Melani And Her Boy

Melani And Her Boy
Ternyata Dia


__ADS_3

"Adam aku turun di pangkalan ojek aja." Titah Melani, ia tidak mau Adam mengantarnya sampai dalam gang. Tetpi, tetap saja pemuda itu mengeyel dan memasukan motor sport Hondinya ke dalam gang.


Melani hanya bisa berdecak. Ia kehabisan energi untuk mengomeli pemuda tersebut. "Rumah kamu yang mana?" Tanya Adam, memutar kepalanya kenan dan kiri melihat ke sekeliling gang.


"Itu di depan. Cat light white." Jawab Melani, pemuda itu tampak kebingungan. Sepertinya ia tidak tahu ap itu warna light white. "Itu di kanan, yang ada gerobak di halamannya."


Adam memberhentikkan motornya tepat di depan rumah yang terlihat gerobak di depannya. Melani turun perlahan dari motor. Kemudian melepaskan jaket hoodie milik Adam. "Ini jaket kamu, makasi ya." Ujarnya menyerahkan jaket hoodie Adam.


"Buat kamu aja, ngomong ngomong besok kirimin gue bekal lagi." Ucap Adam, menyerahkan uang 100 ribuan yang ia bawa dari saku celana nya.


"Uangnya?" Tanya Melani, ia tidak tahu mengapa pemuda itu memberikan sejumlah uang padanya.


"Buat kamu beli bahan bahan makanan bekal gue. 100 ribu seminggu cukup?" Melani mengerutkan kedua alisnya, memikirkan total harga bahan makanan selama seminggu. "150 ribu Dam, tapi gapapa kok ga kamu bayar ju-."


"Nih," Ujar Adam, menambahkan uang 100 ribuan pada genggamannya. "Iya deh, makasih ya."


"Kenapa lo tadi inisiatif ngirimin gue bekal?" Tanya Adam, ia sangat penasaran dengan niat perbuatan gadis di depannya itu.


Melani hanya tersenyum kecil, "Kamu ngebuat aku inget diri aku pas umur 7 tahun, dulu aku belum pernah sama sekali di beri sebuah bekal oleh ayah. Tapi ya, semua temen temen aku dulu pada bawa bekal ke sekolahnya."


"Diri aku yang kecil ngerasa iri sama temen temen aku gara gara itu, jadi aku terus ngomelin ayah aku pas dia baru pulang kerja." Sambung Melani.


"Dan akhirnya ayah aku bawain aku bekel deh buat ke sekolah, walaupun pas itu ayah aku lagi sibuk banget buat keliling jualan bubur."


"Oh ayah kamu jualan bubur?" Ucap Adam, ini adalah informasi baru latar belakang gadis itu. Melani tersenyum mengangguk, kemudian ia menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ah, tapi akhir akhir ini ayah aku ga bisa jualan. Gara gara di tabrak 1 minggu yang lalu. Ayah aku jadi cedera, mana si penabrak ga tanggung jawab lagi." Kata Melani, dengan nada kesalnya. Urat urat yang ada di kepalanya keluar.


Adam menelan salivanya, mengingat perbuatan dirinya seminggu yang lalu. Di komplek ia tinggal. "Kalo aja itu orang ada di hadapan aku, bakalan aku tendang ke bulan." Melani menatap tajam Adam, ia melampiaskan kekesalannya tersebut pada pemuda itu.


Kini otak Adam bekerja. Mengumpulkan beberapa keganjalan yang memungkinkan dari cerita gadis itu. Hingga perbuatannya seminggu yang lalu menabrak seorang tukang bubur yang sedang berjualan.


"Bentar, seorang tukang bubur? Bukannya bokap si Melani juga tukang bubur?" Batin Adam, kini membulatkan kedua bola matanya.


"Kagak kagak, ini cuma kebetulan aja. Ga mungkin gue nabrak ayah si Melani. Bisa bisa kalo gue ketahuan deketin anaknya, gue udah ga lolos sejak awal dong?" Pikir Adam, kini wajahnya yang berkulit putih berubah pucat.


Melani menggeplak bahu Adam dengan kuat. "Aku mau masuk dulu ya, udah malem nih." Adam mengangguk mengerti.


