
Revi syuting dan pemotretan hari ini dengan tidak tenang. Dia tidak fokus dan beberapa kali harus mendapat teguran dari sutradara. Berkali-kali juga lupa skenario. Revi duduk di bangku khusus kru dan pemain film. Ia memijit pelipisnya, kepalanya dipenuhi beban pikiran tentang Gara yang mesra dengan istri baru.
"Fokus, Rev!" Mbak Yuki datang sembari menghempaskan skrip film ke atas meja di samping Revi, membuatnya jadi terlonjak dsn seketika sadar dari lamunan yang lebih didominasi oleh rasa benci berkepanjangan.
"Sorry, Mbak. Aku memang lagi gak bisa fokus. Tapi nanti aku coba buat lebih fokus ya." Revi berkata dengan lelah sambil terus memijit keningnya.
"Masalahmu itu apa sih, Rev? Kau bisa gak jangan bawa masalah apapun ke lokasi syuting? Karirmu lagi cemerlang, tawaran dari segala penjuru datang terus, akan sangat sayang kalau mereka melihatmu tidak profesional. Dari tadi mas Rudi juga udah tegur, mestinya kau bisa lebih fokus," ucap Yuki dengan tegas sembari menyebut nama sutradara Revi saat ini.
Revi mendengus sebal tapi dia tidak bisa protes karena memang sadar bahwa dia salah karena sudah membawa masalah rumah tangganya ke lokasi syuting.
"Oke, Mbak, aku pasti fokus sekarang."
Revi bergegas menuju tempat syuting lagi dengan lebih fokus. Akhirnya setelah sempat berkali-kali cut, Revi bisa kembali serius dengan pekerjaannya.
Setelah selesai syuting, Revi mencoba menelepon Gara. Dia bermaksud untuk mengajak Gara pergi ke mall. Tetapi berkali-kali panggilan teleponnya tidak diangkat. Revi mendecak sebal, Gara sangat sulit untuk dihubungi saat ini.
"Gara-gara gadis sialan dan kampungan itu, aku jadi kehilangan Gara! Kau harus menerima akibatnya!" Revi mendengus sembari menatap jalanan dari dalam mobilnya sendiri.
Di kediaman nyonya besar sendiri saat ini, Bening baru saja selesai memasak untuk makan malam nanti. Dia juga sudah menyampaikan kepada nyonya besar bahwa ia akan segera mendapatkan pengumuman mengenai lolos tidaknya dia dalam seleksi pertama penerimaan mahasiswa baru kelak.
"Tapi akan ada test, Ma," kata Bening yang sekarang sedang memijat nyonya besar di pinggir kolam renang.
"Kau pasti bisa, Mama dengar kau dulunya adalah murid yang cerdas," balas nyonya besar dengan mata terpejam.
"Semoga, Ma. Bening janji akan rajin belajar lagi."
"Ya, tapi jangan lupa juga kau harus bisa membagi waktu antara belajar dan melayani suamimu." Nyonya besar mengingatkan kepada Bening yang segera mengangguk.
__ADS_1
"Bening mengerti, Ma."
Asih lewat di depan mereka. Tatapannya menghunus ke arah Bening. Bening mengabaikan dengan tetap fokus memijat ibu mertuanya itu. Asih semakin iri saja karena Bening sebentar lagi juga akan kuliah.
Asih mulai menaruh kecurigaan kepada Bening yang begitu mudahnya diterima oleh nyonya besar dan juga tuan muda. Jadi ketika Asih melihat Revi bertandang ke rumah megah itu selepas syuting, ia segera mendekat ke arah Revi. Revi benci Bening, pasti perempuan itu mudah untuk diprovokasi.
"Nyonya muda," panggil Asih kepada Revi yang tengah bersandar di tiang teras luas rumah itu sambil memainkan ponselnya. Ia memang sengaja berada di sana untuk menyambut Gara lebih dulu kelak.
