Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Pertempuran di Mulai


__ADS_3

Adam mengeluarkan sepeser uang untuk membayar bakso colok yang sudah ada di tangannya. Ia cukup berterimakasih denganninformasi yang telah di sampaikan oleh sang penjual bakso kepadanya, sehingga ia sekarang bisa menentukan strategi yang sudah ia rencanakan sebelumnya.


Yaitu menyerang GMC di wilayah sekitaran sekolah ini. Adam menghampiri Anggi yang tidak jauh berada di sekitarnya, sedang menyender di sebuah tiang listrik dekat gerbang depan.


"Kabarin si Dika, kita harus nyerang di wilayah sekitar sekolah." bisik Adam kepada telinga kiri pemuda botak itu. Anggi mengeluarkan ponselnya setelah mendengar titah sang ketua, memelepon Dika menelepon informasi untuk kelangsungan penyerangan ini.


Setelah mendengar informasi itu, perlahan para pemuda anggota geng muncul di sekitar wilayah sekolah dengan posisi memisah. Mereka berperilaku seperti warga biasa yang hanya melewat ataupun menumpang nongkrong di sekitar lingkungan sekolah tersebut.


Berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan orang sekitar. 30 detik lagi jam pulang sekolah berbunyi. Seluruh anggota geng fokus memperhatikkan geebang sekolah yang sedang akan di buka oleh sang satpam sekolah.


Seluruh anggota geng yang ada di sana berjalan menuju tempat yang di arahkan oleh Dika, sebuah jalanan yang tidak jauh dari sekolah untuk menyerang anggota GMC yang akan pulang menggunakan sepeda motor.


Sebuah bel berbunyi nyaring di area sekitar sekolah tersebut, memekakan indra pendengaran hampir seluruh insan yang ada di sekitaran sekolah. Namun, para siswa akan merasakan perasaan yang senang setelah mendengar bel itu terdengar nyaring.


Gerbang sekolah terbuka lebar setelah di bukakan oleh seorang satpam yang berdiri di sisi gerbang. Para siswa mulai melewati gerbang itu dengan berjalan kaki ataupun menaiki sebuah sepeda motor.


Adam yang masih saja memantau ke arah gerbang, menyadari seorang pemuda yang panik melihat keberadaannya.

__ADS_1


Pemuda berbadan gempal tersebut menaiki sebuah sepeda motor, lalu menaikkan kecepatan sepeda motor yang ia tumpangi. Berusaha kabur dari tatapan tajam Adam. Namun sang pemuda itu masih bersikap tenang, melihat pemuda berbadan besar itu menaikkan gasnya meluncur ke arah jalanan raya.


Motor itu terhenti ketika 2 orang pemuda salah satu anggota geng Gelit menghadangnya. Mau tidak mau pemuda berbadan bulat itu menuruni motornya dengan wajah datarnya.


"Kita ketemu lagi ya." sapa pemuda berbadan gempal itu tersenyum miris sembari turun dari sepeda motornya.


Tanpa bersuara pemuda berbadna gempal itu pun menghampiri salah satu pemuda anggota Gelit yang tadi menghadang motornya. Ia meluncurkan sebuah tinju ke pemuda yang ada di depannya dengan kepalan telapak tangan seukuran batu raksasa.


"Btw nama gue Heru." ucap pemuda berbadan gempal tersebut memutar lengan bagian atasnya, menatap tajam salah satu anggota Gelit yang masih ada di sana.


Anggi, pemuda botak itu baru saja melihat teman geng nya terhuyung jatuh karena mendapatkan sebuah tinju dari Heru, segera berlari mendekat. Badannya yang sering berolahraga cukup cepat ketika berlari menghampiri pemuda itu, lalu menendang bokong Heru yang besar dari arah belakang.


Heru yang baru saja mendapatkan tendangan dari bokongnya pun berusaha bangkit, kepalanya berusaha menoleh ke arah belakang. Namun belum sempat pemuda itu memutar lehernya, sebuah alas sepatu dari pemuda botak tersebut menghantap pipi Heru dengan tepat sasaran hingga hidung pemuda tersebut mengeluarkan darah.


"Sialan lo botak!" maki Heru langsung mendapatkan respon sebuah tawa terpaksa dari Anggi yang sedang berdiri menyilangkan tangannya menatap tubuh Heru yang besar terduduk di atas aspal.


Heru berusaha bangkit setelah melihat Anggi berdiri tegap di depannya. Tinggi badan pemuda itu melebihi Anggi persis yang ada di hadapannya. Heru memperlihatkan sebagian giginya meremehkan tinggi badan Anggi yang lebih pendek darinya.

__ADS_1


Namun belum sempat Heru mengeluarkan suaranya, Anggi sudah menendang muka nya dari samping kiri dengan kakinya yang terbuka lebar saat menendang. Heru menundukkan matanya, merasakan matanya yang berkunang kunang hidungnya pun mengeluarkan sebagian darah.


"Dimana ketua lo jing?" tanya Anggi menatap rendah Heru yang masih memegang hidungnya.


Melihat Heru yang masih belum bersuara Anggi menggenggam kerah baju putih SMK Heru yang terkena beberapa tetesan darah dari hidungnya. "Jawab dong, tuli lo?" tanya Anggi kembali, berjinjit berusaha menatap pemuda gemuk itu dengan tajam.


Mereka saling bertatapan tajam, Heru mulai membuka mulutnya. "Dia kabur lewat gerbang belakang sekolah."


"Sialan." ucap Anggi melepas cengkramannya dari kerah Heru, pemuda itu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Adam, si an*ing Raffa kabur lewat belakang gerbang." pemuda itu tampak mengacak-acak rambutnya dengan prustasi saat menyampaikan informasinya. Namun Adam yang ada di sebrang hanya terkekeh mendengar informasi dari Anggi.


"Makasi Gi, lo beresin aja anak buahnya."


"Sip."


Telepon mereka terputus, Anggi membalikkan badannya menatap tajam pemuda gemuk itu yang kini pergelangan tangannya di ikat oleh anggota Gelit.

__ADS_1


•••


__ADS_2