Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Bingkisan


__ADS_3

Sang awan mulai meneteskan air matanya. Katak bersorak ria menikmati setiap tetesannya. Hembusan angin menerbangkan dedaunan. Orang orang berlarian untuk meneduh. Langit menggelap, sang mentari pun terbenam.


Memancarkan sang rambulan di tengah tengah luasnya langit malam. Warkop terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang ikut berteduh. Melani terdiam memandang ke arah jalanan. Melihat sunyinya malam, dengan tetesan hujan yang tetap awet menghiasi malam.


Suhu udara menusuk kulitnya. Malam itu, kota yang Melani tempati sedari ia bayi. Begitu terasa tentram, jauh dari kebisingan kendaraan dan panasnya suhu kota. Cahaya toko dan lampu jalan melengkapi indahnya pemandangan kota.


Dedeh berjalan mendekati keberadaan sang gadis yang hanya diam tak bergeming di pintu masuk warkop. Ia menepuk bahu gadis itu pelan, menyadarkan Melani dari lamunannya.


"Neng Melan, tolong pel teras warkop ya." perintah Dedeh, menyerahkan seember air pel dan sebuah pel-an di tangannya. Ia pun menerima itu.


Lalu mulai membersihkan lantai teras warkop yang kotor karena air hujan. "Neng, kenapa ya sekarang den Adam udah ga ke mampir ke warkop lagi?" tanya Dedeh, sembari memperhatikan setubuh mungil gadis itu sedang mengepel lantai warkopnya.


Melani hanya terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Ga tau atuh bu, aku juga udah lama ga ketemu sama Adam." jawab Melani, masih fokus dengan kegiatannya.


"Neng Melan ga marahan kan sama den Adam?" timpal Dedeh, pertanyaan itu membuat dirinya bungkam dan memberhentikkan kegiatannya.


Melani menggelengkan kepalanya setelah melihat ke arah sang pemilik warkop. "Engga bu, aku sama Adam baik baik aja kok." ucap Melani, lalu melanjutkan aktivitasnya.


Dedeh hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban karyawannya. Ia pergi melangkah ke arah meja kasir.

__ADS_1


Setelah lantai teras warkop terlihat benar benar bersih, Melani melangkahkan dirinya kembali ke dalam warkop. Meletakkan alat pel di pojok kamar mandi warkop, dengan keadaan tergantung.


Seusai berjalan keluar kamar mandi warkop, Dedeh menghampiri sang gadis sembari menjinjing sebuah bingkisan paperbag berwarna putih. Dedeh menyerahkan paperbag itu kepada sang gadis.


Menyadari dirinya di berikan sebuah paperbag, Melani memandang Dedeh dengan bingung. Pemilik warkop itu tersenyum lembut ke arahnya.


"Ini ada bingkisan dari Adam untuk neng Melan. Katanya bingkisan ini spesial buat neng Melan. Den Adam juga berharap neng Melani suka sama bingkisannya." jelas Dedeh, ia menyelipkan poni Melani ke sisi telinganya.


Mendengar peenyataan itu Melani langsung memeluk sang pemilik warkop. Matanya berbinar binar, dan pipinya memerah. Bibirnya yang merah tidak bisa berhenti tersenyum.


"Makasi ya bu." ucap Melani, Dedeh hanya mengelus elus punggung gadis itu ketika ia dalam pelukannya.


Dedeh kembali tersenyum. "Ngomongnya ke den Adam atuh jangan ke ibu." ungkapnya menggoda sang gadis.


•••


Pemuda itu melangkah masuk ke dalam markas. "Mana ketua lo bangs*t?" teriak Anggi, seluruh otot wajahnya menegang. Kedua tangannya pun mengepal.


Seluruh penghuni markas yang tadinya hanya menatap tajam pemuda itu pun kini bangkit menghampiri. Tatapan mereka seperti ingin menyerang sang pemuda botak.

__ADS_1


Salah satu anggota geng GMC pun mengernyitkan dahinya menatap Anggi dengan tatapan merendahkan. "Maksud lo apa? Datang datang ke sini ngegas gitu j*ng?" tanya pemuda berbadan besar itu menatap nyalang Anggi.


Anggi hanya tersenyum miring mendapati pertanyaan sang pemuda berbadan besar. "Ketua geng sialan lo noh, deketin cewe ketua gue. Maksudnya apa apaan? Ketua lo mau ngajak Gelit war?" teriak Anggi, menunjuk kearah pemuda berbadan besar itu.


"Heh anj*ng kalo ngomong itu di jaga ya b*ngsat, berani berani nya lo sendirian terus ngomong ga sopan di markas orang." peringat pemuda berbadan gempal itu mulai mengangkat tubuh kecil Anggi dengan sebelah tangannya. Anggi yang di angkat pun hanya bisa menggenggam tangan besar pemuda itu.


Hingga sebuah suara langkah kaki, memasuki markas itu. Memperlihatkan seorang pemuda dengan empat kawanan di belakangnya. Pemuda itu menatap tajam si pemuda berbadan besar.


"Dia ga sendiri. Bye the way lepasin si Anggi." perintah Adam, sontak si pemuda berbadan gempal pun melepaskan genggaman tangan pada kerah baju seragam Anggi.


Pemuda berbadan gempal itu terkekeh setelah melihat sosok Adam. Lebih tepatnya tertawa merendahkan. Seluruh orang yang berada di markas itu pun beranjak dari posisinya ketika melihat Adam mulai memasuki masrkas GMC.


"Gue di sini ga mau banyak basa basi, gue minta kalian semua buat ngomong sama ketua kalian. Si Raffansyah buat jauhin gebetan gue. Kalo ketua kalian masih aja deketin gebetan gue. Nasib geng ini bakalan berakhir di tangan gue." peringat Adam, tatapannya mengatakan bahwa ucapannya adalah ucapan yang serius dan tidak bisa di acuhkan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Adam menjulurkan tangannya membantu Anggi untuk bangkit dari tempatnya. Mereka mulai melangkahkan kakinya dari gedung tua itu. Mengakhiri urusannya dengan geng GMC.


Namun, langkah mereka berhenti ketika mendengar suara sang ketua GMC berteriak ke arah mereka.


"Ambil aja si Melani, lagian selera lo rendah banget. Suka sama cewe murahan." celetuk Raffa, berdiri tegap memperlihatkan dadanya yang bidang tanpa mengenakan sehelai kaos.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Adam terkekeh lembut. Lalu membalikkan badannya, "Berani lo ngenilai cewe gue kaya gitu?" tanyanya penuh penekanan. Matanya merah nyalang, memandang pemuda itu dari atas ke bawah.


•••


__ADS_2