
"Masih seberapa jauh, Ning?" tanya Gara sambil terus mengemudi. Matanya melirik sesekali Bening yang nampak tenang. Darah Gara berdesir, ia baru kali ini merasa begitu gugup ketika akan meniduri seorang perempuan. Bening juga sepertinya tak begitu tenang, tapi dia berusaha untuk tetap rileks di tempatnya duduk sekarang.
"Ada belokan tak jauh dari simpang pertigaan itu. Mas Gara masuk ke sana ya."
Gara mengangguk saja, tak mampu menjawab dengan kata-kata sebab ia sekarang sedang mati-matian menahan hasratnya sendiri. Gara sendiri bingung, dulu bersama Revi dia tidak seantusias ini. Padahal dulu Revi sangat istimewa baginya meski perempuan itu menikah dengannya dalam keadaan tak lagi tersegel.
Sekarang, Gara jauh lebih berdebar. Entah apa yang mendorongnya merasakan itu semua. Perasaan aneh yang membuatnya ingin segera menguasai Bening, di atas tubuh gadis itu.
Gara segera memarkirkan mobilnya di parkiran penginapan. Beberapa staff penginapan itu melongok heran melihat mobil mewah parkir di penginapan mereka.
"Mau pesan kamar, Mas?" tanya pelayan penginapan, Gara mengangguk.
"Kamar yang luas dan ada AC nya ya." Gara memilih tempat yang nyaman untuknya dan Bening.
"Harganya beda dengan yang biasa loh, Mas." Pelayan itu mengingatkan, Gara memandangnya jengah lalu mengeluarkan uang merah berlembar-lembar.
__ADS_1
"Wah, ini kelebihan, Mas." Pelayan itu nyengir kuda.
"Ambil aja," ucap Gara cepat sembari meraih kunci yang sudah diserahkan oleh staff penginapan. Gara segera menggandeng Bening, membawanya segera ke kamar dengan nomor yang sudah tertera di gantungan kunci.
Para staff melongo, melihat kelebihan uang tapi kemudian mereka bersorak senang. Gara dan Bening mendapatkan kamar tepat bersebrangan dengan danau. Kamar mereka besar, dilengkapi AC seperti keinginan Gara.
Setelah Gara mengunci pintu. Bening masih berdiri mematung. Bening bingung dia harus bagaimana. Apa langsung berbaring atau harus apa dulu. Menyadari kegelisahan Bening, Gara mendekat. Ia sudah membuka jas pengantinnya, menyisakan celana saja. Bening menahan nafas, melihat otot-otot perut lelaki itu. Tiba-tiba saja, alam bawah sadarnya bereaksi, membuat Bening merasakan gejolak yangs seketika terbakar begitu saja, apalagi sekarang, Gara sudah mendekati Bening.
"Aku sudah boleh membukanya kan?" tanya Gara sambil menatap Bening dengan lembut. Bening mengangguk, membiarkan Gara memutari tubuhnya lalu mulai membuka resleting kebaya yang melekat di tubuh Bening. Harum perawan itu mengusik Gara seketika, bisa Gara rasakan, area bawah tubuhnya perlahan bangun dan mengeras. Terlebih ketika ia mulai bisa melihat punggung mulus dan putih milik Bening.
Gara menelusurinya, menghadirkan sensasi menggelitik untuk Bening yang baru pertama mengalaminya. Lalu, kebaya itu perlahan terbuka sempurna, lolos dari tubuh Bening yang sudah setengah polos. Gara kemudian membuka resleting rok Bening, melorot hingga ke bawah menyisakan celana d*lam berenda berwarna hitam pekat.
Lalu saat Gara mulai menjelajahi bagian depan yang tak lagi terhalang bra. Padat dan pas ditangannya, terasa mengencang sempurna Kala Gara mulai memberi sentuhan nakal di sana.
"Mas ..." Tanpa sadar, Bening mulai mendesah. Gara semakin liar menggerakkan tangan dan jemarinya.
__ADS_1
"Kau sangat indah, Sayang," bisik Gara tanpa bisa menahan gejolak dalam dirinya sendiri. Terasa kejantanan Gara begitu keras dan tegak di belakang Bening.
Gara membalikkan tubuh Bening, menghadap dirinya lalu menggendong menuju ranjang. Mata sayu Bening membuat Gara tak sabar untuk segera memasuki gadis itu. Perlahan, Gara mulai merebahkan Bening yang kedua bukit indahnya sudah menegang sempurna dan tampak bulat itu.
Gara berada di atas Bening, mereka saling bertatapan lalu kembali menyatukan bibir yang masih rindu untuk saling bergelung. Gara tak sampai di situ, ia terus memberikan pemanasan agar Bening siap menerima dirinya saat waktunya masuk nanti. Ia begitu lihai melakukannya. Tanpa sadar Bening mulai melenguh, membuat Gara semakin bersemangat.
"Tahanlah, Sayang, ini akan sedikit sakit." Gara mulai mengarahkan pusakanya, masuk perlahan. Sempit sekali. Terlalu sempit. Bening menggigit bibirnya ketika Gara mulai menerobos lebih dalam.
"Sakit, Mas!" Bening memekik tertahan, Gara segera memberikan kecupan di bibir Bening yang sekarang sudah mengeluarkan airmata. Terasa sesuatu di bawah sana robek sempurna, disertai aliran darah yang melumasi pusaka Gara setelahnya.
Gara mengecup mata Bening yang terpejam itu bergantian. Perlahan ia menaikkan ritme permainan. Yang tadinya sakit kini terasa mulai nikmat bukan kepalang. Bening melenguh hebat, membiarkan Gara menguasai dirinya sepenuhnya saat ini.
Lelaki itu sempat menghentikannya, menariknya dari Bening dan melihat darah di seprai penginapan itu. Ia tersenyum lantas segera memberi kecupan lagi dan kembali memacu Bening bersamanya.
Hingga tiba saatnya ketika sudah terasa di ujung, Gara melepaskan sempurna benihnya di dalam tubuh Bening yang ikut mengejang menerimanya. Gara menahan tubuh Bening yang menggelinjang, lalu kembali menatap Bening dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih Bening, Sayangku."
Bening mengangguk, lalu memeluk Gara erat dengan lelaki itu yang segera membalasnya.