
Gara bertandang ke rumah nyonya besar sesaat setelah ia mengantar Bening pergi ke kampusnya. Nyonya besar menyambut kedatangan putera bungsunya itu dengan senyum seperti biasa. Nampaknya, nyonya besar baru saja selesai dari ruang pribadinya.
"Ada apa lagi, Gara? Mukamu itu loh, seperti sedang menahan beban berat."
Gara tertawa kecil lalu merangkul nyonya besar dan mengajak ibunya itu berkeliling rumah.
"Ma, ada yang mau aku bicarakan."
"Ngomong saja," sambut nyonya besar lagi.
"Ma, aku rasanya sudah mantap akan menceraikan Sela."
Mama menghentikan langkah, lalu memandang putera bungsunya itu sesaat sebelum ia menarik susah payah nafasnya sendiri.
"Sudah dipikirkan dengan matang?"
"Ya, aku sudah tidak ingin lagi terlibat hubungan apapun dengannya, Ma. Dan ada yang ingin aku bilang sama Mama dan papa juga, tentang kebenaran yang selama ini aku dan Sela sembunyikan."
"Apa, Gara?"
"Sebenarnya, Revi sudah tidak punya harapan besar bisa mengandung lagi, Ma. Aku melihat catatan medis terakhirnya waktu itu."
Nyonya besar nampak terdiam. Selama ini dia tahu Revi sengaja menunda kehamilan demi karirnya, tetapi soal kemungkinan Revi tidak bisa hamil lagi sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.
__ADS_1
"Kau serius?" tanya nyonya besar dengan tatapan sedikit tak percaya.
"Betul, Ma. Tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan dari pernikahan dengan Revi kemarin. Pernikahan itu tidak salah, yang salah adalah kami berdua. Revi yang egois dan aku yang tidak bisa tegas kepadanya saat itu."
Tatapan Gara yang menerawang membuat nyonya besar jadi iba. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan putera bungsunya itu. Ia menepuk-nepuk pundak Gara, berusaha memberikan kekuatan.
"Mama tidak ingin menghakimi kamu, Mama tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dulu, kalianlah yang ingin menikah karena sudah begitu yakin dengan perasaan masing-masing. Sayangnya, kadang memang firasat orang tua itu tak pernah salah, Gara. Tapi kembali lagi, sebagai orangtua, kami pasti akan mendukung apapun yang menjadi keputusanmu waktu itu. Meski pada akhirnya, kekecewaan pada Revi tak bisa Mama dan papa sembunyikan lagi ketika dia menolak memberi kau anak. Jadi, sekarang, ya sudah. Semua sudah terjadi, kau sudah memiliki Bening juga yang akan segera memberikan Mama dan papa cucu. Ya ... lakukanlah, Gara. Jika itu yang kamu yakini terbaik."
Gara menoleh kepada nyonya besar lalu meraih jemari ibunya itu, menggenggamnya dan meletakkannya di dada.
"Maaf ya, Ma, Gara sempat membuat Mama dan papa kecewa karena memilih orang yang salah."
"No problem, jangan dipikirkan. Apa yang membuat anak-anak Mama dan papa bahagia, maka kami juga akan ikut bahagia."
Nyonya besar memukul gemas lengan puteranya itu.
"Kau seperti remaja baru puber. Baru tahu jatuh cinta saja!"
Gara tertawa lebar mendengarnya. Ia kemudian bersandar di bahu nyonya besar yang setia menepuk-nepuk pundaknya.
"Nanti titip saja Bening di sini, kalau kau pergi ke luar negeri jangan biarkan dia sendiri di rumah."
Gara mengangguk, rencananya memang akan membawa Bening ke rumah ibunya saat ia akan berangkat kelak. Gara tersenyum, mengingat Bening yang begitu cantik yang dulu sering diperhatikannya diam-diam setiap ia bertandang ke rumah orangtuanya.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi cucu Mama?"
"Baik, Ma. Bening itu perempuan kuat, dia tidak ada lelahnya sama sekali. Tidak pernah merepotkan Gara, mandiri dan tidak banyak pinta."
"Orang desa seperti Bening datang ke Jakarta betulan untuk menantang nasib, Gara. Di desa sudah biasa bersusah payah, jadi ketika di kota yang keras, dia tak mudah menyerah dan tidak pula suka mengeluh."
"Mama suka tidak dia jadi menantu Mama?" tanya Gara lagi.
"Tentu, awal dia datang ke ruang pribadi Mama, Mama bisa melihat dia gadis yang istimewa. Dia cantik sekali tetapi malah memilih menjadi pembantu. Kerjanya juga rajin. Mama suka Bening."
Gara tersenyum lebih lebar mendengarnya. Setidaknya, Gara yang paling beruntung, dia bisa menjadi orang yang paling dekat dengan Bening hingga sekarang.
"Kau jatuh cinta betulan padanya, Gara?" tanya nyonya besar sambil memandang Gara yang hanya tersenyum penuh arti.
"Menurut Mama?"
"Ya, sepertinya sangat jatuh cinta. Untung kau bukan Gara yang dulu. Kalau tidak, pusing lah kepala Bening menghadapi tingkahmu."
Gara tertawa keras mendengar nyonya besar yang seketika mengingatkannya dengan dirinya yang dulu. Gara yang dulu seorang playboy yang suka main perempuan, suka berantem, suka bikin ulah di kampus. Sekarang sudah jadi lelaki penuh wibawa yang membuat bangga kedua orangtuanya.
"Aku akan segera menceraikan Revi, Ma. Sepulangnya dia dari luar negeri aku akan mengakhiri semuanya," ungkap Gara lagi dengan mimik yang kembali serius.
"Semua Mama serahkan padamu."
__ADS_1
Gara mengangguk, tak akan dia tunda lagi kalimat talak yang sudah di ujung bibir untuk Revi nanti.