Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Si Pemilik Warkop


__ADS_3

"Apa sih ayah?" Ujar Melani memegang telapak tangan ayah nya yang hendak pergi kembali untuk berjualan.


"Ayah kan masih dalam proses pemulihan. Melani ga mau ayah pergi berangkat untuk jualan!" Teriak Melani pada ayahnya.


Sungguh, Melani tidak ingin ayahnya berjualan dalam kondisi yang memprihatinkan seperti ini. Berjalan saja ia sudah terlihat sangat kesakitan karena betisnya yang luka. Dan sekarang? Pria itu malah ingin pergi untuk berjualan.


Pria itu tersenyum pada Melani, "Ayah harus tetap menghidupi mu," potong pria itu. Kini ia menarik nafasnya, "Lagi pula, kalau ayah tidak bekerja. Kita tidak bisa membayar kontrakan bulan ini sayang," jelas pria itu.


Setelah Melani yang mendengar ucapan ayahnya, hati nya cukup teriris. Memang, mereka sudah biasa hidup dengan segala hal yang pas pas-an.


"Melani akan mencari pekerjaan paruh waktu sore ini. Ayah tidak usah pergi untuk berjualan, selagi belum pulih."Ujar Melani.


Pria itu diam, ia seperti tidak percaya dengan kalimat yang sudah putrinya ucapkan. Pria itu kembali tersenyum setelah menyadari keberanian putrinya yang tinggi.


"Ayah tidak ingin Melani untuk pergi kerja paruh waktu. Ayah ingin Melani untuk tetap tinggal di rumah saja." Timpal pria itu. Ia sungguh tidak ingin putrinya berangkat bekerja paruh waktu, sedangkan ia hanya bersantai saja si rumah.


Melani kini menatap pria itu, "Ayah, lagi pula Melani sekarang sudah besar. Melani ingin mencoba hal yang baru." ucap Melani berusaha meyakinkan ayahnya. Melani sungguh tidak tega membiarkan ayahnya berusah payah sendiri.


Pria itu menghembuskan nafasnya, "Baiklah kali ini ayah memperbolehkan kamu untuk bekerja paruh waktu," Sahut pria itu, ia tidak ingin berargumen dengan putrinya akibat masalah ini. Ia juga berusaha memahami keinginan Melani untuk membantunya dalam mencari sesuap nasi.


Melani tersenyum lebar, "Terimakasih ayah!" teriak Melani kegirangan, berusaha meloncat untuk memeluk ayahnya yang cukup tinggi.


Yusuf hanya tersenyum dan membalas pelukan putrinya. Setelah puas saling berpelukan, Melani menyuruh ayahnya untuk segera merebahkan diri di ruang tengah.


"Ayah mau makan?" Tanya gadis itu setelah membantu sang ayah untuk merebahkan dirinya. Yusuf mengangguk setelah di tanyai oleh putrinya. Sungguh cacing cacing yang ada di perutnya sekarang sudah berontak meminta masukan makanan.


Melani berlari menuju dapur, mewadahi semangkok bubur ayahnya yang harusnya untuk dijual. Tidak lupa, dengan secangkir air putih dan obat dari puskesmas ikut ia taruh di atas nampan.

__ADS_1


Melani berjalan perlahan saat membawa nampan, ia tidak ingin bubur untuk ayahnya itu jatuh dengan mengenaskan. Melani menaruh nampan itu di atas lantai, bersebelahan dengan kasur tempat ayahnya berbaring.


"Ayah mau Melani suapin?" Tawar Melani, menyerahkan semangkok bubur pada sang ayah.


Yusuf hanya terkekeh mendapatkan perhatian dari putrinya. "Tidak usah Melani," Tolak Yusuf, ia segera menerima semangkok bubur tersebut.


"Baiklah kalo begitu, Melani sekarang izin mau pergi dulu ya yah?" Tanya Melani, masih fokus menatap ayahnya yang sedang melahap semangkok bubur.


Kedua alis Yusuf berkerut menyatu, "Kamu mau pergi kemana?" Tanya Yusuf balik. Melani tersenyum, "Melani mau mencari pekerjaan paruh waktu sekarang," Potong Melani.


"Sebelum sore, sekarang masih jam 2." Sambung Melani, melirik kearah jam dinding berada.


