
Keramaian kantin membuat Melani sesak. Aroma telur gulung berterbangan di udara. Membuat perutnya meronta ronta ingin melahap seluruh makanan yang ada di kantin. Namun, naasnya uang bekal yang Melani tidak sebanyak siswi SMK pada umumnya.
Sang gadis berjalan pulang menuju kelas sembari membawa seplastik cilok dan sebotol air mineral. Ia begitu lega ketika keluar dari kantin. Kini ia bisa melangkah sebesar mungkin. Tanpa adanya keramaian yang menghalangi langkah sang gadis.
Langkahnya terhenti ketika ia hampir saja menabrak tubuh seseorang. Melani tersontak kaget, memegang seplastik ciloknya dengan erat. Takut terjatuh dari genggamannya.
"Maaf a." Ucap Melani, kemudian mendongak melihat kearah pemuda yang ia tabrak. Dahinya berkerut ketika melihat sebuah wajah yang cukup familiar di matanya.
Pemuda itu melebarkan matanya, "Melani?" Pekik pemuda itu setelah melihat wajah sang gadis. Melani hanya tersenyum mendengar namanya di panggil.
"Lo sekolah di sini juga?" Tanya Raffa, pemuda itu sangat bersemangat ketika mengetahui Melani bersekolah dengan sekolah yang sama dengannya.
Sang gadis mengangguk. "Lo sekolah di sini jurusan apa?" Seru Raffa, pemuda itu selalu menatap sang gadis dengan wajah yang antusias.
__ADS_1
"MPLB, kalo kamu?" Tanya Melani balik, sang gadis pun tidak menyangka salah satu kenalannya bersekolah di sekolah yang sama bersamanya.
Pemuda itu melihat ke arah almamater Melani. Matanya menyadari warna almamater yang sang gadis gunakan. Berwarna ungu tua. Sudah hal umum bahwa di setiap jurusan memiliki warna almamater yang berbeda.
Memang SMK Cipta Bramata lah yang membuat aturan seperti itu di dalam sekolahnya. Agar para staf dan guru disana tidak kebingungan mengetahui identitas siswa.
Termasuk jurusan MPLB, jurusan yang di minati oleh banyak perempuan dan selalu mendapatkan calon siswa terbanyak di setiap tahun ajaran baru. Juga memiliki almamater dengan warna nya yang khas.
Kedua bola matanya kembali menatap wajah sang gadis. "TKRO Mel." ucap Raffa. Ia memang sangat meminati segala hal yang berbau permotoran. Hingga Raffa juga memasuki jurusan TKRO. Sebagai salah satu bentuk keseriusannya di dunia motor.
Sebuah lengan berurat menempel di bahu sang pemuda. Hingga sang pemuda pun refleks meneriakkan kata kasar. Melani hanya bisa diam tersenyum mendapati kelakuan pemuda itu.
"Bangsat, ngangetin aja lo." terang Raffa setelah memutarkan kepalanya. Mendapati salah satu orang temannya terkekeh jahil. Sang pemuda memutar kedua bola mata, sebal.
__ADS_1
Hingga temannya membisikkan sesuatu ke dalam telinganya. "Oke kalo gitu, ayo sama gue kesana." timpal Raffa, menjawab bisikan temannya itu.
Kedua mata sang pemuda pun menatap sang gadis yang sedari tadi masih memperhatikkannya. "Gue duluan ya Mel, bye." pungkas Raffa sembari tersenyum tipis ke arahnya.
•••
Melani melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Ia segera merebahkan diri ke atas ranjang lalu menghembuskan nafasnya secara kasar. Hari ini berjalan seperti biasa, melelahkan dan membosankan.
Ia membalikkan badannya, mencoba terlentang di atas ranjang. Kedua matanya melirik ke arah belakang pintu kamar, terdapat sebuah jaket hoodie yang masih tergantung.
Hati nya bergemuruh dan pikirannya kembali kacau setiap kali melihat jaket hoodie itu. Dirinya mendapati merasakan getaran di hati, untuk menemui sang pemilik jaket itu.
Hari ini pun, pikirannya masih terpenuhi oleh sang pemuda itu. Kemana sang pemuda itu pergi? Hati Melani cukul sedih menerima hal ini. Ia tidak bisa di perlakukan seperti ini lebih lama lagi.
__ADS_1
Ia harus menemukan pemuda yang menyebalkan itu.
•••