Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Jangan Lawan Batu dengan Batu


__ADS_3

Keras kepala, adalah dua kata yang sangat pas untuk menggambarkan Revi. Bening tentu paham bahwa perempuan itu tidak sepenuhnya rela Gara akan menikahinya. Ia juga mengerti, bahwa Revi ingin menjadikan Bening sosok yang abu-abu dalam hidup suaminya bahkan seluruh keluarga besar tuan Wibowo.


Namun, Bening tidak akan mempermasalahkan itu semua. Ia yakin, Gara nanti akan tetap memperhatikan dirinya setelah ia mengandung anak lelaki itu. Pun demikian Gara yang pasti paham maksud dan tujuan Revi meminta syarat seperti itu.


"Jadi, kapan kita bisa melamar Bening?" tanya nyonya besar kepada suami juga puteranya.


"Lusa, Ma. Kita akan berangkat ke Banjar untuk meminang Bening."


"Kau sangat bersemangat, puteraku," goda tuan Wibowo.


Revi sendiri memilih untuk keluar dari ruangan itu. Ia sekarang sudah berada di mobilnya. Biar saja, biar Gara dan Bening akan menikah, tetapi dia tidak akan membiarkan publik tahu tentang itu semua. Hanya dia satu-satunya istri Gara.


Revi melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan pelataran rumah megah nyonya besar. Kini, Bening dan Gara juga pamit untuk pulang. Nyonya besar menatap Bening dengan senyum kecilnya. Bening merasa beruntung, nyonya besar tidak menolaknya, meski ia tetap saja tidak enak hati.


"Kami pamit, Ma, Pa." Gara segera mengajak Bening untuk masuk ke mobil. Namun, ia membiarkan Bening berbicara sebentar dengan ibunya.


"Benar, Bening, kamu sudah mantap akan merelakan rahim kamu, menjadi tempat bagi cucuku nanti bersemayam?" tanya nyonya besar dengan segala harapan.


"Saya sudah memikirkannya dengan matang, Nyonya."


Nyonya besar mengangguk lalu Bening seperti biasa akan meraih punggung tangannya lalu menciumnya dengan takzim. Tuan besar memperhatikan Bening dengan seksama, ia tahu Bening adalah gadis yang sangat baik.


"Kabari orangtuamu secepatnya, katakan kepada mereka, kau akan kembali ke desa dengan membawa kami nantinya."


Bening mengangguk, meski ia kini dihantui rasa cemas. Entah apa tanggapan ibu dan bapak yang akan mendengar dia yang akan segera menikah itu.


Bening sudah terlanjur dan dia tidak akan mundur lagi. Saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Gara, di perjalanan, mereka kembali dikuasai oleh hening.


"Kenapa tadi menyetujui keinginan Sela?" tanya Gara setelah cukup lama ia diam.

__ADS_1


"Percuma, Tuan. Percuma membalas batu dengan batu, yang ada nanti malah jadi semakin pecah."


Gara menoleh menatap Bening yang menatap lurus ke depan. Ia mengangguk dan setuju dengan kata-kata Bening barusan.


"Lagipula, benar juga apa yang dikatakan nyonya muda. Tuan Gara menikahi saya hanya karena ingin mendapatkan anak."


Gara diam. Apa yang dikatakan oleh Bening barusan, bisa jadi benar separuh atau seluruhnya. Namun, dia tertarik dengan Bening. Itu jelas. Tapi Gara tak mau mengatakannya.


Mereka diam lagi sampai akhirnya tiba di rumah. Tidak ada mobil Revi terparkir. Gara yakin, Revi pasti sudah sibuk dengan kegiatan modelingnya. Hal itu kini tak lagi mengusik Gara. Sudah sering dikecewakan oleh Revi, membuat hatinya kebas sempurna. Bagai tak ada rasa, melihat Revi rasanya tak lagi dia anggap sesuatu yang istimewa.


"Tuan, aku akan memasak, tadi aku tidak sempat memasak karena kita harus pergi."


"Tidak usah, Bening. Masuk dan istirahatlah, aku sudah memesan makanan dan sebentar lagi akan segera diantar. Aku menunggumu di meja makan."


Bening akhirnya mengangguk, ia akan memanfaatkan waktu sembari menunggu makanan mereka datang dengan menelepon ayah dan ibunya. Bening segera pergi ke kamarnya. Ia mulai melakukan sambungan telepon.


"Iya, Nak. Baru saja Bapak mau telepon, ternyata kau sudah menelepon duluan. Perasaan Bapak tidak enak, Ning. Kau baik-baik saja?" Terdengar nada cemas dari bapak di ujung telepon membuat Bening menarik nafasnya panjang.


"Baik, Pak. Ehmmmm ... Ada hal yang ingin Bening sampaikan ke Bapak."


"Ada apa, Nak? Sepertinya penting sekali."


"Ya, Pak."


"Kalau begitu, katakanlah, Ning."


"Ehmmmm ... Bapak bersama ibu?" tanya Bening lagi.


"Tidak, Ibu lagi ke warung, beli beras."

__ADS_1


"Pak, lusa nanti, Bening akan pulang ke desa."


"Loh, kamu udah dapat cuti Ning?" tanya Bapaknya heran.


"Bukan, Pak, Bening akan membawa calon suami Bening. Bening akan dilamar."


Hening.


"Ning, jangan becanda sama orangtua!" sergah bapak.


"Sungguhan, Pak."


"Ning ... Kamu masih muda, Nak. Kenapa tidak pikir-pikir dulu."


"Bening sudah sangat yakin, Pak. Bening juga ingin menghormati nyonya besar dan anaknya yang sudah begitu baik kepada Bening. Bening harap, Bapak dan ibu bisa menerimanya ya."


Diam-diam, Gara mendengar itu dari balik pintu kamar Bening. Lelaki tampan itu hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Dia malah semakin mantap untuk menjadikan Bening sebagai istrinya. Ia mengetuk pintu kamar Bening tepat setelah Bening mematikan sambungan telepon.


"Tuan?" Bening menyapa heran karena Gara datang dengan kotak makanan di tangannya.


"Kita makan di sini saja, Bening."


"Tapi ..."


"Buka saja pintunya. Meskipun kata mama aku brengsek, tapi aku tidak mungkin akan memaksamu sekarang."


Mendengar itu, Bening jadi tersipu malu. Mau tidak mau ia mempersilakan Gara untuk masuk dan mereka makan di atas lantai dingin kamar itu.


Bening makan dengan pelan dengan Gara yang diam-diam melihatnya. Hati Gara sejuk sekali, rasanya tak sabar ingin menjadikan Bening sebagai istrinya. Gara belum bisa menjabarkan bahwa dia sesungguhnya telah jatuh cinta, tapi dia suka Bening? Ya, dia suka Bening. Setidaknya untuk saat ini, dia suka Bening layaknya lelaki tertarik kepada seorang perempuan.

__ADS_1


__ADS_2