
Tangannya langsung ia kibas ketika mengenai setetes air panas. Melani sedikit meringis kesakitan. "Lagian jangan ngelamun aja neng kalo kerja." Peringat Dedeh, sang pemilik warkop.
Melani hanya bisa tersenyum seperti kuda. Hari ini pikirannya selalu susah untuk fokus sejak tadi pagi. Sejak tadi pagi pula, Adam. Si pemuda menyebalkan itu tidak muncul di depan matanya.
Pikirannya selalu saja tertuju pada pemuda tersebut. Mungkin karena ia telah berjanji pada Adam untuk membawakan bekal pemuda itu. Namun, ia tidak membawakannya tadi pagi. Karena larangan dari sang ayah tercinta untuk menjauhi Adam.
Ia pun membuang nafasnya kasar. Dan mengaduk kopi dengan sesuai firasatnya. Lalu menaruh secangkir kopi tersebut ke dalam sebuah nampan. Membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi itu kepada para pelanggan.
"Silahkan di nikmati pak." Sapa Melani, senyumnya begitu manis.
Ia berharap agar si pemuda tersebut datang ke warkop malam ini. Agar ia bisa menyampaikan alasannya mengapa ia tidak bisa membawakan bekal kapadanya setiap hari.
Dan agar, pemuda itu tahu bahwa ia dan dirinya tidak bisa lagi bertemu karena larangan dari ayahnya.
Semoga saja pemuda itu mengerti akan kondisinya. Melani juga berniat untuk menggembalikan sejumlah uang dari pemuda itu. Uang yang seharusnya jadi uang modal bekal Adam.
Ah iya, dengan jaket hoodie milik pemuda tersebut yang sudah Melani cuci. Dan akan ia kembalikan kembali kepada Adam.
Melani baru menyadari, ternyata banyak sekali urusan dirinya dengan pria itu untuk di selesaikan. Ia tidak sabar untuk menyelesaikan semua itu secepat mungkin. Dan tidak memulai lagi percakapan dengan pemuda itu.
__ADS_1
Melani berjalan menuju pojok warkop untuk mengambil sebuah sapu. Ia mulai membersihkan warkop. Dari teras hingga dapur warkop. Ini adalah pekerjaan setiap hari Melani. Jika tidak membuat secangkir kopi, ia akan pergi untuk membersihkan area warkop. Ataupun mencuci cangkir bekas kopi pesanan pelanggan. Kadang juga ia mengeluarkan sampah dari dapur menuju tong sampah yang ada di teras.
Suara motor kembali terdengar kali ini. Ia menyiapkan dirinya untuk menyerahkan sebuah menu ke pelanggan yang baru tiba. Melani sedikit berlari menghampiri pria muda itu.
"Silahkan a, mau pesan apa?" Ujar Melani tersenyum hangat sambil menyodorkan daftar menu. Senyum gadis itu pun memudar ketika pria muda tersebut melepaskan helm full face miliknya.
"Biasa Mel." Jawab Adam sambil menaikan sebelah alisnya jahil. Gadis itu melangkah cepat menuju dapur. Ia harus menyelesaikan pesanan pemuda itu. Dan menyelesaikan persoalannya dengan Adam.
Setelah menyimpan secangkir kopi pesanan pemuda tersebut ke atas nampan. Melani melangkah cepat, menghidangkan secangkir kopi yang telah ia buat.
"Dam, aku mau ngomong." Ucap Melani membuka arah pembicaraan mereka berdua, setelah menaruh secangkir kopi itu ke atas meja.
Dengan cepat gadis itu mengeluarkan sejumlah uang seratus ribuan dan selembar lima puluh ribu ke atas meja depan Adam. Pemuda itu menatap Melani, seolah mempertanyakan maksud dari tindakan gadis itu.
"Aku mengulang lagi janjiku. Aku ga bisa membawa bekal setiap hari buat kamu." Adam mengangguk anggukkan kepalanya, seolah mengerti.
Melani kini mencoba menghelakan nafasnya kembali. "Oh iya, aku juga mau balikin jaket hoodie kamu yang kemarin malam aku pinjam. Nanti kamu ke rumah aku aja ya bu-."
"Iya aku emang mau ke rumah kamu malam ini." Potong pemuda tersebut, lalu menyeruput kopi pesanannya. Kening Melani berkerut, seolah mempertanyakan maksud dari ucapan pemuda itu.
__ADS_1
Adam hanya terkekeh tidak menjelaskan hal itu secara gamblang. "Ngapain?" Pemuda tersebut kembali tertawa kecil, ia sangat menyukai ekspresi ketika gadis itu sedang bingung.
Melani memutar kedua matanya malas, pemuda itu tidak merespon pertanyaannya. "Nanti lo pulangnya bareng gue aja ya, soalnya kan gue juga mau ke rumah lo."
"Ga. Ngapain kamu ke rumah aku malam malam? Kamu mau aku di omongin sama tetangga aku?" Adam hanya tersenyum menyeringai, dan menggedikkan bahunya.
Pemuda tersebut kembali menampakkan senyum dari bibir tipisnya, "Aku mau tanggung jawab ke bapak kamu." Ujar Adam kembali menyeruput kopi miliknya.
"Bapak aku hamil?" Pemuda itu hampir menyemburkan kopi yang sudah ada di mulutnya. Dan untungnya, semburan itu bisa ia tahan. Sungguh pemuda tersebut ingin tertawa karena ucapan gadis itu.
Sungguh konyol. "Emang ada bapak bapak hamil?" Tanya Adam ketika seluruh kopi yang ada di mulutnya sudah tertelan. Ia sungguh tidak mengira Melani adalah gadis yang konyol.
Melani hanya tersenyum malu, ia sungguh menyesali ucapan yang ia keluarkan tadi.
"Trus?" Tanya Melani, ia sungguh penasaran tujuan pemuda tersebut berkunjung ke rumahnya.
"Aku yang nabrak bapak kamu, seminggu yang lalu." Sahut Adam, ucapannya berhasil membuat mata gadis itu melotot.
•••
__ADS_1