Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Mengusik Bening, Berhadapan dengan Gara!


__ADS_3

Mobil yang Gara kendarai melaju gila-gilaan membelah jalanan Jakarta. Tangannya terkepal siap menghantam siapa saja setelah ini. Lewat ponsel dia mengabarkan kepada para staff keamanan untuk menutup semua gerbang dan memastikan agar semua yang terlibat dalam kejadian yang berujung cideranya Bening, tetap di dalam kampus. Tak akan dibiarkannya para panitia ospek itu kabur.


Memang ada beberapa yang sudah berusaha untuk melarikan diri sebab tak ada yang tak mengenal Anggara Dewa. Sang pentolan kampus di masa lalu yang tak segan-segan menghantam rahang lawannya. Lewat cerita usang, mereka pernah mendengar sepak terjang Gara dulu dalam berkelahi. Kini mereka seperti sedang mengantarkan nyawa masing-masing ketika orang yang sudah lama menghilang dari dunia kelamnya kembali lagi.


Tidak ada yang akan lolos, Gara pastikan semua panitia yang lalai apalagi para tersangka yang ternyata tiga orang perempuan, senior Bening, bahkan para dosen sudah harap-harap cemas. Perusahaan raksasa milik keluarga Wibowo adalah perusahaan yang aktif berpartisipasi memberikan sponsor bahkan menjadi sandaran bagi kampus. Satu fakta yang selama ini coba Gara dan keluarga tutupi.


Jadi orang yang menyakiti Bening, jelas salah memilih lawan. Rosa tidak henti mencengkram lengan Dani, meminta pertolongan kepada pemuda yang juga nampak diam. Tiga orang yang bersalah, yang kena satu kampus!


"Mau pulang, Dan!" Rosa memekik ketakutan sementara Dani menepis tangannya jengah.


"Pulang gimana, hah?! Kamu gak lihat gerbang sudah ditutup dan dijaga! Makanya jangan asal pilih lawan!" Danu menggeram ingin rasanya dia tampar wajah Rosa bolak balik sangking kesalnya.


"Aku mana tahu bebek sawah itu istrinya pak Gara!"


"Makanya, cari tahu dulu!"


Rosa diam seribu bahasa. Terlebih ketika sebuah mobil mewah dengan sinar lampu menyoroti mereka semua yang sedang menunggu di depan klinik kampus. Seorang dekan dari fakultas teknik, segera mendekati Gara.


"Tuan Gara, tenangkan diri dulu. Kami mohon maaf atas kelalaian ...."


Gara mengibaskan tangannya, memberi isyarat kepada sang dekan agar jangan ikut campur. Rosa semakin menciut di belakang tubuh Dani. Para panitia beringsut mundur.


"Yang mana yang sudah mengusik Bening?" tanya Gara dengan suara datar tapi matanya menatap tajam semua orang di sana.

__ADS_1


"Pak Gara, kami minta maaf, kami ..."


"Tunjukkan orangnya! Kalau tidak, kalian semua yang menjadi panitia ospek aku pastikan tidak akan bisa mengikuti perkuliahan lagi!" ancam Gara.


Refleks mereka menunjuk Rosa yang sedang berlindung di belakang Dani.


"Minggir!" bentak Gara pada Dani.


"Ini salah paham, Pak."


"Istriku sekarang dirawat dan kau masih bisa bilang ini salah paham?!"


"Akulah yang bersalah. Aku yang sering melirik Bening hingga dia cemburu."


Orang-orang memberi isyarat kepada Danu untuk menyingkir. Dani mau tak mau menyingkir juga akhirnya. Gara memandang Rosa sedemikian dekat. Ditatap tajam oleh pria tampan dan garang itu membuat Rosa jadi terpesona sekaligus ketakutan.


"Apa yang kau lakukan kepada istriku?"


"Aku ... Aku tidak bermaksud mencelakainya. Aku ... "


"Dia sedang hamil. Kalau bayiku mengalami hal buruk karenamu, aku pastikan besok kau tidak akan bisa mengandung lagi! Mau aku obrak abrik perutmu?!"


"Cukup! Anda memang orang hebat tapi bukan berarti bisa menindas perempuan seperti itu!"

__ADS_1


Dani membuat Gara menoleh. Gara lalu tertawa menyeringai.


"Gadis ini apakah masih bisa disebut perempuan jika yang dilakukannya kepada istriku seperti preman pasar?! Tentu saja aku tidak akan memukulnya, tapi kau yang harus menggantikannya!"


Entah karena Dani benci pada Gara yang sudah berhasil mendapatkan Bening atau memang murni ingin melindungi Rosa, Dani menerjang Gara terlebih dahulu. Gara sigap, ia segera memberi pukulan menyakitkan, membuat Dani berdarah.


"Mas Gara! Cukup, Mas."


Gara berhenti, ia melihat Bening susah payah keluar dari klinik lalu memeluk Gara dari belakang. Dia menggeleng.


"Jangan, Mas Gara orang baik," kata Bening sambil memeluk erat Gara yang sudah dikuasai amarah.


"Balok kayu itu harusnya menghantam perempuan dan lelaki ini, Bening!" tunjuk Gara kepada Dani yang sudah terkapar dan Rosa yang hanya bisa menutup wajahnya dan menangis.


"Kita pulang saja, Mas Gara. Bening sudah tidak apa-apa."


Gara memandang Rosa lalu menunjuk wajahnya. "Kau selamat, perempuan labil!" desisnya.


Rosa hanya diam mematung, malu, marah dan ingin pergi saat itu juga. Gara memasukkan Bening ke dalam mobil. Ia sendiri pergi ke kantor para petinggi kampus.


Setelah keluar, para Dekan menghampiri para panitia ospek. Terlihat wajah para panitia ospek jadi lesu sekali. Entah apa yang sudah dikatakan Gara yang jelas pihak kampus terpaksa menskors semua panitia ospek dan Rosa harus membuat surat pernyataan yang ditempelkan di papan pengumuman bahwa dia sudah melakukan bully pada Bening dan telah menyesali perbuatannya.


Di dalam mobil, tatapan Gara menghangat. Ia membawa Bening sampai ke rumah lalu menggendong Bening yang masih lemah. Yang terpenting baginya, Bening cepat pulih. Hatinya sakit melihat Bening lemah begitu.

__ADS_1


__ADS_2