
Setelah melalui beberapa kali panggilan dari pengadilan akhirnya pada minggu ketiga ketika berkas perceraian telah diurus hingga selesai, Revi dan Gara duduk bersebelahan dan berjarak di depan hakim.
Mbak Yuki menemani Revi, ia duduk di belakang sementara Gara didamping Bening juga nyonya besar. Ada Nilam, tetapi gadis itu memilih berada di luar saja.
Revi tak henti menoleh kepada Gara, berharap Gara mengubah keputusannya meski ia sendiri merasa sangat mustahil dengan hal itu. Gara sudah menalaknya, lelaki itu hanya perlu putusan hakim untuk mensahkan perceraian itu secara hukum yang berlaku.
"Kau gugup, Bening?" tanya nyonya besar karena sedari tadi, Bening hanya menunduk saja. Tak pernah terbayangkan bahwa ia akan menjadi saksi perceraian suaminya dengan istri pertamanya.
"Ya, Ma. Sangat gugup."
"Rileks saja, semua sudah jadi jadi bagian dari takdir."
"Bening seperti merasa bersalah."
"No ... Hapus perasaan itu dari hatimu, Bening. Kau sama sekali tak bersalah."
Bening mengangkat sedikit wajahnya, lalu menoleh kepada nyonya besar dan menemukan segaris senyuman di wajah itu. Bening merasa lebih tenang sekarang. Ia kembali fokus mendengarkan semua putusan hakim.
"Pengadilan menyatakan tuntutan perceraian saudara Anggara Dewa terhadap Nona Revi Sela Aryani telah dikabulkan."
Putusan terakhir disertai ketuk palu sebanyak tiga kali itu disambut senyuman oleh Gara dan nyonya besar di belakang. Bening memejamkan matanya perlahan, lalu mengangkat wajahnya. Dilihatnya Gara sudah mendekat ke arah mereka. Gara memeluk ibunya lalu memeluk Bening erat dan lama.
"Kau satu-satunya, Bening," bisik Gara lembut.
__ADS_1
Bening mengangguk perlahan lalu menggosok punggung suaminya itu lembut. Namun, kemudian matanya dan mata Revi yang basah tapi berselimut dendam itu saling bertemu. Sesaat sebelum Revi meninggalkan ruang sidang, Yuki segera mendekatinya. Ia tahu, bagaimanapun saat ini, Revi sedang dilanda kesedihan.
Setelah keluar dari ruang sidang, di parkiran mereka kembali bertemu.
"Mas Gara, izinkan Bening bertemu sebentar dengan mbak Revi."
"Untuk apa, Bening? Kita sudah tak ada urusan apapun dengannya lagi."
"Tak apa, Gara. Biarkan Bening bertemu Revi sekali ini."
Akhirnya karena ibunya sudah berbicara begitu, Bening mendekati Revi. Dari kejauhan, Gara dan nyonya besar memantau.
"Mau apa lagi kamu menemuiku?" tanya Revi dengan wajah kusut.
"Karena kau aku berpisah dari Gara, Bening! Aku benci sekali kepadamu. Kau harus membayar mahal semua ini!"
"Mbak Revi, aku sendiri tidak pernah berharap perpisahan di antara Mbak dan Mas Gara terjadi. Aku benar-benar menyesal atas semua ini."
"Diamlah! Satu kata saja keluar dari mulutmu, seperti kiamat bagiku!"
Lalu tanpa diduga, Revi mendorong Bening hingga hampir saja Bening menghantam mobil di belakangnya. Gara dan nyonya besar yang melihat itu langsung mendekat. Nilam yang baru datang ke arah mobil pun segera membantu Bening.
"Mbak Revi tidak boleh begini, Mbak." Nilam berusaha menenangkan atasannya itu.
__ADS_1
"Cih! Kalian dua gadis kampung yang benar-benar membuat aku muak!"
"Hentikan ucapan kotormu itu! Jangan pernah berani menyentuh Bening lagi, kau akan tahu akibatnya jika berani melakukannya lagi!" ancam Gara yang sudah mendekat dan meraih jemari Bening.
Revi diam kemudian masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu Yuki di dalam. Yuki hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan Revi yang tak pernah mau mengalah dan selalu merasa dirinya benar.
Mobil Gara melewati mobil Yuki. Nilam hanya diam saja di dalam mobil itu. Revi pun tak lagi bersuara. Hanya ada dendam kesumat di kilatan matanya yang sempat basah.
"Terima kenyataan, Rev, Gara bukan suamimu lagi. Kau fokus saja dengan karirmu sekarang."
"Mbak Yuki tidak mengerti bagaimana rasanya jadi aku."
"Aku ngeri menjadi kau, Revi. Kau benar-benar keras kepala!"
"Aku tidak terima dikalahkan!" desis Revi tanpa mengindahkan kata-kata Revi barusan.
"Terserah kau saja, Rev. Ingat, sesuatu yang dipaksakan atau sesuatu yang memang tak ditakdirkan untuk kita maka sampai kiamat pun tidak akan pernah jadi milik kita. Jadi berhentilah sebelum kau menyesal lebih dalam lagi."
Revi memandang Yuki dengan kekesalan yang memuncak kemudian diam tak lagi menyahut. Yang jelas ia semakin membenci Bening. Revi mengepalkan tangannya, menghapus jejak airmata yang kembali tumpah dengan kasar dengan jarinya.
"Siapa bilang aku menyesal?!" tantang Revi sinis.
Yuki dan Nilam berpandangan, mereka tak mengerti jalan pikiran Revi. Mereka khawatir suatu saat Revi akan stress dan berakhir di rumah sakit jiwa jika selalu begini. Namun, mereka juga tidak bisa mengendalikan Revi yang keras kepala itu. Revi tak pernah menerima nasihat siapapun. Dia tidak pernah merasa salah, dia tidak pernah merasa harus menyesal.
__ADS_1