Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Bekal Spesial


__ADS_3

"Melani ada yang nungguin kamu tuh di parkiran." Celetuk salah satu teman sekelas gadis itu. Melani hanya tersenyum tipis ketika mendengar hal itu.


"Mungkin ayah." Batin Melani. Karena kondisi ayahnya itu sudah hampir pulih, hanya perlu beristirahat. Mungkin besok juga bisa kembali berjualan bubur.


Halaman di sekolah nya cukup asri. Pihak sekolah banyak menanam pohon di sekeliling lapangan upacara. Membuat suasana sekolah terasa sejuk. Entah mengapa hari ini terlihat sangat cerah. Bahkan para yang melayang tidak menampakan dirinya.


Melani menyusuri koridor sekolah, menuju halaman parkir sekolah yang berada di dekat pintu gerbang. Angin meniup helai rambut Melani dengan lembut. Bibir tipis yang berwarna merah milik Melani pun mengembang.


"Adam, kamu kok ke sini?" Sapa Melani ketika melihat pemuda tersebut melambaikan tangan ke arahnya.


Melani segera menghampiri pemuda tersebut. Seperti biasa, pemuda tersebut membawa sepeda motor sport miliknya yang bermerk Hondi. Melani ingat saat pertama kali dibonceng oleh Adam. Pinggulnya terasa pegal, bahkan ia merasa kesusahan saat menaiki sepeda motor tersebut.


Namun sekarang, Melani sudah terbiasa. Ia sudah biasa di jemput dari warkop bu Dedeh untuk mengajarkan pemuda tersebut Microsoft Word. Bahkan beberapa kali, Adam mentraktirnya beberapa makanan setelah sesi belajar mereka selesai.


Hari ini, adalah hari ke-6 Melani membayar hutang pada Adam. Setelah besok, ia akan bebas dari tuntutan belajar dan mengajar pemuda tersebut.


"Ayo berangkat sekarang." Titah Adam. Gadis itu kebingungan mendengarnya. "Kemana?"


"Biasa, ajarin gue." Ujar Adam. Gadis itu mengigit bibir bawahnya. "Aku harus pulang dulu." Melani ingat, ia harus merawat luka ayah tercintanya yang masih dalam masa pemulihan.


Mendengar ucapan Melani, pemuda itu kembali meletakan helm full face miliknya. "Ngapain? Lagian ini udah jam 2."


"Aku harus merawat ayahku yang lagi sakit Dam." Jawab Melani.


"Lah ga bisa gitu juga. Ini udah kesepakatan lo sama gue, dari jam 2 selesai pas jam 4." Protes Adam, ia tidak ingin mengulur waktunya untuk menunggu Melani untuk pulang sejenak.

__ADS_1


Melani yang mendengar hal itu pun, menatap Adam nanar. "Ayah aku seminggu yang lalu di tabrak sama motor. Gerobaknya si,"


"Trus?"


"Ya, aku sebagai anak yang berbakti harus rawat dia dong." Celoteh Melani, ia bersikukuh tetpa ingin pulang terlebih dahulu. Pemuda tersebut berdecak, memutarkan kedua bola matanya. "Oke, gue anterin lo ke rumah dan tungguin lo di luar."


Kedua bola mata Melani membulat, mulutnya pun ikut terbuka lebar. "Eh ga gitu juga,"


"Ga ada negosiasi, cepet naik ke motor gue." Perintah yang mulia Adam.


•••


"Itu belok ke kanan, trus masuk sana." Tunjuk Melani, menjelaskan keberadaan gang rumahnya pada Adam.


Pemuda tersebut hanya memanggut mangut menuruti perkataan Melani. "Udah ya, kamu tunggu aku di sini." Perintah Melani, ia tidak ingin laki laki tersebut mengetahui rumahnya.


Telinganya sudah panas mendengar omelan Adam. Ia memang harus benar benar segera menyelesaikan urusannya dengan pemuda itu.


