Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Tamu tak di Undang


__ADS_3

Kini Melani menatap gelapnya langit malam itu, para bintang tidak menunjukkan dirinya. Dan snag bulan pun hanya samar samar terlihat. Malam itu suhu kota dingin seperti biasanya.


Pemuda yang sedang memboncengnya mencoba berdehem menyamankan pita suaranya. "Gue janji bakalan nyelesain permasalahan ini, lagian emang seharusnya gue bertanggung jawab atas apa yang gue pernah gue lakuin." Ujar Adam. Melani hanya diam membisu mendengar pernyataan pemuda tersebut.


Sungguh suasana hatinya sangat buruk mengetahui kenyataan ini, ia tidak ingin berbicara dengan seorang pemuda yang menabrak lari ayahnya.


Ia sudah mual mendengar perkataan Adam yang terus menerus mencoba untuk menyelesaikan permasalahan hal ini.


Gegara perbuatan Adam, yang tidak bertanggung jawab. Melani harus membantu ayahnya untuk mencari nafkah, bekerja paruh waktu di warkop bu Dedeh.


"Dasar cowo sialan." Batin Melani mengumpat. Sungguh pertanggung jawaban yang akan di berikan Adam sekarang, sungguh sudah terlambat. Jika ia memang benar benar ingin bertanggung jawab pada tindakannya.


Mengapa pemuda itu tidak melakukannya ketika sesudah kejadian itu terjadi? Mengapa pemuda itu baru mempertanggung jawabkan semua nya saat pemuda itu tahu bahwa orang yang ia tabrak lari adalah ayahnya?


Kini Melani paham, mengapa sang ayah melarangnya untuk menemui Adam. Dirinya pun tidak mau menjalin pertemanan dengan sosok pemuda yang memperlakukan orang lain dengan buruk.


Kendaraan beroda dua tersebut berhenti. Pemuda itu memarkirkan sepeda motornya tepat berada di luar pagar rumah Melani. Bergegas, Melani turun dari jok penumpang, dan memasuki rumah tanpa mengajak pemuda itu untuk masuk ke dalam. Sungguh kehadirannya saat ini sangat tidak diinginkan oleh sang pemilik rumah.


Melihat putrinya datang tanpa salam dan menutup pintu. Kening Yusuf berkerut, melihat ekspresi muka Melani yang tidak ceria seperti biasanya.


Yusuf hanya menghela nafasnya, melangkah menuju pintu depan rumahnya. Sungguh kedua matanya melotot ketika melihat sesosok pemuda yang menabraknya baru saja melepas helm.


Pemuda tersebut menelan salivanya, ia sungguh siap menerima apapun yang akan terjadi pada hidupnya. Dengan percaya diri, Adam melangkah masuk ke dalam halaman rumah bercat light white itu. Lalu mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Ucap Adam sembari sedikit tersenyum.


Pria itu hanya menatap Adam, dan tidak menjawab salam sang pemuda. Adam melangkah menuju tempat berdirinya pria itu.

__ADS_1


"Halo pak, ketemu lagi sama say-."


"Mau apa kamu kesini?" Potong Yusuf, ia menatap tajam ke arah Adam yang masih berusaha tersenyum ramah.


Kedua lutut pemuda itu melamas, pori pori nya pun berkeringat deras. Suasana ini lebih mencekam dari pada melihat sesosok hantu sesungguhnya.


Adam kembali menelan salivanya, "Keberadaan Adam di sini berniat untuk bertanggung jawab atas perilaku yang Adam lakukan minggu kemarin." Yusuf memutar kedua bola matanya mendengar hal itu.


"Kan kemarin saya bilang, saya memafkan kamu asalkan kamu menjauhi anak saya, Melani. Mengapa kamu malah datang ke sini segala? Mana sepertinya anak saya tadi kamu bonceng." Yusuf mengulang perkataannya tadi pagi. Ia memang sebenarnya akan memaafkan perilaku pemuda tersebut jika menjauhi anaknya.


Adam berusaha tetap menatap kedua bola mata pria itu, berusaha mencoba untuk menyakinkan. "Jika Adam hanya melakukan apa yang bapak inginkan. Adam merasa, Adam masih kurang bertanggung jawab atas perbuatan Adam. Kini, Adam ingin benar benar meluruskan hal ini. Dan sejujurnya...."


