
"Lucunya cucu Oma ... " Nyonya besar tak henti memandang cucu yang sedang berada di dalam gendongannya. Tuan besar juga berada di sisi istrinya. Mereka sedang bersama cucu yang usianya baru dua minggu itu.
Bangun pagi semua anggota keluarga jadi lebih bersemangat sebab mereka bisa segera mendekati putera dari Gara dan Bening yang telah lahir itu. Sementara itu, Gara sendiri menjadi suami dan ayah paling siaga. Dia tak peduli lelah badannya sehabis pulang dari perusahaan, karena segera bersama dengan istri dan anaknya menjadi obat dan penawar lelah yang begitu nyata.
Kedua orangtua Bening juga sudah kembali ke desa setelah satu minggu lebih berada di rumah besan untuk melihat dan sekalian menimang-nimang cucu pertama mereka. Sungguh bahagia meliputi Bening sekeluarga.
"Mas Gara, istirahat dulu. Mas Gara baru pulang loh dari perusahaan, kan capek. Apalagi Bening dengar dari papa, katanya perusahaan sedang ada masalah." Bening yang masih sedikit susah untuk berjalan sebab jahitan di area bawahnya itu, mendekati Gara sambil membuka dasi suaminya.
"Mas Gara gak capek, Sayang. Kangen kau dan Abimanyu selalu, jadi semangat setiap pulang ke rumah."
Bening tersenyum. Gara memang terlihat semakin berbahagia setelah jagoannya lahir. Ia selalu menemani Bening ketika malam, putera mereka itu terbangun. Hal yang paling membahagiakan di dalam hidupnya, memiliki keturunan dan diawali anak lelaki pula. Ia sangat bersyukur.
"Ya sudah, tapi mandi dulu ya. Bening sudah siapkan air hangat."
"Iya, Sayang. Tapi kau jangan terlalu banyak bergerak ya, Mas Gara takut nanti jahitannya sobek."
Bening refleks tertawa mendengar ketakutan suaminya itu. Bening lalu menggamit lengan Gara mesra.
"Gak akan robek, Mas Gara. Selama belum dimasuki," kelakar Bening membuat Gara jadi tersenyum sendiri. Benar, ia sangat rindu menjenguk Bening lewat bawah sana, tetapi ia tahu bahwa istrinya itu sedang dalam masa pemulihan. Cukup lama jadinya Gara harus berpuasa. Tapi tak mengapa, bisa sekedar mencium Bening saja rasanya sudah cukup saat ini.
"Kau bisa saja ya mengguraui Mas Gara seperti itu." Gara mencubit gemas hidung bangir Bening yang hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Mas Gara mandi ya, nanti bisa gendong Abi dan ajak jalan-jalan ke depan."
__ADS_1
Gara mengangguk cepat. Ia bergegas mandi dan Bening pergi ke kamar puteranya. Di sana ia melihat kedua mertuanya sedang bersama anaknya. Bening tersenyum melihat mereka.
"Sepertinya, cucu Mama lapar, Bening."
Bening melongo, dilihatnya bayi itu memang sedang mengerucutkan bibirnya, membuatnya jadi sangat lucu. Bening kemudian mengambil alih gendongan dan tuan besar segera keluar karena tahu menantunya akan mengasihi cucunya.
"Asimu lancar, Ning?" tanya nyonya besar penuh perhatian.
"Lancar, Ma, syukurlah."
Nyonya besar mengangguk. Dia juga sangat memerhatikan Bening pasca melahirkan, dari segala keperluan menghadapi empat puluh hari juga mengatur makanan yang boleh Bening makan dan tidak. Bening juga rutin mengkonsumsi daun katuk dan juga sayuran hijau lainnya agar produksi asinya selalu melimpah. Niatnya untuk mengasihi Abimanyu sampai dua tahun sudah terpatri, hanya saja ia tidak tahu apakah selama itu asinya akan selalu melimpah dan mencukupi kebutuhan sang putera.
Tubuh bayinya juga semakin berisi dan menggembul. Sampai hari ini pula, Gara dan Bening kebanjiran ucapan selamat dari para rekan-rekan dan sahabat. Bening sementara tidak masuk kuliah, sampai beberapa bulan ke depan atau mungkin dia akan mengambil cuti dan melanjutkan kuliahnya tahun depan.
