adam
•••