Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Sidang


__ADS_3

Dua minggu berlalu, dengan sudah hamil tetapi belum begitu menonjol, Bening masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa dengan tak merasa apapun. Hanya saja seperti kehamilan-kehamilan sebelumnya, rasa mual di pagi hari masih sering menyerang di trimester pertama kehamilan itu. Namun, tak sampai menghambatnya beraktivitas.


Sekarang, Bening sudah merampungkan skripsi, dari dosen pembimbing sudah dapat pula kapan dia akan di sidang. Beberapa hari lagi ia akan melaksanakan sidang jadi beberapa malam ini, Bening juga fokus untuk mempelajari skripsi yang sudah dibuat olehnya.


Malam ini, Gara melihat Bening ketiduran di depan meja laptopnya. Kepalanya tampak menelungkup, dengan beberapa buku. Gara mendekati Bening, disusunnya buku itu kembali dengan perlahan agar Bening tak terbangun dan tak terganggu tidurnya.


Lalu diangkatnya tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Gara menyelimuti Bening, mengecup keningnya kemudian mematikan lampu untuk lalu ikut masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk Bening hingga pagi menjelang.


Pagi hari sekali, Bening terbangun dan menyadari bahwa Gara sudah memindahkannya ke ranjang mereka.


"Pagi, Mas." Bening mengecup kening Gara, membuat suaminya itu terbangun.


"Pagi, Sayang. Sudah bangun duluan." Gara bergumam.


"Iya, Mas. Aku ketiduran ya semalam?"


"Iya, Sayang. Makanya Mas yang pindahkan ke sini. Kasihan, kecapean. Nanti jangan terlalu diporsir, gunakan waktu siang hari untuk lebih fokus belajar ya."


Bening mengangguk.


"Ya, Mas, aku juga mau baca-baca di perpustakaan kampus rencananya hari ini."

__ADS_1


"Oke, Sayang, kita mandi dulu ya, habis itu sarapan baru Mas antar ke kampus."


Bening mengangguk, keduanya lalu masuk ke kamar mandi, saling membersihkan diri satu sama lain dan sedikit bermesraan pagi itu.


Bening keluar lebih dulu dari kamar mandi, ia menyiapkan baju Gara untuk kerja dan lalu mengganti pakaiannya sendiri. Setelah itu, ia pergi ke kamar kedua anaknya. Mentari sudah bangun dan sekarang sudah cantik karena sudah mandi, tapi Abi sendiri masih tidur. Bening tak mau mengganggu tidur anak sulungnya itu.


"Anak Bunda sudah cantik." Bening segera menggendong Mentari yang tertawa lucu. Ia membawa puterinya itu ke bawah, menyuap makanan sambil bercanda sembari menunggu Gara turun untuk makan bersama.


"Nyonya, biar saya yang teruskan."


"Tak apa, Mbak. Mbak makan saja sana dulu sama bibi. Mentari sama aku aja. Lagian Abi juga masih tidur."


"Baik, Nyonya. Terima kasih.".


"Eh sudah bangun anak Ayah. Mana Abangnya?"


"Masih tidur, Mas."


"Ya sudah, biarkan saja Abi tidur dulu jangan dibangunkan."


"Iya, Sayang." Bening menjawab sambil mengangguk. Kemudian ia sarapan bersama Gara sedangkan Mentari diambil alih oleh pengasuhnya Abi.

__ADS_1


Selepas sarapan dengan diantar Gara, Bening sampai di kampusnya. Sudah cukup ramai universitas ternama itu karena memang banyak para mahasiswa mahasiswi yang juga sedang mempersiapkan sidang mereka. Sebagian lain malah sudah kebagian sidang hari ini.


Bening segera masuk ke perpustakaan, ia akan fokus belajar di siang hari sedang malam hanya mengulang sekilas. Ia sedang hamil muda, tak boleh terlalu banyak pikiran.


Selepas beberapa hari, kini giliran Bening yang akan disidang. Ia akan menghadapi beberapa dosen dengan didampingi dosen pembimbing. Bening memakai kemeja putih dengan blazer hitam juga bawahan rok hitam selutut pula.


Selama menjawab pertanyaan dosen, Bening beberapa kali harus memutar otak tetapi syukurlah ia bisa melewati sidang dengan baik. Ia berharap lulus dengan nilai yang baik.


"Lancar?" tanya Gara sembari menatap Bening yang sedang merilekskan diri. Rupanya Gara setia menunggu istrinya itu hingga selesai sidang hari itu.


"Syukurlah, Mas, cuma tadi sempat kesulitan menjawab beberapa pertanyaan dari dosen penanya."


"Tapi sudah terlewati, Sayang. Sekarang, harus banyak istirahat ya, Mas yakin nilaimu pasti memuaskan."


"Aamiin ... Mungkin Mas bisa temani aku makan es krim?"


"Dengan senang hati, Ratuku."


Gara mengerling ke arah Bening yang segera mencubit gemas pipi suaminya itu. Gara bersama Bening meninggalkan halaman kampus yang luas itu. Selama masa kehamilan ketiga ini, Gara hanya berharap semoga Bening tidak terlalu kalah seperti sebelumnya karena ia tidak tega melihat istrinya selalu kelelahan setiap hamil.


Bening juga lebih kuat kehamilan ketiga ini, mungkin karena sudah belajar dari kehamilan pertama dan keduanya. Ia tak sabar ingin segera wisuda untuk fokus dengan kehamilan ketiga juga mengurus keluarga kecilnya itu.

__ADS_1


"Oke sudah sampai. Makan sepuasnya, Sayang."


Bening tersenyum lalu bersama suaminya itu menikmati waktu berdua di sela kesibukan mereka masing-masing. Sebisa mungkin mereka melakukan hal-hal kecil tapi berarti agar kehidupan rumah tangga selalu harmonis.


__ADS_2