
Katanya sebelum melahirkan, atau jarak satu bulan sebelum melahirkan, ibu harus banyak bergerak agar anaknya juga nanti lebih mudah menemukan jalan lahir. Atau kata lainnya, nanti ibu akan melahirkan anaknya lebih muda. Jadi tepat hari ini, minggu, pukul enam pagi, Bening dan Gara sudah berada di luar kompleks perumahan elit mereka. Keduanya sembari bergandengan tangan, berjalan mengelilingi area luar kompleks.
Banyak pula para penghuni lainnya juga sedang melakukan olahraga pagi. Mereka saling menyapa. Terkadang, Gara dan Bening akan berhenti untuk berbincang hangat dengan beberapa penghuni. Anak mereka yang pertama tentu saja masih tidur. Sekarang, Bening juga sudah memiliki seorang asisten rumah tangga selain pengasuhnya Abi.
"Udaranya sejuk ya, Mas Gara. Kadang, kalau Bening bangun sepagi ini, terus menghirup udara pagi di sini, jadi teringat suasana di desa. Bedanya, kalau di desa, akan ramai sekali bunyi cicit burung yang menyambut pagi kita."
Gara tertawa kecil mendengar hal itu. Ia tahu betul sebenarnya, Bening itu sedang kangen kampung halaman. Namun, Gara juga paham, jika Bening sengaja tak mau minta pulang kampung, selain mengingat kondisi kehamilannya yang sudah tua, juga ia tak ingin membuat Gara repot jika harus menemaninya di kampung halaman.
"Iya, tapi Mas Gara sudah lama sekali tidak berjalan-jalan pagi seperti ini, Sayang. Sekarang kalau olahraga pasti di dalam rumah kita sendiri karena sudah ada alat yang mendukung. Sekalinya keluar sudah terang benderang dan akan berangkat kerja. Jadi, bagi Mas Gara, pagi siang rasanya ya sama." Gara jadi terkekeh saat menimpali kata-kata istrinya itu.
"Betul. Untung ya, Bening sedang hamil, jadi Mas Gara bisa jalan-jalan pagi lagi. Bukan jalan di tempat di atas treadmill," balas Bening seraya tertawa.
"Bisa saja!" Gara mencubit gemas hidung mancung istrinya itu.
__ADS_1
Lalu keduanya kembali berjalan, lagi-lagi membalas sapaan beberapa orang yang tinggal satu kompleks dengan mereka.
"Kau kangen desa kan, Sayang?" tanya Gara sembari terus menggandeng jemari Bening.
Bening menoleh, lalu mengangguk pelan. "Hanya rindu, Mas Gara, tapi tak terpikir untuk kembali ke sana di saat-saat seperti ini kok."
Gara tersenyum mendengarnya. Ia tahu, Bening sedang menjaga perasaan Gara agar tak berpikiran macam-macam. Walau sebenarnya, di kehamilan kedua ini, Bening memang sangat memiliki keinginan yang lebih besar untuk berkumpul bersama keluarganya di desa.
"Bagaimana kalau dua minggu lagi kita ke sana?" tawar Gara kepada Bening.
"Mas Gara tak merasa seperti itu, Sayang. Ini murni karena Mas Gara juga rindu desa dan rindu keluarga kita di sana."
Bening tampak berpikir. Ia juga ingin sekali pulang ke desa. Makan masakan ibunya, bercerita panjang lebar dengan Dewi dan bapak. Namun, Bening tahu betul bahwa sekarang, jadwal Gara sedang padat-padatnya. Perusahaan mereka sedang membangun beberapa anak perusahaan yang memang butuh perhatian dari Gara sebagai pemimpin.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan pekerjaan Mas Gara. Apa gunanya, Mas Gara punya kaki tangan dan orang-orang kepercayaan jika masih saja harus turun tangan. Makanya, Mas Gara mengajakmu untuk pulang dua minggu lagi karena sekarang, Mas Gara memang masih disibukkan dengan banyak pertemuan. Tapi nanti waktu Mas Gara akan banyak senggang, dan kita bisa pulang ke desa dengan tenang."
Bening jadi menoleh lagi mendengar penuturan menenangkan itu dari suaminya.
"Benar tak masalah, Mas Gara?" tanya Bening tak enak hati. Terasa Gara semakin mempererat genggaman tangannya kepada Bening lalu sembari menoleh dia tersenyum pula dan mengangguk.
"Tak apa, Sayangku. Mas Gara tidak mau nanti kau terlalu banyak berpikir dan stress."
"Tapi, nanti mama keberatan kita balik ke desa, Mas."
"Mama biar jadi urusan Mas Gara ya."
Bening akhirnya mengangguk dan memeluk suaminya itu. Ibu mertua yang tak lain nyonya besar itu memang pasti akan sedikit keberatan dengan rencana kepergian mereka kelak, apalagi mengingat usia kandungan Bening sudah memasuki bulan akan melahirkan tak lama lagi. Namun, Gara juga pasti bisa meyakinkan ibunya itu untuk memberi izin mereka pergi.
__ADS_1
"Yakin, pasti mama mengerti, Sayang." Gara menenangkan Bening yang akhirnya mengangguk patuh.
Gara tersenyum, merangkul istrinya itu lalu berbalik arah untuk kembali ke rumah mereka. Sudah cukup jauh nyatanya mereka berjalan dan sepertinya Abi juga sudah bangun dari tidurnya. Mereka akan menghabiskan hari minggu ini dengan bersantai di rumah dan bermain bersama Abi. Sebentar lagi, mereka akan memiliki anak kedua, konon katanya perempuan pula. Sungguh, Gara merasa menjadi lelaki tak sia-sia, ia lelaki gagah, punya kedudukan tinggi juga seorang pria sempurna karena telah memiliki istri yang luar biasa di usianya yang masih sangat muda.