Sudah lewat sepuluh menit, Adam berdiri di pangkalan ojek. Ia bahkan tidak peduli dengan bisikan bapak bapak ojek yang beberapa kali memanggilnya. Kedua kaki nya sudah tidak tahan untuk berdiri. Bahkan beberapa kali terasa kesemutan.


Hingga seseorang menepuk bahunya. "Kamu tampan, kamu asal mana?" Tanya seorang gadis muda. Adam hanya menatapnya sekejap. Ia tidak ingin hidupnya tambah pusing hanya karena seorang wanita. Ribet.


"Adam!" Teriak Melani dari jauh. Senyuman manis terpancar di muka Melani. Ia sungguh terlihat cantik ketika memakai sebuah kemeja, dengan High Waist Jeans. Tidak lupa dengan sepatu flat yang sering ia kenakan ketika mengajar Adam ataupun bekerja.


Semuanya terlalu terlihat sempurna untuk dipandang oleh pemuda itu.

__ADS_1


"Maaf ya lama, yuk kita berangkat." Ajak Melani kepada pemuda itu yang dari tadi terus menatapnya. "Kenapa si kamu liatin baju aku terus?" Tanya Melani, ia sedikit merasa risih ketika di perhatikan oleh pemuda itu.


"Tidak biasanya kamu membawa tote bag." Ujar Adam, menyembunyikan rasa malunya. "Oh tadi ayah aku ngasih aku bekal ini. Lumayan kan aku jadi ga perlu keluar uang buat makan malam."


"Emang apa bedanya?" Tanya Adam, ia sungguh tidak tahu apakah membawa bekal dari rumah itu lebih hemat dari pada makan di luar rumah? Menurutnya sama saja, namun lebih simple makan di luar rumah. Ia tidak perlu mengandalkan ART nya untuk memasak, dan rasanya pun lebih cocok di lidah Adam.


"Beda dong! Kalo dimasakin sama orang yang kita sayang, rasanya akan lebih spesial saat kita makan." Jelas Melani, sungguh perasaannya sangat senang bila ayahnya memasakan makanan untuk dirinya. Apalagi bila hidangan yang disajikan adalah makanan favorite nya.


Adam mulai memakai kembali helm miliknya, bersiap untuk berkendara. Setelah Adam sudah benar mendusuki sepeda motor, Melani membututi pemuda itu duduk di jok penumpang.


"Kamu belum pernah di masakin ibu kamu?" Tanya Melani, mencairkan suasana saat di jalanan. "Engga, nyokap gue orang sibuk." Jawab Adam. Ia tetap konsentrasi melihat ke arah jalanan.


Melani mengangguk, ia tidak ingin menanyai permasalahan keluarga Adam terlalu dalam. Udara sore itu terasa menyejukkan, hingga pikiran Melani terasa melayang.


"Udah sampe." Kata Adam. Melani turut menuruni sepeda motor. Lalu berjalan masuk terlebih dahulu, di susul Adam setelah berhasil memarkirkan sepeda motornya.


"Bisa bang." Ucap Adam, setelah melewati pria dewasa tersebut, yang tidak lain pemilik warnet. Melani pun berjalan menuju komputer nomor 45. Membagi ilmunya kepada Adam.


•••


"Ada apa lo tiba tiba ke sekolah gue?" Tanya Adam, ketika melihat gadis itu berdiri di depan pos satpam.


Melani tersenyum, menjulurkan sebuah kresek pada pemuda tersebut. Adam pun tak menolaknya, pemuda itu membuka isi kresek. Penasaran apa yang di berikan gadis itu kepadanya.


"Itu bekal untuk kamu makan pas siang. Aku sengaja ngebungkusnya pake kertas nasi, biar kamu bisa langsung buang." Ujar Melani. "Semoga kamu suka," Sambungnya.

__ADS_1


Pemuda itu hanya mengangguk angguk, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Melani. Hingga membuaatnya memberikan sebuah bekal.


•••


__ADS_2