Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Check Up!


__ADS_3

Karena tak tenang dengan keadaan kandungan Bening, Gara akhirnya mengajak istrinya itu pergi ke dokter selang beberapa jam setelah mereka tiba di rumah. Bening sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja tetapi Gara bersikeras untuk membawa Bening.


"Kata dokter yang tadi menangani Bening di klinik kampus, Bening tidak apa-apa, Mas Gara."


"Itu dokter umum, bukan dokter kandungan, Sayang. Udah, kita periksa lagi aja ya. Biar yakin."


Bening akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya menuju ke mobil. Bening sudah berpakaian rapi dan sopan sedang Gara pun sama segar dengan penampilannya yang terlihat semakin maskulin.


"Mas Gara, maafkan Bening ya," kata Bening ketika mereka sudah di dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Gara menoleh, melihat Bening yang tampak menunduk dengan wajah bersalah. Gara tersenyum lalu mengulurkan jemari dan mengelus pipi Bening lembut. Bagaimana dia bisa marah dengan Bening?


"Untuk apa minta maaf, Sayang? Kau gak bersalah."


"Bening membuat semuanya kacau. Seandainya Bening menurut untuk tidak ikut ospek."


"Bukan salahmu, Sayang. Kalaupun Bening tidak ikut ospek, apa itu tetap akan merubah pandangan gadis gila itu? Karena yang benci akan tetap membenci dengan alasannya sendiri."


Bening mengangkat wajahnya lantas segera menoleh ke arah Gara yang memang sedang fokus menatap dirinya sambil menyetir.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas Gara."


Gara mengangguk, kemudian dia menenangkan Bening dengan segaris senyuman hangat. Palang rumah sakit sudah terlihat, Gara bergegas melajukan mobilnya dan memasuki halaman rumah sakit itu.


Bersama Bening kemudian dia turun menuju ruangan dokter kandungan. Gara dan Bening tanpa menunggu lama langsung dipersilahkan masuk oleh perawat jaga di depan. Di dalam mereka disambut oleh dokter kandungan yang tersenyum ramah.


"Jadi bagaimana bisa terbentur perutnya, Nona Bening?" tanya dokter kandungan sembari mempersiapkan alat untuk memeriksa.


"Iya, Dokter, Bening jatuh, perutnya terhempas ke tanah," jawab Bening tanpa membawa kejadian sebenarnya siang tadi.


"Baiklah, rileks ya, kita lihat dulu bagaimana kondisinya."


Bening mengangguk, ia segera berbaring. Dokter mulai meletakkan alat yang telah diolesi gel ke perut Bening yang masih nampak rata itu. Kemudian benda itu bergerak turun naik dan samping kanan kiri. Terdengar bunyi keadaan perut dari monitor juga terlihat sesuatu di layar yang hanya dimengerti oleh dokter.


"Aman kok, Pak Gara. Keadaan bayi dalam kandungan istri anda sangat aman. Memang, pada beberapa kasus, benturan kuat pada perut bisa mengakibatkan terjadinya flek hingga keguguran dini. Tapi beruntung fisik Nona Bening cukup kuat. Janinnya juga baik-baik saja. "


Barulah Gara bisa bernafas lega. Ia memandang Bening yang tersenyum kecil dengan Gara membalasnya. Kemudian Bening turun dari ranjang pemeriksaan. Mereka mengobrol sebentar seputar kehamilan Bening dengan dokter. Dokter meresepkan vitamin penguat bagi kandungan.


Setelah keluar dari ruangan dokter kandungan, Bening dan Gara pergi ke kedai eskrim tak jauh dari lokasi rumah sakit. Bening menikmati eskrimnya dengan lahap. Gara melihatnya dengan senang hati, sesekali mengusap kepala Bening dengan lembut. Lembut merasa sangat diperhatikan. Gara tidak lagi bertindak sebagai lelaki yang kebetulan hanya membeli rahimnya, tapi juga sudah seperti suami sungguhan, tanpa ada embel-embel kesepakatan di dalamnya.

__ADS_1


"Mas Gara, boleh Bening bertanya satu hal?" tanya Bening. Tampak ragu tapi kemudian tetap melontarkan pertanyaan.


"Tanyakan saja, Sayang."


"Mas Gara, apa salah kalau Bening berharap banyak dari pernikahan yang sejatinya hanya sebatas kesepakatan ini?" tanya Bening lirih.


Gara mengangkat wajahnya dari keasyikan menyantap es krim, ia melihat mata polos yang segera menunduk.


"Kau ingin tahu apa sebenarnya isi hatiku, Bening?"


"Ya ..." Bening menjawab semakin lirih.


"Bagaimana kalau aku ingin membatalkan semua kesepakatan itu? Aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan hanya sebatas perempuan yang menyediakan rahim. Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Bening."


Bening hampir terlonjak gembira dan haru mendengar pengakuan itu. Namun, ia tidak ingin besar kepala, juga sekaligus mulai menyesali pertanyaannya barusan tadi. Apa dia tidak terlalu egois? Bukankah Gara sudah mewujudkan cita-citanya untuk membahagiakan orang tua dengan menukar rahimnya sendiri sebagai jaminan kebahagiaan untuk Gara? Apa dia mulai terlihat tak tahu malu dan maruk ingin memiliki Gara seutuhnya? Namun, Bening pun sama, seiring kebersamaan juga perhatian dan penyatuan yang kerap Gara beri nyatanya telah membangkitkan rasa yang kekal untuk lelaki tampan itu. Gara sang pemilik kehormatannya, lelaki pertama yang menyentuh tubuhnya hingga menyentuh sampai ke dasar hati. Mereka saling mencintai.


"Bagaimana dengan mbak Revi, Mas? Apa mbak Revi ikhlas berbagi dan hidup berdampingan dengan Bening selamanya?" tanya Bening sendu.


Gara tak langsung menjawab, ia nampak menerawang. Sekelebat bayangan pernikahan tak sempurna dengan Revi di masa lalu mulai menguasai.

__ADS_1


"Ingin sekali aku menceraikannya, Bening. Bukan semata-mata karena sudah ada kau di sisiku, tapi karena aku sudah terlalu sakit setiap kali mengingat harga diriku yang tergadai sebagai seorang suami yang tak pernah dihormati selama pernikahan kami."


Kali ini Bening yang diam. Dia tidak pernah berharap Gara akan menceraikan Revi, sebab dia tahu, dia bukan satu-satunya wanita yang mencintai Gara, tetapi Revi adalah yang pertama dan juga sangat mencintai Gara. Hanya saja, Revi tak seperti Bening, yang telah membuat Gara jatuh cinta sedalam-dalamnya.


__ADS_2