
Melani melangkahkan sepasang kakinya cepat menuju sisi lapangan basket. Nafasnya terengah engah, kedua bola matanya menelaah ke segala arah, mencari seorang pemuda.
Ia berusaha menemui pemuda itu kembali. Setelah adanya sebuah surat yang terselip di bawah kolong meja. Menyuruhnya untuk bertemu dengan pemuda itu di sisi lapangan basket milik sekolahnya pada jam 12 siang.
Sebuah suara berteriak memanggil namanya, sontak ia memutar lehernya. Mencari asal dari suara tersebut.
Sebuah tangan terlambai di udara, membuat Melani mengetahui keberadaan sang pemuda itu. Dengan senyuman yang cerah, Raffa menghampiri melani. Langkahnya yang besar mempercepatkan keberadaannya di samping sang gadis itu.
Melani memaksakan senyumnya ketika sang pemuda berhasil berdiri di sampingnya. Aroma keringat pemuda itu berterbangan di organ penciumannya.
"Kamu ada apa mau ketemu sama aku di sini?" tanya Melani, dahinya terlihat berkerut memperhatikkan snag pemuda yang nafasnya masih terengah engah.
Pemuda itu tersenyum, menatap sang gadis dengan lembut. Kini nafasnya kembali stabil, ia pun mengusap keringat yang mendarat di dahinya.
"Melani." panggil Raffa, menatap sang gadis yang ada di hadapannya dengan serius.
Hiruk pikuk lingkungan sekolah kini tidak menganggu mereka. Gadis itu menatap sang pemuda dengan tatapan bingung.
"Sebenernya gue itu suka sama lo. Senyum lo yang ada di wajah lo itu terngiang ngiang di pikiran gue Mel. Gue ga bisa ngelewatin seseorang semanis lo. Gue suka sama lo." ungkap pemuda itu menatap ke arah Melani. Tatapan itu seolah olah meyakinkan sang gadis bahwa ia benar benar serius dengan ungkapannya.
__ADS_1
Tubuh sang gadis mematung, mulutnya tiba tiba membisu. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hatinya bahkan tidak tersentuh sama sekali dengan ungkapan cinta dari sang pemuda itu.
Hingga akhirnya Melani menggembangkan senyumnya. Berusaha mengakhiri kecanggungan di antara mereka berdua. Ia kemudian menghela nafasnya.
"Maaf Raffa, aku ga ada rasa suka sama kamu." Timpal Melani, membuat hati sang pemuda pecah bagaikan serpihan kaca.
Langit di siang itu sedikit mendung, seolah sang semesta mengetahui perasaannya tidak di terima sang gadis pujaan.
Raffa berusaha kembali menatap kedua mata sang gadis. "Kenapa? Apa karena si sialan Adam itu?" teriak sang pemuda kepadanya.
Melani membelalakan kedua matanya, dahinya kembali berkerut. Bagaimana bisa dia mengenali Adam? Ia meneguk salivanya.
Sang pemuda terlihat menggertakkan giginya. "Jangan pura pura sok polos deh. Lo suka kan sama si Adam?" tatapan matanya semakin tajam, menusuk ke dalam jiwa sang gadis.
Melani menghelakan nafasnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Engga, kamu apa apaan si Raffa?" tutur Melani. Ia sedikit bingung mengenai perasaannya kepada Adam.
Sang pemuda itu telah membuatnya kebingungan dengan ketidakhadirannya. Membuat sang gadis semakin mempertanyakan keadaan hatinya yang bergejolak. Selama ini Melani merasakan, keresahan di hatinya saat pemuda itu tidak muncul di hidupnya kembali.
"Lo kenapa malah suka sama dia sih Mel? Lo ga liat apa gue udah berjuang buat dapetin hati lo." terang Raffa, semakin membuat gadis itu bingung.
__ADS_1
Akhir akhir ini ia memang menerima beberapa barang dari Raffa. Pemuda itu pun sempat mengajaknya pergi melihat terbenamnya sang mentari. Namun, Melani sadar, ia hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Tidak lebih.
Hatinya tetap berada di genggaman pemuda menyebalkan itu. Hanya tawa dan candaan pemuda itulah yang dapat menghipnotis pikirannya. Hanya wangi pakaian si pemuda menyebalkan itu yang selalu ia ingat. Bahkan ia masih mengingat bagaimana ekspresi Adam saat terakhir bertemu.
"Maaf Raffa, aku ga bisa memaksakan perasaanku buat suka sama kamu. Sepertinya omonganmu benar, aku menyukai Adam." jelas Melani.
Raffa mulai mencengkram telapak tangannya menjadi sebauh genggaman. Urat urat di kening sang pemuda mulai terlihat. Wajahnya merah padam, nafasnya tersengal sengal.
"Tapi bukan gara gara itu aku tidak menerima perasaan kamu. Maaf, aku emang ga ada rasa sama sekali sama kamu. Aku memang tidak tertarik memiliki hubungan lebih dari teman dengan kamu." tambah Melani membuat perasaan sang pemuda semakin hancur.
Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Tatapannya yang lembut kini berubah menjadi tajam. Tangannya kini mengepal, urat saraf yang ada di lehernya pun menampakkan diri.
"Dasar cewe sialan." umpat pemuda itu. Lalu melangkahkan dirinya tanpa sepatah kata apapun meninggalkan sang gadis berdiri menatap kepergian dirinya.
Sang gadis menghelakan nafasnya. Pikirannya kacau setelah mendengar pernyataan cinta. Ia melangkah menduduki sebuah kursi di sisi lapangan. Mencoba menenangkan dirinya setelah kejadian tadi.
Angin menghembuskan helaian rambut Melani. Hari ini, ia telah menyadari dan telah jujur terhadap perasaannya sendiri.
•••
__ADS_1