Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
GMC


__ADS_3

Darah segar sedikit mengalir di ujung bibir pemuda itu ketika mendapatkan sebuah hantaman tinju di mukanya. Raffa masih tetap berusaha tersenyum miring menanggapi satu tinjuan dari sang pemuda yang sedang dikendalikan amarahnya.


Seluruh anggota GMC bergegas memutari sang ketua yang sudah terduduk di hadapan Adam yang masih memegang kerah bajunya.


Salah satu anggota berbadan besar pun kembali angkat suara. "Lepasin dia bajing*n, berani berani nya lo nyerang ketua gue di markas!" teriak si berbadan besar membawa sebuah pentungan di tangan kanannya.


Mendengar teriakan itu Adam berbalik ke arah suara. Ia menampilkan seringainya, menatap pemuda berbadan besar itu. Namun, belum sempat ia mendaratkan tinjunya di perut si pemuda. Tangannya telah di tarik seseorang dari belakangnya, mendekatkan tubuh Adam yang agak berotot itu untuk mundur.


"Tahan Dam, lo jangan hajar mereka di sini." bisik Anggi di sebelah telinga pemuda itu. Adam hanya terkekeh mendengar ucapan temannya, lalu membenarkan posisi berdirinya. Ia menatap seluruh anggota GMC dengan tatapan tajam.


Seluruh raga dan jiwa Adam tidak menerima sang gadis di cap seperti itu oleh seorang pemuda yang tidak mengetahui sifat Melani lebih dalam.

__ADS_1


"Lo Raffa kalo aja gue denger mulut busuk lo seenaknya ngomong apapun tentang cewe gue, gue robek mulut lo!" teriaknya sembari menujuk Raffa yang kini sedang di bantu untuk berdiri.


Adam pun melangkah keluar dari bangunan usang itu dengan amarah yang masih ada di hatinya. Dengan 5 anggota Gelit yang berjalan mengikuti nya dari belakang. Ia menaiki sepede motor sport miliknya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Sepanjang jalan menuju pulang perasaannya masih kacau, ia memajukkan sepeda motornya dengan kecepatan maksimal. Membuatnya hampir saja menabrak sebuah truk yang ada di hadapannya.


•••


"Neng Melan suka sama bingkisan dari den. Kayanya den Adam, sekarang udah bisa kembali menyapa neng Melan." Senyum seorang pemuda melebar ketika mendengar pernyataan itu. Namun senyumnya kembali menghilang ketika menyadari sebuah kenyataan bahwa sang ayahnya lah yang melarang gadis itu untuk kembali bertemu dengannya.


Dedeh menatap pemuda itu dengan lembut. "Tenang aja den, nanti kalo jodoh pasti ada aja jalannya." sahut Dedeh tersenyum.

__ADS_1


"Ibu mau ke dapur dulu ya, mau bersihin cangkir bekas kopi." ucap Dedeh beranjak dari tempat duduk nya lalu melangkahkan kakinya ke dapur.


Memang setiap pagi ia selalu merasa sedikit kerepotan dengan pekerjaannya sebagai pemilik warkop karena sang pelayan kesayangannya, Melani tidak bisa hadir. Mengingat gadis itu masih menjadi seorang siswi sekolah menengah kejuruan.


Adam pagi itu pergi bolos ke warkop untuk berbicara dengan bu Dedeh. Hanya untuk melihat reaksi sang gadis pujaan hatinya ketika di berika sebuah bingkisan darinya.


Sebenarnya bingkisan itu adalah ungkapan rasa rindunya kepada Melani, agar sang gadis menyadari bahwa dirinya pun merindukan keberadaan gadis itu yang menurutnya manis.


Perasaannya cukup lega mendengar reaksi gadis itu melalui sang pemilik warkop. Mungkin sore ini ia akan kembali menemui Melani untuk menyapanya. Ia tak sabar menantikan momen itu. Hatinya berdebar membayangkan sang gadis tersenyum di hadapannya.


Lamunannya terhenti ketika ponsel yang ada di saku celana SMKnya bergetar. Segera Adam mengeluarkan ponselnya itu, mengangkat telepon yang menganggu lamunannya. Ia menempelkan ponsel pada telinga kanannya, kedua matanya melotot ketika mendengar seorang pemuda yang bergetar di balik ponsel.

__ADS_1


"Dam, si Kevin." potong pemuda itu berteriak di balik ponsel. "Kevin babak belur si keroyok GMC!" sambung Anggi gigi pemuda itu bergemetar.


•••


__ADS_2