"Kau belum bersiap pergi syuting?"
Yuki datang dari depan, membawakannya minuman hangat yang diterima dengan malas oleh Revi.
"Aku sedang tidak ingin keluar, Mbak."
"Loh, kau ini bagaimana sih, Rev? Hari ini kau ada jadwal syuting. Mbak mesti bilang apa sama sutradara kalau kau keseringan izin libur begini?"
"Apalah, Mbak, yang jelas sekarang aku lagi lesu. Lagi malas!"
__ADS_1
"Apa yang membuat kau seperti ini, Rev?" Yuki duduk di samping Revi yang matanya sudah mulai memerah.
"Mbak gak tahu sih gimana rasanya jadi aku. Aku kangen Gara, Mbak! Aku masih sangat cinta sama dia! Sekarang, perempuan keparat itu sudah melahirkan. Bagaimana aku bisa tenang, Mbak? Aku hanya ingin Gara kembali. Aku sangat mencintainya, Mbak. Aku kehilangan!"
Yuki menggelengkan kepalanya. Entah mesti berapa kali dia meyakinkan Revi bahwa Gara memang tak lagi ingin bersamanya. Mereka juga sudah bercerai dan ia masih tidak mengerti kenapa Revi masih begitu keras kepala dan menginginkan Gara yang sudah jelas-jelas menceraikannya.
"Sadarlah, Rev, kau dan Gara itu tak lagi punya hubungan. Gara sudah bahagia dengan Bening. Sekarang, anak mereka pun sudah lahir. Terima kenyataan kalau kau memang ternyata tak jodoh dengan Gara. Atau jodohmu dengan Gara memang sudah lama berakhir. Kalau kau tidak ikhlas dengan ini semua, hatimu akan terus sakit. Hatimu akan terus menyalahkan orang lain." Yuki berkata dengan lelah. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan Revi bahwa semua hal yang sudah terjadi tidak akan bisa dikembalikan lagi ke pengaturan awal. Gara sudah menentukan kemana jalan pulangnya dan itu jelas hanya kepada Bening saja.
"Gak, Mbak! Ini semua terjadi karena gadis kampung itu yang sudah merebut Gara dariku! Kalau saja dia tidak pernah datang ke rumah ibunya Gara, dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisiku!"
"Sekarang aku tanya sama kau, Rev, seandainya pun Bening memang tak ada, apa kau mau memberi Gara anak?"
Kali ini, Revi langsung diam, dia sendiri bingung harus menjawab apa. Yang jelas sampai detik ini dia belum bisa menerima dirinya dan Gara sudah berpisah.
"Aku mau, Mbak. Aku pasti mau memberikan Gara anak," jawab Revi kemudian.
Yuki lagi-lagi hanya bisa menggeleng, antara iba juga kesal dengan Revi. Kalau sedari dulu, Revi bersedia memberikan anak kepada Gara, tentu saja tak akan ada cerita seperti ini. Memang di sini, Revilah yang egois dan Yuki juga tidak bisa memberikan dukungan penuh kepada perempuan yang sudah resmi menjadi janda itu.
"Lalu kau mau gimana, Rev? Tidak ada lagi hubungan di antara kau dan Gara. Sudah, jangan keras kepala. Tanam di otakmu kalau Gara sudah menemukan kebahagiaannya bersama Bening. Sekarang, gantilah bajumu dan kita berangkat syuting."
Revi memandang Yuki dengan sedikit kesal tapi akhirnya dia melangkah juga ke dalam kamar dan segera mengganti pakaiannya. Di depan cermin Revi seolah bisa melihat kebencian di matanya setiap kali dia ingat Bening.
"Aku gak akan membiarkan kamu bahagia bersama suamiku, Bening! Kau tidak berhak merebut Gara dariku!"
__ADS_1
Revi mendesis lirih dan kesal, dia tidak akan pernah tinggal diam. Gara tetap lelaki yang paling dicintainya dan dia tidak suka Gara bahagia dengan Bening saat ini.