Gadis itu menatap kedua bola mata Adam yang tidak terhalang oleh kaca helm full face. "Hati hati." Pekik gadis itu dengan wajahnya yang memerah. Langsung berlari memasuki pagar rumah.


"Dasar," Batin Adam melihat tingkah laku Melani, yang terlihat menggemaskan di mata pemuda itu di setiap harinya.


Yusuf mengerutkan keningnya, menyilangkan tangan di dada. "Jangan dekat dekat lagi dengan pemuda yang mengantarmu tadi." Perintah Yusuf pada anak gadis kesayangannya itu. Melani membulatkan kedua bola matanya, menelan saliva yang tersisa pada kerongkongannya.


"Tapi kenapa ayah?" Yusuf berdecak sebal mendengar pertanyaan putrinya. "Dia yang menabrak ayah hingga keadaan ayah seperti ini." Jelas Yusuf, melihat ke arah betisnya yang masih terluka.


•••


Yusuf membukakan pintu rumah, ia pergi untuk menyapu seluruh penjuru rumah. Sedangkan Melani, sedang membersihkan dirinya sebelum berangkat sekolah.


Pagi ini terasa cerah, luka di betis Yusuf pun sudah kering. Sejak 3 hari terakhir, ia sudah bisa berjalan secara normal. Namun, dirinya masih saja dilarang oleh putrinya, untuk berangkat berjualan.

__ADS_1


Hari ini, Yusuf berniat untuk kembali berjualan setelah membuat sepanci besar bubur pada saat waktu subuh tadi. Yusuf menyelendangkan sebuah kain, untuk mengelap keringatnya. Juga memakai sebuah topi bucket berwarnakan coklat. Topi itu ia punya sejak 5 tahun yang lalu.


Pintu kamar mandi terdengar terbuka, "Ayah mau pergi berjualan?" Tanya putrinya, sudah memakai pakaian batik sekolahnya lengkap. Yusuf hanya menoleh kearah putrinya itu.


Ia tersenyum lembut, "Iya Mel, ayah mau pergi berjualan. Makasih ya udah ngerawat ayah seminggu ini." Ucap Yusuf, mengeluarkan gerobaknya dari teras rumah.


"Ayah!" Teriak Melani, memeluk pria itu. Kedua mata Melani melembab, "Kamu kenapa?" Tanya Yusuf mengusap pucuk kepala putri kesayangannya.


"Ayah, Melani benar benar minta maaf." Ucap gadis itu, mendongakkan kepalanya, menatap Yusuf. "Melani benar benar tidak tahu, yang menabrak ayah adalah Adam."


Mendengar nama pemuda itu, Yusuf mendatarkan ekspresi mukanya. "Kamu tidak usah meminta maaf kepada ayah."


"Tapi yah." Potong Melani.


Melani melepaskan pelukannya, "Adam tidak seburuk yang ayah kira." Bela Melani.


Tingkah laku pemuda itu memang menyebalkan, namun tidak seburuk yang ayahnya kira. Adam selalu memperlakukan dirinya dengan baik, sebagai teman barunya.Melani


Yusuf menghela nafasnya, tidak menganggap ucapan Melani. "Keputusan ayah sudah bulat, ayah tidak ingin kamu, putri kesayangan ayah. Dekat dengan pemuda yang bernama Adam itu." Ujar Yusuf, kemudian mengeluarkan gerobak dari perkarangan rumah.


"Tapi yah-" Ucapan Melani terpotong.


"Ayah pergi berjualan dahulu, kamu hati hati berangkat ke sekolahnya. Assalamualaikum." Kata pria tersebut lalu pergi di hadapan gadis itu.


Melani hanya menghela nafasnya, ia sungguh tidak ingin sang ayah membenci pemuda tersebut. Adam memang melakukan hal yang tidak bertanggung jawab. Namun, ia tidak sepatutnya terlalu di benci. Apalagi pemuda tersebut, sudah memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


Dengan pikiran yang masih kacau. Melani kembali berjalan menuju kamarnya, menyisir rambutnya yang berantakan di depan cermin. Menyiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah.


•••


__ADS_2