
Lampu di ruangan itu menyala dengan terang. Asap rokok berterbangan memenuhi seluruh penjuru ruangan. Suara tawa kencang menggoyangkan dinding ruangan. Kumpulan pemuda yang terdiri dari lima orang itu sedang melingkar.
Tawa demi tawa terdengar ketika salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa candaan. Sebagian waktu hidup mereka telah di habiskan di ruangan ini. Markas Gelit.
Geng Motor Elit, adalah singkatan dari Gelit. Geng ini sudah di didirikan sejak beberapa tahun yang lalu. Namun namanya kembali jaya sejak satu tahun kebelakangan. Anggota geng mereka berasal dari SMK Indah Utama. Salah satu sekolah yang cukup bergengsi di kota ini.
Gelit di kenal sebagai geng motor yang jarang sekali membuat masalah. Tujuan geng mereka hanyalah untuk menyenangkan hobi mereka terhadap motor ataupun menghabiskan sebagian waktu mereka menjalin tali silahturahmi sesama anggota.
Namun, hal itu tidak bisa di pungkiri bahwa Gelit juga pernah membuat beberapa masalah dengan anggota keamanan negara maupun geng motor lainnya.
Walaupun begitu, mereka sebisa mungkin untuk menghindari masalah masalah tersebut dan membuat perdamaian.
Sang pemuda yang sedang terduduk terlihat tertawa sembari memegang sepuntung rokok di tangan kanannya. Sebelah kakinya tertumpang di atas lutut. Badannya yang sedikit terbentuk, terlihat karena ia hanya memakai kaos tipis berwarna hitam yang menerawang.
__ADS_1
"Dam?" panggil salah satu pemuda di sana. Mendengar namanya di sebut, refleks ia pun menaikkan kedua alisnya seolah merespon panggilan itu.
"Gue mau ngomong, tapi lo jangan ngomel ya." ingat Kevin, wajahnya kembali datar tidak seperti sebelumnya membuat ekspresi konyol seperti wajah anak monyet.
Adam memutarkan kedua bola matanya malas. Ia sungguh tidak bisa menahan segala perasannya. Terutama rasa ingin memaki teman dekatnya itu. "Mau ngomong apa lo?" tanyanya, ia begitu penasaran dengan pernyataan Kevin.
Kevin menggeserkan sebuah ponsel di atas meja bundar itu ke arah sang pemuda. "Noh lihat." perintah teman dekatnya itu, sembari menunjuk ke arah ponsel.
Gambar itu memperlihatkan seorang gadis muda yang sednag tersenyum dengan seorang pemuda yang ada di hadapannya. Adam hanya menatap datar gambar itu. Ia pun menelan salivanya perlahan.
Ia menggeserkan ponsel itu kembali ke atas meja. Lalu mematikkan rokoknya yang masih tersisa setengah. Kedua bola matanya hanya menatap sang teman dekat dengan datar. Hati nya bergemuruh sedih setelah melihat sang gadis bersama dengan pemuda lain.
"Itu si Raffa?" tanya Adam, tetap menatap ke setiap pasang mata. Seorang pemuda botak yang sebelah alisnya tercukur sebagian menggangguk.
__ADS_1
"Iya itu si Raffa, dia ketua geng GMC." ucap Anggi, lalu menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.
Adam memukul meja bundar itu dengan kedua tangannya. Urat urat yang ada di tangannya terlihat. Kedua bola matanya memerah, nafasnya terengah engah.
Melihat teman dekatnya sedang di landa perasaan amarah. Kevin sontak berdiri menghampirinya, memegang kedua bahu pemuda itu. Ia mencoba menenangkan sang pemuda.
"Sialan, beraninya bajingan itu ngerebut si Melan dari genggaman gue." teriaknya keras, seluruh anggota Gelit yang sedang berada di dalam markas melirik ke arah sang ketua yang sedang marah.
Anggi yang ada di sisinya beranjak. "Sialan, emang GMC itu hobinya bikin ulah mulu dari zaman nenek moyang." ucap pemuda itu ikut merasakan amarah sang ketua geng. "Apa kita serang aja tuh bocah tengil?" tambahnya, menyeringai.
Adam mengusap rambutnya ke belakang, menstabilkan nafasnya. Pandangannya menatap tajam ke arah Anggi. Dia terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.
"Gue bakalan ngasih kesempatan si tengil itu buat ngejauhin si Melani. Tapi kalo dia masih nyentuh si Melani, gue bakalan ngehancurin muka si tengil itu." ucap pemuda itu, tangannya masih terlihat mengepal.
__ADS_1