Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Totebag


__ADS_3

Kala itu bintang mulai bermunculam untuk menemani sang rembulan. Angin berhembus lebih dingin. Sang mentari tak muncul permukaan di gantikan dengan terangnya lampu lampu jalan. Melani melangkahkan kakinya bergantian.


Sudah beberapa hari batang hidung pemuda itu tidak muncul di hadapannya. Kini, Melani juga lebih sering melewati jalanan malam saat pulang. Tidak ada lagi senyum menyebalkan pemuda itu. Tidak ada lagi suara motor sport miliknya terdengar pendengaran sang gadis.


Hidup sang gadis kembali seperti tahun tahun sebelumnya. Tidak ada lagi bimbang, cemas ataupun rasa senang yang muncul ke permukaan hati sang gadis. Ia berusaha untuk melanjutkan hidupnya, tetap fokus ke masa yang akan datang.


Gadis itu melihat sebuah benda yang ia jinjing sedari tadi. Benda itu berwarna putih cerah dengan motif kartun di depannya. Sebuah totebag yang sering gadis itu bawa untuk menyimpan sebuah jaket hoodie sang pemuda.


Sudah beberapa kali mentari dan rembulan berganti. Gadis itu selalu membawa totebag itu selama bekerja di warkop. Ia sangat berharap sang pemuda tersebut kembali mengunjungi tempat ia bekerja. Agar ia bisa mengembalikan barang sang pemuda.


Sebuah siulan terdengar di pendengarannya. Sontak seluruh tubuhnya sedikit bergetar. Melihat ke arah dahan dahan rimbun. Jalanan itu sepi, tidak ada sama sekali kendaraan yang melintas. Hanya sang gadis dan lampu jalan yang menyala menemani malam.


Sang gadis meneguk salivanya ketika melihat segerombol preman menghampiri. Tangannya bergetar hebat, dan lututnya pun lemas. Mereka semakin mendekat ke arahnya. Perlahan Melani memundurkan langkahnya, mencoba menjaga jarak.


Segerombol preman pun tersenyum licik ketika sang mangsa terlihat ketakutan. Namun, sang gadis tetap berusaha tenang. Melihat keadaan sekitar, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya.


Hingga tubuhnya terjatuh, tersandung sebuah batu bata. Ia bahkan tidak bisa melihat batu bata itu sebelumnya ketika memundurkan langkahnya. Seorang preman datang menghampiri sang gadis yang sedang gemetar.


"Mangsa bagus nih, putih, mulus, cantik lagi." Celetuk sang preman, meraih dagu Melani.

__ADS_1


Sang preman mendekatkan wajahnya. Keringat sang gadis bercucuran deras. Hela nafas sang preman terasa di kulitnya sekarang. Dengan keberanian yang tersisa, sebelah tangannya meraba ke jalanan.


Meraih sebuah batu bata yang telah mendaratkannya ke permukaan. Ketika sang preman masih sedang menilik parasnya. Sang gadis mendaratkan tamparan batu bata ke permukaan kulit pria itu. Memunculkan erangan kesakitan.


Melihat kesempatan itu, Melani segera berdiri. Melangkahkan kaki nya dengan cepat. Nafasnya berat, lututnya lemas. Ingin sekali ia melihat ke belakang. Namun hatinya melarang.


Pendengarannya mendengar banyak langkah kaki menyusulnya. Langkah kaki tersebut seolah mencoba meraih tubuh sang gadis. Mendengar hal itu, sang gadis mempercepat langkahnya. Berusaha agar orang orang yang di belakang tidak meraih tubuhnya.


"Woi jablay berani banget ya lo sama gue!"


Nafasnya semakin berat, ia bahkan terasa hampir akan mati. Hingga terdengarlah segerombolan motor dari arah yang berlawanan. Detakkan jantung sang gadis semakin bergemuruh.


Tidak terlihat seorang pun preman berada di dekatnya. Mereka terlihat berlari menjauhi sang gadis. Melangkahkan kakinya dengan cepat, seolah takut terhadapnya. Melani menghela nafasnya, begitu lega. Ia menyusut keringat yang ada di keningnya. Kedua kaki nya terasa sedikit pegal.


Namun, sang gadis tetap menatap segerombolan preman itu hingga mereka menghilang dari pengelihatannya. Suara segerombolan motor semakin mendekat disertai angin yang berhembus dingin.


Sebuah lengan mengenai bahu kanannya. Sentuhan itu terasa dingin di permukaan kulit bahunya. Jantungnya kembali berdetak cepat. Sang gadis sekarang sungguh berpasrah kepada tuhan soal nasibnya.


Melani memberanikan diri memutar kepalanya. Sebuah senyuman cerah seorang pemuda terlihat. Senyuman itu menyilaukan gelapnya rembulan. Pemuda itu terlihat sedang memegang sebuah helm di lengan kanannya.

__ADS_1


"Lo ga apa apa?" Tanya pemuda itu, ia bukan pemuda yang ia kenal.


Namun Melani sekarang bersyukur akan kehadiran sang pemuda dan gerombolannya. Karenanya, ia berhasil keluar dari nasib sang gadis malam ini.


Ia tersenyum lembut. "Aku baik baik aja, makasi." Sahut sang gadis, nafasnya masih berat. Keringatnya pun masih bercucuran deras.


Sang pemuda menatapnya dari atas hingga ke ujung kaki Melani. Menilik penampilan sang gadis. Dengan memakai sweater coklat muda, gadis itu terlihat sangat menarik di pandangannya.


Ia menjulurkan tangan kanannya. "Nama gue Raffansyah, panggil aja Raffa." Ucapnya mengenalkan dirinya. Sang gadis menyalami telapak tangan pemuda tersebut.


Melani merekahkan senyumnya, "Nama aku, Melani." Sang pemuda membalas senyumnya. Hembusan angin membelai rambut sang gadis. Keheningan hadir diantara mereka, mengisi sendu nya rembulan.


Salah satu pemuda turun dari sepeda motornya. Menepuk bahu Raffa lalu membisikkan ke telinganya. Raffa mengangguk mengerti, pemuda itu kembali tersenyum ke arah sang gadis.


"Aku duluan ya, hati hati." Kata sang pemuda kembali menaiki sepeda motor miliknya lalu memasangkan sebuah helm yang ada di genggamannya.


Sang pemuda dan gerombolan itu melaju meninggalkan sang gadis kembali sendiri. Kesunyian malam kembali menyelimuti suasana jalanan. Dengan cepat sang gadis melangkahkan kakinya.


•••

__ADS_1


__ADS_2