
"Daripada kau membuat ulah di rumah kedua orangtuaku, lebih baik aku mengantar kau pulang malam ini juga." Gara segera menarik lengan Revi menuju mobil ketika malam sudah di angka sepuluh.
Bening sendiri sudah mengungsi ke kamar lamanya. Dia merasa tak enak hati sebab Revi selalu mengusirnya ketika dia masuk ke kamar Gara. Sempat pula Gara mendengar Revi kembali mendebat Bening.
"Gak mau, Gara! Aku ini istri kamu juga!" sergah Revi sembari berusaha melepaskan cengkraman Gara di tangannya.
"Jangan egois! Kau sendiri yang tak suka jika Bening satu rumah denganmu, aku sudah membawanya ke sini, tapi kau masih berulah juga! Maumu apa sebenarnya?!" sentak Gara kehilangan sabar.
"Aduh!!! Cuma Tuhan yang tahu gimana rasanya Mama lihat kalian setiap hari bertengkar terus! Ini sudah malam, Revi, Gara! Keluar saja kalian dari sini kalau masih terus-menerus berdebat atau Mama panggilkan satpam untuk menyeret kalian berdua keluar!"
Dari lantai atas, nyonya besar berseru sambil berkacak pinggang. Papa hanya mengabadikan moment itu sembari makan buah apel. Dia juga sama pusingnya dengan nyonya besar tetapi lebih memilih untuk diam menyaksikan saja.
Bening sendiri hanya diam membisu di kamar lamanya. Dia tidak ingin keluar dari sana daripada membuat Revi semakin berang dan perang antara Gara juga istri pertamanya itu jadi semakin pecah.
"Aku anterin dia balik, Ma." Gara berkata tak enak hati kepada mamanya yang sudah berbalik dan masuk ke dalam kamar.
Revi sendiri tidak bisa membantah lagi. Ia takut Gara semakin marah dan malah menjatuhkan talak kepadanya. Jadi, sekarang dia hanya diam, ada banyak sekali pesan dan telepon dari managernya yang mencarinya kesana kemar karena Revi mangkir dari pemotretan untuk produk kosmetik juga tidak hadir syuting film.
Setelah sampai di rumah, Gara langsung membawa Revi ke dalam rumah. Revi menyentak lengan lelaki itu.
"Aku juga berhak atas kamu, Gara!"
__ADS_1
"Aku penuhi semuanya, Sela. Uang bulananmu selalu aku transfer tepat waktu, mengapa masih keras kepala?!"
"Aku butuhnya kamu, aku maunya kamu yg temenin aku!"
"Alah! Kemana kau selama ini Sela Aryani? Dulu aku mengemis meminta waktumu, sekarang giliran aku susah membebaskanmu dan menemukan seseorang yang bisa memberi aku semua itu, kau malah menempel seperti ini! Jalani saja profesimu itu! Syuting sana!" kesal Gara kepada Revi yang hanya bisa diam dengan pandangan menyesal.
"Gara ..."
Suara bel menghentikan kata-kata Revi seketika. Gara segera ke depan dan melihat manager Revi sudah menunggu di sana.
"Cari Revi? Ada, masuk saja!"
"Mbak Yuki." Revi mengusap tengkuknya. Ia sendiri merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini memang sengaja mangkir dari kewajibannya sebagai model dan pemain film.
"Kita harus bicara, Rev, kau benar-benar keterlaluan."
Revi tertunduk lalu mempersilahkan managernya untuk duduk.
"Aku bakal balik kerja lagi besok, Mbak. Aku janji."
Revi merasa tertekan sekali. Profesinya sekarang betul-betul sudah membuatnya kehilangan banyak hal termasuk cinta Gara untuknya, tetapi mau mundur juga percuma. Dia sudah terikat kontrak.
__ADS_1
Gara sendiri sekarang masih di mobil. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mengeluarkan sesuatu yang terlipat dua dari kantung saku celana. Sebuah amplop dari rumah sakit yang mengusik rasa penasarannya.
"Apa ini?
Gara bergumam pelan sembari menilik setiap bahasa medis yang tertera. Namun, ia terpekur saat melihat sebuah pernyataan yang berbunyi bahwa Revi tidak bisa lagi mengandung karena rahimnya bermasalah.
Gara menerawang, Revi sengaja tak memberitahunya hal ini. Setelah dulu dinyatakan sehat luar dalam tapi Revi malah menunda kehadiran anak sekarang Tuhan benar-benar mencabut nikmat mengandung tersebut.
Gara juga merasa bodoh karena dulu begitu mudahnya mengizinkan Revi menunda kehadiran anak di antara mereka. Akhirnya semua jadi kenyataan.
Gara terkenang Bening, ia berharap sekali dalam beberapa minggu ke depan, mereka bisa mendengar kabar membahagiakan itu.
"Bening, kau lah harapan aku sekarang." Gara mendesah kecewa, bertahun-tahun dia membodohi diri sendiri karena terlalu memikirkan Revi yang bahkan tidak pernah memikirkannya.
Gara kembali ke rumah orangtuanya. Bening membuka pintu kamar lamanya saat Gara pulang dan terdengar menunggunya di depan.
Gara langsung menarik Bening ke dalam rengkuhannya lalu ia menggendong Bening, membawanya masuk ke dalam lift menuju kamar mereka. Gara hanya ingin bercinta dengan istri keduanya itu.
"Mas Gara mau?" tanya Bening penuh pengertian. Gara mengangguk lalu membiarkan Bening memberikan servis terbaik untuknya yang sudah berbaring telentang.
Bening dan Gara bertatapan lalu kembali menyatukan mahkota mereka dalam keremangan malam. Cahaya rembulan masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka, menjadikan siluet yang indah, dua insan dalam penyatuan panjang dan sarat akan cinta.
__ADS_1