Yusuf menghembuskan nafas, "Baiklah, kamu hati hati ya. Jangan lupa bawa payung lipat, siapa tahu hujan nanti." Melani mengangguk mendengar permintaan ayahnya. Dan segera pergi mencari payung lipat miliknya untuk di bawa.


Melani melangkah menyalami ayahnya, "Melani pergi dulu ya yah."


Yusuf mengangguk, "Iya, hati hati." timpal Yusuf memperingati.


Melani kembali menutup pintu pagar, berjalan menuju gang depan. Berniat berkeliling daerah sisi jalanan. Dan menanyakan lowongan pekerjaan pada kedai ataupun kios pinggir jalan.


Tidak jauh dari gang depan nya, Melani berniat bertanya pada sekumpulan bapak bapak ojek. Melani tersenyum saat menghampiri sekumpulan pria paruh baya tersebut. "Permisi pak," ujar Melani menghampiri salah satu ojek disana.


Pria tersebut membalas senyum Melani, "Iya neng, mau naik ojek?" Tanya pria itu memastikan.


Melani menggelengkan kepala, "Saya mau bertanya pak," jelas Melani.


Kedua alis pria tersebut pun mengerut, "Iya neng, mau nanya apa?" balas pria tersebut ramah

__ADS_1


"Apakah bapak tau ada lowongan pekerjaan di sekitar wilayah sini?" Tanya Melani, ia tau bapak bapak pangkalan ojek lebih tau gosip gosip di kampungnya dari pada Melani sendiri. Jadi ia lebih percaya menayakan hal ini kepada mereka.


Pria tersebut terkekeh, "Maaf neng saya mah tidak tah-"


"Nanyain lowongan pekerjaan neng?" Potong pria lain, menghampiri Melani. "Iya pak," Ujar Melani mengangguk.


"Neng tahu kan warkop yang ada di sisi jalan sebelah timur gang ini?" Tanya pria itu memastikan. "Iya pak, saya tahu."


"Nah, mereka lagi butuh pelayan baru neng. Neng bisa coba tanya ke sana langsung kalo mau." Saran pria itu.


"Terimakasih pak informasinya, kalau boleh, apakah bapak mau mengantar saya ke sana? Saya akan beri bapak upah." Ujar Melani. Karena ia tahu keberadaan warkop itu sedikit jauh dari tempatnya kini. Ia berusaha untuk menyewa jasa ojek itu sekaligus.


Pria itu kegirangan, "Boleh neng, boleh." Teriak pria itu. Kedua bola matanya terlihat berbinar. Melihat tingkah pria paruh baya itu sangat bersemangat. Melani hanya bisa tersenyum lembut.


Setelah sedikit berkendara, "Terimakasih ya pak." ujar Melani, sembari memberikan sejumlah uang. Pria tersebut mengangguk, "Semoga sukses ya neng." Sahut pria itu, kemudian membelokkan kendaraan motor beroda duanya.


Melani melangkahkan kaki nya masuk ke warkop tersebut. Terlihatlah pemandangan beberapa meja dan kursi tertata rapi. Dan seorang wanita paruh baya yang sedang mengaduk beberapa cangkir kopi di sebuah etalase yang memanjang.


Dengan langkah yang sedikit gugup, Melani segera menghampiri wanita tersebut. "Permisi bu," ucap Melani sembari menyunggingkan sebuah senyuman.


Wanita tersebut pun ikut tersenyum, namun tetap berfokus pada pekerjaannya. "Iya neng, silahkan duduk." Ujar wanita itu menunjukkan sebuah kursi yang tidak jauh dari sana.


"Ah maaf bu tidak, saya mau bertanya." sahut Melani, wanita tersebut kemudian menghentikan pekerjaannya.


"Iya?" Jawab wanita tersebut. Menatap tajam kedua bola mata Melani. Yang sedikit membuatnya gugup dan salah tingkah. Karena tatapan wanita tersebut juga lah, Melani sedikit mengeluarkan keringat di bawa tengkuk.


Dengan sedikit menghelakan nafas terlebih dahulu, Melani mulai bersuara. "Saya dengar warkop ini memerlukan sebuah karyawan ya bu?" tanya Melani dengan sedikit senyuman tegang di wajahnya.

__ADS_1


"Emm," Wanita itu pun bergumam. "Iya neng! Warkop ini membutuhkan karyawan. Eneng mau daftar?" Teriak wanita tersebut. Sepertinya ia sedang kegirangan.


***


__ADS_2