Revi mengerutkan dahi, menatap tak tertarik dengan Asih yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Revi malas.
"Ada yang mau saya kasih tahu ke Nyonya muda dan ini tentang Bening."
Revi menoleh lalu memberikan perhatiannya kepada Asih yang merasa menang kali ini.
"Nyonya sadar tidak, sepertinya ada yang tidak beres dari Bening."
"Maksudmu apa sih? Jangan berbelit-belit begitu!" sergah Revi kesal.
"Begini, Nyonya muda. Kalau menurut saya, Bening itu memakai guna-guna atau pelet, sebab aneh saja jika semua orang di rumah ini menyukai dia. Sepertinya, dia memakai pelet untuk memikat tuan muda."
Guna-guna?
Revi tak percaya tentang hal mistis semacam itu, tetapi saat ia mendengar itu dari Asih, tak urung dia merasa mungkin hal itu benar adanya.
"Kamu melihat perempuan itu?" tanya Revi kepada Asih yang segera mengangguk. Revi masuk ke dalam dan seperti kata Asih barusan, Bening pasti sudah selesai memijat ibu mertuanya karena sulit untuk bangun.
__ADS_1
Bening sedang menyiram tanaman ketika Revi menyentak Bening membuat selang yang Bening pegang jatuh terhempas.
"Ada apa ini, Nyonya muda?" Bening mengikuti langkah Revi yang menyeretnya ke belakang rumah hingga tak ada yang melihat mereka.
"Katakan dan jujur, kau sudah mengguna-guna suami dan mertuaku kan?! Agar kau bisa mendapatkan simpati dari mereka!"
"Nyonya salah, saya tidak sehina itu sampai memakai ilmu hitam untuk menarik simpati orang lain. Demi Tuhan saya tidak melakukannya."
"Alah! Kau pasti membawanya dari desamu kan?! Kau memang iblis, Bening!"
"Saya tidak melakukannya, saya tidak seperti itu Nyonya!" Bening berontak saat Revi mulai mengambil pasir dan hendak meraupnya ke wajah dan mulut Bening.
Bening meronta sekuat tenaga tetapi Asih menahan tangannya membantu Revi menyakiti Bening. Sampai akhirnya suara Gara menggelegar membuat Revi dan Asih refleks melepaskan Bening, membuat Bening terhempas ke atas tanah.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA ISTRIKU?!!" Gara berang. Nyonya besar setengah berlari bersama para pelayan lain. Nyonya besar menutup mulutnya, melihat Bening yang wajahnya sudah kotor oleh pasir.
"Gara ... Dia memakai pelet! Dia sudah mengguna-guna kamu agar berpaling dariku."
Gara melangkah cepat, lalu tanpa Revi duga, Gara melayangkan tamparan keras di wajahnya. Wajah Revi memerah, matanya berkaca-kaca. Sakit pipinya. Asih gemetar ketakutan.
"Kau! Angkat kaki dari rumah ini!" Gara menunjuk Asih yang seketika lemas.
Nyonya besar mendekat lalu membawa Bening, ia menggeleng melihat Revi sekilas tetapi tidak mengatakan apapun. Gara segera menyusul mama yang sudah membawa Bening ke dalam.
"Apa yang kalian lihat?! Bubar!" Revi berteriak dengan berang ke arah semua pelayan termasuk Asih yang hanya bisa diam seribu bahasa.
"Bening tidak seperti itu, Mas Gara. Bening tidak pakai pelet. Agama jelas melarang hal itu dan Bening sangat takut menyekutukan Tuhan dengan ilmu sihir." Bening berkata pelan, nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Gara segera meraih Bening, memeluknya erat sekali hingga pasir yang belum sepenuhnya hilang di wajah Bening, menempel sempurna di kemeja kerjanya. Revi sudah keterlaluan, Gara harus mengambil tindakan tegas kepada perempuan itu.