Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Issues


__ADS_3

Hampir dua bulan Bening menjadi anak kuliahan. Menjadi seorang mahasiswi di fakultas bisnis dan kini banyak yang mulai mengenalnya, apalagi sejak peristiwa Gara datang bak hero yang mengancam siapa saja yang berusaha untuk menjahati istrinya itu. Perut Bening juga sudah mulai nampak membuncit, meski belum terlalu besar tapi jelas ia tak bisa lagi memakai celana jeans.


Bening memakai dress simpel khas anak muda yang membuatnya semakin enak dipandang. Hubungan dengan Nilam sampai hari ini masih terjalin. Nilam pun masih bungkam tentang kedekatannya dengan Bening di depan Revi, semata-mata tak ingin Revi murka dan membuat semua yang sedang baik-baik saja saat ini jadi rumit.


Meski kerap sekali, Nilam harus tahan kuping mendengar Revi mengumpat menyebut nama Bening berulang kali. Namun, meski Bening masih punya keluarga dan Nilam yang mendukung, berbeda halnya dengan orang-orang kampus yang sering menggunjing dirinya akhir-akhir ini.


"Duh ... Hasil melakorin suami orang, perutnya udah kelihatan gede ya."


Bening menoleh sesaat, melihat mahasiswi dari fakultas lain yang kebetulan sedang berdiri di depan mading kampus, berseru, tetapi wajahnya menghadap lain seolah ia tidak membicarakan Bening. Bening diam saja, memang pernikahan yang tersembunyi kemarin akhirnya malah membawa cerita yang berujung fitnah begini.


Namun, di fakultasnya sendiri, tak ada yang berani mengusik Bening. Mereka tidak mau jadi sasaran kemarahan Gara. Bening juga berusaha untuk tetap tidak memperdulikan omongan miring orang-orang tentang dirinya.


Jika diladeni, maka orang akan berpikir bahwa itu memang benar. Bening tidak merasa merebut Gara. Tapi Gara lah yang datang membawa penawaran dan akhirnya malah di antara mereka tumbuh rasa cinta. Jadi, pernikahan itu bukan tentang kesepakatan lagi.


"Kau nampak murung hari ini, Bening. Apa ada yang mengganggumu?" tanya Gara kepada Bening setibanya Bening di dalam mobil.


Bening lantas segera menoleh lalu memberikan senyum terbaik kepada suaminya itu.


"Hanya sedikit lelah, Mas Gara."


"Apa kau sakit, Sayang?" Gara menempelkan tangannya ke kening Bening. Memang sedikit panas. Agaknya, Bening jadi sedikit stress karena issue panas yang menerpanya belakangan ini. "Kau demam, kita ke dokter ya."

__ADS_1


Tanpa membantah, Bening segera mengangguk. Biarlah Gara membawanya untuk periksa sekalian memantau perkembangan bayi mereka. Sampai di rumah sakit, Gara segera membawa Bening untuk periksa.


"Bagaimana istri saya, Dokter?"


"Mbak Bening ini tidak apa-apa, hanya sedikit banyak pikiran sepertinya akhir-akhir ini. Betul begitu?"


Bening tersenyum lantas mengangguk cepat. Gara meraih jemari Bening lantas menggenggamnya erat.


"Vitaminnya ditambah saja ya, juga usahakan jangan banyak pikiran dulu," kata dokter itu ramah. Bening tersenyum lagi lalu mengangguk. Keluar dari ruangan dokter, Bening dan Gara kembali bergandengan.


Telepon Gara berdering kemudian, telepon dari Revi. Gara mengabaikannya, membuat kedua alis Bening jadi bertaut.


"Kenapa tidak diangkat, Mas Gara?" tanya Bening heran.


Bening mengangguk. Sebelum kembali, mereka mampir ke sebuah rumah makan. Gara tak mengizinkan Bening untuk memasak dulu, bahkan setibanya di rumah dia langsung menelepon tukang laundry untuk mengambil pakaian kotor. Gara kemudian mengupas buah lalu diberikannya kepada Bening yang menerimanya dengan senang hati.


"Masam tidak?" tanya Gara saat melihat Bening mengunyah jeruk yang baru saja dia kupas dan memakannya dengan lahap.


" Manis, Mas Gara, enak."


Gara mengusak rambut Bening lalu perlahan jemarinya turun ke perut Bening. Gara mengelusnya dengan lembut sekali.

__ADS_1


"Apa dia nakal?" tanya Gara sambil menunjuk bayinya yang masih bersemayam dengan nyaman di dalam perut Bening.


"Tidak, dia sangat baik."


"Karena Mamanya juga baik," lanjut Gara.


"Karena Papanya memperlakukan Mamanya dengan baik juga," sambung Bening.


Gara tersenyum lebar, Bening selalu bisa membuatnya bahagia hanya dengan kata-kata saja.


Sejenak, masalah di kampus mulai bisa Bening lupakan. Namun, keesokan harinya saat Bening baru saja menjejakkan kakinya di kampus, ia melihat banyak mata memandangnya. Bening merasa tak enak, dan ketika ia telah melewati papan pengumuman,ia melihat fotonya terpampang dengan artikel yang sudah ditempel berisi berita bahwa Bening telah menjadi seorang pelakor.


"Siapa yang menempelnya?"


Bening tetap berusaha tenang, ia mencabut satu persatu kertas itu lalu membuangnya. Bening menghindari tatapan menghakimi.


"Ternyata, suaminya yang tampan itu adalah suami Revi Selan Aryani ya? Dia kan model dan artis yang lagi naik daun. Duh, bisa-bisanya gadis sepolos dia jadi pelakor."


"Iya, pasti demi hidup enak. Kasihan sekali dengan Revi."


"Iya, kalau aku jadi Revi, sudah aku seret dia ke polisi!"

__ADS_1


Suara-suara sumbang itu membuat langkah Bening jadi semakin cepat. Dari kejauhan, Dani hanya diam tak bisa menolong. Meski ia tahu cerita yang sebenarnya. Bening sendiri hanya bisa diam sepanjang hari. Entah siapa yang sudah menyebarkan berita itu. Hanya segelintir orang yang tahu kisah segitiga mereka. Revi? Tapi Revi mati-matian tidak ingin publik tahu bahwa dia punya madu. Nilam? Tak mungkin!


__ADS_2