"Adam menyukai anak bapak, Melani." Sambung Adam, sepertinya ia menyesali perkataannya yang terakhir.


Yusuf yang mendengar pernyataan suka dari pemuda tersebut hanya sedikit terkekeh kecil. Setelah itu ia berusaha menampilkan wajah tegasnya kembali.


"Baiklah kalau seperti itu, kita bicarakan ini di dalam." Puluhan kembang api di hati pemuda itu meletus secara bersamaan ketika mendengar perkataan pria itu. Mungkin ucapannya tadi sedikit membuat pria itu yakin akan niat baiknya.


Yusuf melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sederhananya itu. Membimbing tamu yang tak di undang itu untuk duduk di sebuah kursi rotan dengan meja di depannya.


Pria pemilik rumah pun ikut terduduk di samping pemuda itu setelah memanggil anaknya, Melani untuk membuat sebuah hidangan.


"Ini saya punya beberapa dana, untuk menebus kesalahan Adam pada minggu kemarin." Celetuk pemuda tersebut sembari mengeluarkan beberapa kantong coklat dari sebuah kantong totebag hitam yang sedari tadi pemuda itu bawa.


Yusuf hanya memperhatikan pemuda tersebut yang sedang mengeluarkan kantong berwarna coklat itu.

__ADS_1


"Ini dana untuk menebus biaya yang sudah bapak keluarkan untuk perawatan luka bapak." Raba Adam pada sebuah kantong coklat paling kiri. "Kantong ini sebagai permintaan maaf saya ke bapak, karena sudah langsung kabur pas kejadian." Jelas Adam kembali meraba kantong coklat tengah.


Pria itu hanya diam membisu. Lalu menghela nafasnya. "Ini wujud minta maaf saya ke bapak karena sudah mengganggu Melani lagi."


"Kalo bapak tetap ingin Adam buat menjauhi Melani setelah ini, Adam bisa menerima itu dan...." Sambung Adam menghela nafasnya secara kasar. "Dan tidak akan menemui putri bapak lagi." Pria itu tersenyum mendengar sebuah pernyataan yang keluar dari mulut pria itu.


Yusuf membuka satu persatu kantong coklat yang di berikan oleh pemuda tersebut. Pria itu hanya mengangguk anggukkan kepala nya setelah melihat isi kantong coklat tersebut. Ternyata berisi uang tunai yang terbilang cukup banyak, bagi orang sederhana seperti dirinya.


"Iya, saya ingin putri saya tidak lagi terlalu berdekatan dengan kamu. Dan semua kantong ini menurut saya tidak bisa menyelesaikan masalah. Tapi, karena kamu sudah memiliki keberanian dan niat untuk berminta maaf. Saya akan hargai itu."


"Dan saya hanya menerima kantong untuk biaya perawatan luka saya. Kantong lainnya kamu gunakan saja untuk keperluanmu." Sambung Yusuf, menggeserkan dua kantong coklat ke arah Adam.


Mendengar hal itu, nafas pemuda itu memburu. Hatinya tidak menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi mendekati gadis pujaan hatinya. "Baiklah kalo gitu,"


Gadis itu membawa nampan berisi beberapa cangkir berisi sirup. "Di minum dulu." Tawar Yusuf ketika cangkir tersebut telah di atas meja. Pemuda tersebut meraih cangkir tersebut lalu meneguknya.


"Terimakasih pak," Ucap Adam, lalu melirik kepada Melani yang ikut serta duduk di hadapannya.


Pemuda tersebut menapat lekat Melani, "Urusan saya dan kamu sudah selesai. Bapak minta tolong, kamu untuk menepati janji mu tadi." Pinta Yusuf. Adam hanya mengangguk sembari tersenyum tipis ke arah pria tersebut.


"Baik pak, Adam permisi dulu. Maaf telah mengganggu waktu istirahatnya." Ujar pemuda tersebut berdiri. Di ikuti pria itu berdiri menggantar sang pemuda menuju pintu depan.


Adam tersenyum ketika berbalik ke arah gadis itu. Menatap sendu Melani yang sedang berdiri di samping kursi rotan. Kembali menatap Adam.


Mungkin ini terakhir kalinya, ia dan gadis itu saling bertatapan.

__ADS_1


__ADS_2