Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Bukan Dia


__ADS_3

Semilir angin malam berhembus pelan. Jalanan kota terlihat ramai saat itu. Lampu lmpu terang menerangi sisi jalanan kota. Sebuah kipas angin berwarna hijau menyala di sisi ruangan.


Malam pada hari sabtu pun Melani harus tetap berkerja di warkop. Membantu mencari sesuap nasi untuk dirinya sendiri dan sang ayah.


Kini tangannya yang kecil memutar di atas sebuah meja. Menghilangkan sebuah noda kopi yang baru saja terjatuh karena sebuah senggolan. Ia pun kembali membawa sebuah cangkir itu ke atas wastafel. Menaruhnya bersama alat alat dapur yang juga harus ia cuci.


Ia pun kembali menaruh sebungkus bubuk kopi ke dalam cangkir baru. Dan menyeduhnya dengan seperempat air panas dari sebuah termos.


Tangannya terlihat sudah sangat lihai ketika mengaduk kopi dengan sebuah sendok. Hingga menaruh secangkir kopi itu kembali ke atas sebuah nampan. Untuk diberikan kepada pelanggan yang kopinya terjatuh.


Seusai memberikan secangkir kopi tersebut. Telinga nya mendengar panggilan sang pemilik warkop dari pintu masuk warkop.


"Neng Melan, ada yang nyariin!" teriak bu Dedeh, melihat ke sekeliling warkop mencoba mencari keberadaan gadis itu.

__ADS_1


Lehernya memutar ke arah suara. "Iya bu, sebentar." timpal Melani, langsung berlari kecil ke arah pintu warkop.


Senyumnya mengembang ketika ia tahu, dirinya sedang di cari seseorang. Apakah sang pemuda yang ia tunggu tunggu kini sudah memutuskan untuk menemuinya kembali?


Hatinya bergemuruh, membayangkan paras sang pemuda. Ia tidak sabar lagi untuk menyapanya kembali. Dan mencium aroma sang pemuda, bahkan ia akan benar benar menampar dirinya jika pemuda itu kembali menemuinya malam ini.


Kaki nya terhenti di ambang pintu. Senyumnya yang merekah dari bibirnya yang kemerah mudaan sirna. Kini hatinya bergemuruh karena kekecewaan atas ekspektasi dirinya sendiri.


Sementara itu seorang pemuda yang baru saja menuruni sepeda motornya berjalan menghampiri sang gadis. Sang pemuda nampaknya membawa sebungkus kertas nasi dengan sebuah kresek transparan. Pemuda tersebut tersenyum cerah. Kaki nya dengan cepat melangkah ke arah sang gadis.


Sang gadis hanya bisa menghembuskan nafasnya lembut. Lalu terpaksa melukiskan senyuman di bibirnya.


"Ini gue bawain lo sesuatu." ucap pemuda itu memberikan kantong plastik yang ada di tangan kanannya.

__ADS_1


Melani menerima kantong plastik itu, melihat kedalam isi kantong palstik. Dahinya terlihat berkerut, menebak isi sebungkus kertas nasi itu.


"Gue habis beli nasi goreng sama temen temen gue, gue juga beliin nasi goreng buat lo." pemuda tersebut senyum, menjelaskan isi kantong plastik yang telah ia berikan kepada sang gadis.


Melani hanya bisa mengangguk, ia kembali memaksakan senyumannya. "Makasih ya udah mau bawain ini buat aku." ungkapnya sembari sedikit terkekeh.


"Iya ini penambah semangat pas lo kerja." ucap Raffa, menunjukkan jarinya ke sekantong plastik yang sudah Melani genggam.


"Ngomong ngomong, kok kamu tahu aku kerja disini?" tanya Melani, seingatnya ia tidak pernah memberitahu apapun sang pemuda tersebut mengenai pekerjaannya.


Raffa terkekeh. "Ada deh, jangan lupa makan ya nasi goreng nya. Gue pamit dulu, bye." Jawab pemuda itu melangkahkan kaki nya menjauh dari sang gadis sembari tetap memperlihatkan senyumnya.


Ia pun memasangkan helmnya. Lalu menyalakan mesin sepeda motornya, melanju cepat meninggalkan Melani menatapnya datar.

__ADS_1


Sepeninggalan Raffa, sang gadis hanya bisa menatap sebungkus nasi goreng yang ada di tangannya. Segumpalan kertas nasi itu mengingatkannya saat ia membekali Adam, sebungkus nasi warteg untuknya.


•••


__ADS_2