Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Suami Ngidam?


__ADS_3

Ini hari ketiga Bening berada di rumah sakit. Kondisinya sudah sangat baik. Kelelahan juga sudah teratasi dengan bedrest total dan juga vitamin yang diberikan dokter. Anjuran dokter untuk tidak banyak pikiran juga sudah ia terapkan. Gara menjadi suami yang paling siaga. Siang malam menemani Bening di rumah sakit.


Bening kedatangan kedua orangtuanya juga Dewi. Adiknya sedang ada pemeriksaan di rumah sakit besar Jakarta dan sekalian pula menjenguk Bening. Sudah lama Bening tak mengobrol panjang lebar dengan adiknya itu.


"Mbak Bening bagaimana keadaannya sekarang. Selama ini, Dewi yang sakit, sekarang dengar Mbak Bening masuk rumah sakit, Dewi jadi khawatir. Apalagi bapak dan ibu." Dewi menggenggam jemari Bening. Bapak dan ibu sedang berbincang dengan dokter yang menangani Dewi di ruangannya.


"Alhamdulillah sudah baik, Wi. Mbak tak apa-apa. Hanya kelelahan. Ini kehamilan kedua Mbak memang cepat lelah. Beda dengan waktu hamil keponakan pertamamu." Bening menyahut sambil tersenyum.


"Jangan lelah-lelah ya, Mbak. Cukup Dewi yang sakit-sakitan. Selama ini juga Mbak Bening sudah berkorban banyak. Jangan sampai fisik juga sakit. Kita di desa jadi kepikiran."


Bening mengelus lembut jemari adiknya itu. Ia mengangguk lalu tersenyum. Dilihatnya sekarang Dewi sudah jauh lebih segar. Tubuhnya sudah lebih berisi. Kulitnya pun sudah mulai cerah tak seperti dulu saat sakit keras.


Lalu tak lama kemudian, Gara datang. Ada banyak tentengan yang dia bawa. Gara membawa banyak makanan karena dia ingin menjamu mertuanya juga adik ipar yang baru datang dari desa untuk menjenguk Bening.


"Wah, sedang bergosip ya?" tanya Gara ramah. Dewi menoleh lantas membalas sapaan dari kakak iparnya itu dengan senyum sopan.

__ADS_1


Ini kali pertama Gara melihat Dewi secara jelas. Betul yang Bening bilang, adiknya itu memang sangat menderita selama ini. Namun, Gara tahu, Dewi pasti merasa sangat beruntung karena mendapatkan kakak sebaik Bening yang rela mengorbankan segala hal untuk keluarganya, terlebih untuk dia yang dulu sakit keras.


"Iya, sedang menggosipi Mas Gara yang makannya banyak sekali akhir-akhir ini," gurau Bening, disambut tawa oleh Gara.


Gara mendekati Bening, lantas mencium kening istrinya itu tanpa malu di depan adik iparnya. Tak lama kemudian, kedua orangtua Bening masuk ke dalam ruang perawatan. Gara menyambut mereka dengan senyuman.


"Nak Gara, maaf, Ibu dan Bapak baru bisa datang sekarang. Beberapa hari ini ada masalah di perkebunan. Beberapa pegawai kita terlibat perkelahian sampai ada yang masuk rumah sakit." Bapak mendekat dan Gara mengangguk paham. Ia segera mengajak kedua mertuanya itu untuk duduk bersamanya di sofa yang ada di ruangan luas itu.


"Apa masalahnya, Pak? Kalau seandainya memang hanya menjadi racun bagi yang lain, mungkin akan lebih baik jika diberhentikan saja. Saya justru mengkhawatirkan Bapak dan Ibu sebagai pemilik perkebunan. Takutnya nanti malah jadi ancaman pegawai yang sifatnya seperti itu."


Gara mengangguk, ia juga mulai besok sudah mempersiapkan satu orang kepercayaannya untuk tinggal di desa itu mengawasi perkebunan dan membantu mertuanya sekaligus menjadi pelindung.


"Ngomong, ini Nak Gara beli banyak sekali makanan." Ibu tersenyum melihat menantunya.


"Iya, Bu, kebetulan, nafsu makan saya sekarang jadi meningkat pesat. Saya juga suka heran. Kemarin benar-benar ingin makan bubur kacang merah. Mencari kemana-mana yang jualan tidak ada. Jadi ini pesan katering dan diantar banyak."

__ADS_1


"Kalau begitu nanti sebagian dibagikan saja kepada perawat dan dokter yang ada di sini, Nak Gara."


Gara mengangguk. Bening sendiri jadi heran dengan suaminya itu. Memang akhir-akhir ini, Gara juga kerap menginginkan makanan tertentu. Biasanya tak pernah seperti itu.


"Mas Gara ada kepengen makan apalagi? Biar nanti Bening coba carikan."


"Ada, Sayang, dari kemarin juga pengen sekali makan donat kentang. Kemarin Mas Gara cari tidak ada yang jual."


"Oalah, Nak Gara, kalau donat kentang memang musti bikin sendiri. Orang jarang jualan. Ibu saja yang bikinkan untuk Nak Gara ya. Nanti kan kebetulan Ibu mau singgah ke rumah kalian."


Gara tersenyum lalu mengangguk. Bening hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya itu. Gara seperti dia yang sedang hami. Malah boleh dikatakan, ia tak terlalu sering ngidam kalau ngidam juga paling hanya beberapa makanan tertentu. Namun, berbeda dengan Gara. Suaminya itu malah sering sekali meminta makanan tertentu.


"Kalau kata orang dulu, Gara itu ngidam. Istrinya yang hamil, tapi dia yang ngidam."


Semua orang menoleh, terlihat nyonya dan tuan besar baru masuk ke dalam ruangan. Abi berada di gendongan tuan besar sementara tentengan kue donat kentang itu sekarang ada di tangan ibunya sendiri. Mama mertua Bening itu ternyata melihat postingan anaknya di salah satu aplikasi chat. Jadi dia inisiatif membuatnya bersama pelayan di rumah siang tadi dan membawanya sekarang. Suasana hangat meliputi keluarga besar itu. Gara sudah sibuk menyantap donat kentang dan bubur kacang merahnya. Sementara Bening sedang berbincang bersama Dewi dan kedua orangtua bersama besan masing-masing sedang asyik membicarakan banyak hal. Suasan anya akrab sekali, membuat Bening mensyukuri segala nikmat yang sudah dilimpahkan oleh Tuhan sang pemilik kehidupan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2